
Pagi Hari di Kediaman Satrio (Ayah Dinda)
Dinda baru saja selesai mandi namun ia sudah mendapat panggilan telepon sebanyak tiga kali.
"Din, bisakah kita berangkat ke sekolah bersama?" tanya Leo.
"Apa kamu tidak bisa berangkat sendiri, Leo?" Dinda balik bertanya.
"Kali ini saja, Din." sahut Leo.
"Oke. Bagaimana? Aku yang ke rumahmu atau.." tanya Dinda yang langsung disela oleh Leo.
"Aku saja yang ke rumahmu." timpal Leo.
"Baiklah, terserah. Alamatnya sudah kukirimkan di chat WhatsApp, ya. Sampai nanti." sahut Dinda.
"Oke, sampai nanti." kata Leo.
"Dinda.. Benarkah?" gumam Leo saat membaca alamat rumah Dinda yang tadi sudah dikirimkan ke chat WhatsApp Leo.
...****************...
"Silahkan naik, Dindaku yang manis." kata Leo setelah membuka kaca mobilnya.
"Leo!" seru Dinda. Pipinya benar-benar merah karena malu.
"Hahaha. Aku hanya bercanda." sahut Leo sambil tertawa. Setelah Dinda masuk, Leo terlihat tersenyum bahagia.
"Baiklah, kita berangkat sekarang." kata Leo sambil menginjak gasnya.
"Din." panggil Leo setelah suasana hening yang tercipta di antara mereka berdua cukup lama.
"Iya?" sahut Dinda.
"Kamu suka lagu Ariana yang mana saja?" tanya Leo sambil memutarkan lagu 7 rings yang memang sebelumnya ia sudah tahu Dinda menyukainya.
"Aku suka semuanya." jawab Dinda.
"Semuanya?" tanya Leo sambil menatap Dinda.
"Iya. Aku tau aku memang agak lebay soal Ariana tapi begitulah." jawab Dinda sambil tersenyum tipis.
"Gapapa. Aku ngerti." sahut Leo sambil tersenyum.
"Kalau kamu, Leo? Kamu juga menyukai Ariana, 'kan?" tanya Dinda sambil menatap ke arah Leo.
"Iya." jawab Leo.
__ADS_1
"Kapan kamu mulai menyukainya?" tanya Dinda.
"Sejak.." jawab Leo yang tiba-tiba tidak bisa mengutarakan kalimatnya kepada Dinda.
Sejak seseorang yang adalah ayahmu memutarkan lagu itu di hadapanku dan berkata bahwa putri bungsunya yang manis sangat menyukai Ariana. batin Leo sambil menghela napasnya.
"Leo?" panggil Dinda setelah Leo terdiam cukup lama.
"Ah, iya. Kenapa?" sahut Leo.
"Tadi aku bertanya.." kata Dinda.
"Oh, by the way, apa kamu bisa keluar nanti sore?" tanya Leo berusaha mengalihkan perhatian karena pertanyaan yang tadi Dinda tanyakan tidak bisa ia jawab.
"Bisa." jawab Dinda sambil mengecek kalender di HPnya.
"Bagaimana jika kita ke cafe yang di dekat sekolah?" tanya Leo.
"Boleh. Jam berapa?" tanya Dinda.
"Kamu maunya jam berapa?" tanya Leo.
"Jam.. berapa aja boleh." jawab Dinda.
"Oke. Jam 7, ya." sahut Leo.
...****************...
Kring.. Kring.. Kring..
Bel pulang sekolah pun berbunyi. Sekarang sudah pukul 18:00. Dinda akan bertemu Leo di cafe dekat sekolah jam 19:00. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk belajar di sekolah selama satu jam.
"Dia belum pulang? Kenapa?" gumam Ryan saat melihat Dinda yang duduk sambil membaca buku pelajaran di kursi lobi sekolah.
"Kenapa cuma memandanginya?" tanya Viona yang tiba-tiba muncul disamping Ryan.
"Viona!" teriak Ryan. Ia memang terkejut, tetapi, ekspresinya tetap datar.
"Samperin dia kalau kamu memang menyukainya dan ingin mengungkapkan perasaanmu. Jangan malu atau kesempatanmu akan hilang. Kamu tahu Dinda juga murid yang selevel denganmu." kata Viona sambil mengedikkan bahunya.
"Selevel?" tanya Ryan yang berusaha mencerna kalimat Viona.
"Kamu dan dia sama-sama incaran siswa dan siswi di sekolah ini. Bahkan kalau ada siswa dan siswi dari sekolah lain yang datang berkunjung ke sekolah ini juga mungkin akan menyukai kalian." sahut Viona.
"Terus?" tanya Ryan.
"Ryan, kamu benar-benar tidak peka. Apa kamu mau dia direbut oleh orang lain?" tanya Viona sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak. Aku memang ingin menyatakan perasaanku." jawab Ryan.
"Kalau begitu pergilah sana. Aku mendukungmu, Ryan." kata Viona sambil tersenyum. Sejujurnya, Viona masih belum bisa move on dari Ryan. Tapi, ia tahu ia tidak bisa memaksa Ryan untuk menyukainya.
"Terima kasih, Viona." sahut Ryan sambil tersenyum. Ini pertama kalinya bagi Ryan tersenyum di depan Viona.
"Sama-sama." kata Viona.
"Kenapa masih belum ke sana? Kamu malu karena ada aku? Aku akan pergi. Jadi, pergilah ke Dinda." kata Viona saat melihat Ryan yang tidak yakin.
Setelah Viona pergi, Ryan pun berjalan mendekat ke arah kursi lobi dimana Dinda duduk.
"Din." panggil Ryan.
"Ryan?" tanya Dinda cukup terkejut. Namun, satu detik kemudian ia langsung menutup buku yang sedang ia baca dan meletakkannya di dalam tas punggungnya.
"Aku mau bicara." kata Ryan.
"Oh, ada apa?" tanya Dinda.
"Din." kata Ryan.
"Iya?" tanya Dinda sambil mengepalkan kedua tangannya. Sejujurnya, ia gugup setiap berada di dekat Ryan.
"Aku.." kata Ryan.
"Ehem, aku.." kata Ryan mencoba mengumpulkan niat untuk memberanikan diri.
"Kenapa?" tanya Dinda sambil menatap mata Ryan.
"Sebenarnya, aku menyukaimu." jawab Ryan dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Apa?" tanya Dinda terkejut.
"Aku.." kata Ryan sambil menatap mata Dinda.
"Iya, kenapa?" sahut Dinda.
"Aku.. tau ini tidak masuk akal, tapi, aku memang menyukaimu." kata Ryan yang pandangannya masih sambil menatap Dinda.
"Hah?" tanya Dinda. Ia juga jadi bingung kenapa Ryan menatapnya seperti itu.
"Aku salah bicara, ya?" tanya Ryan. Suasana menjadi sangat canggung saat ini.
"Tidak." sahut Dinda cepat sambil mengalihkan pandangannya dari wajah Ryan.
"Ryan, maafkan aku." kata Dinda sambil menatap kedua mata Ryan.
__ADS_1
Bersambung......