
“Leo?” sahut Ryan agak terkejut. Ia tidak menggubris pertanyaan Leo yang tadi.
“Melihat Dinda disentuh meskipun cuma tangan oleh laki-laki lain, seperti apa rasanya?” tanya Leo sambil menatap mata Ryan. Ia ingin tahu seberapa besar sebenarnya rasa cinta Ryan kepada Dinda.
“Gak ada urusannya sama kamu ‘kan?” balas Ryan tidak acuh.
“Kamu selalu seperti itu,” sahut Leo datar.
“Seperti apa?” tanya Ryan tanpa menatap Leo. Pandangannya masih tertuju ke arah Dinda dan Ronald di depan kelas XI D.
“Seperti…” jawab Leo. Ia belum menyelesaikan kalimatnya namun Ryan sudah meninggalkannya begitu saja. Leo mencari-cari ke arah mana Ryan pergi. Dugaannya benar, Ryan pergi menemui Dinda setelah Ronald sudah pergi dari sana.
“Sudahlah, lebih baik kamu pergi dan tidak menganggu mereka, Leo,” kata Leo kepada dirinya sendiri. Ia segera membalikkan badannya untuk pulang dari arah lain.
“Kamu udah baikkan?” tanya Ryan sembari mengangkat tangan kanannya untuk merapikan poni Dinda lalu melihat luka yang tadi ada di dahi kekasihnya.
“Udah, makasih ya tadi kamu udah nganterin aku ke UKS,” jawab Dinda sambil tersenyum.
“Hmm, sama-sama,” kata Ryan sambil memandangi wajah Dinda dengan begitu intens.
“Luka kamu harus dikompres dua kali lagi nanti pas pulang. Kalau perlu, sebelum pulang aku beliin obat dulu di apotek,” imbuhnya.
“Gak usah, aku gapapa kok,” sahut Dinda.
“Hmm, aku tetep bakal beliin buat kamu,” kata Ryan.
“Ngomong-ngomong, lain kali gak usah anterin aku ke UKS sampai digendong juga,” kata Dinda dengan wajahnya yang datar.
“Hmm,” sahut Ryan. Ia benar-benar tidak tertarik untuk berbicara apa pun pada saat ini.
Orang ini kenapa sih cuma hmm aja jawabannya, untung pacar sendiri, batin Dinda. Saat ini, ia yang kebingungan untuk mencari topik pembicaraan lain.
“Kamu udah mau pulang?” tanya Dinda.
“Kalau kamu?” sahut Ryan yang balik bertanya.
“Aku mau ke taman,” jawab Dinda.
“Aku ikut,” balas Ryan.
*****
Di taman sekolah
“Kamu suka banget ke sini?” tanya Ryan penasaran.
__ADS_1
“Iya,” jawab Dinda sambil mengangguk.
“Kenapa?” sahut Ryan.
“Aku suka liat bunga-bunga yang ada di sini,” kata Dinda sembari menunduk untuk melihat Bunga-bunga Mawar yang indah dengan jarak yang lebih dekat.
“Bunga Mawar Merah atau Putih?” tanya Ryan sambil mengamati kedua bunga yang ada di hadapan Dinda saat ini.
“Aku lebih suka yang warna putih, tapi aku juga suka yang merah,” jawab Dinda sambil bangkit berdiri seperti semula.
“Kamu tau apa arti Bunga Mawar Putih?” balas Ryan.
“Ketulusan, kesucian, kedamaian, dan kemurnian dari sebuah cinta sejati,” sahut Dinda sambil tersenyum.
“Semoga cinta kita bisa kayak gitu,” gumam Ryan pelan. Namun, suara itu masih bisa didengar oleh Dinda.
“Aku bisa aja kalau kamunya mau,” sahut Dinda tanpa menatap ke arah Ryan.
“Aku pasti mau, kamu cukup tunggu aku ngelamar kamu aja, oke?” tanya Ryan sambil memegang tangan kanan Dinda yang ada di samping tangan kirinya. Dinda yang mendengar pernyataan itu langsung salah tingkah.
Kenapa jantung kamu harus berdebar kenceng kayak gini? Kamu harus tenang, Din! Omongan laki-laki belum tentu bisa dipercaya, bentak Dinda pada dirinya sendiri dalam hati.
“Kamu kenapa?” tanya Dinda saat melihat ekspresi gugup Ryan untuk pertama kalinya.
“Kamu tadi keliatan gugup,” jawab Dinda.
“Oh, ya?” sahut Ryan.
“Tangan kamu keringetan,” kata Dinda membenarkan fakta yang ada di depan matanya saat ini.
“Mungkin aku terlalu Sayang sama kamu,” ucap Ryan sambil menaikkan kedua alisnya dan menunjukkan senyumannya.
Ini orang masih bisa-bisanya ngegombal, gerutu Dinda dalam hati.
“Sayang,” panggil Dinda.
“Hmm, kenapa, Sayang?” sahut Ryan.
“Sebenernya kamu itu kenapa?” tanya Dinda dengan wajah cemberutnya.
“Aku gapapa,” jawab Ryan.
“Kamu tuh dari tadi kok jawabnya cuma hmm aja, kamu sebel sama aku?” tanya Dinda yang tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.
“Engga, Sayang,” kata Ryan mengelak.
__ADS_1
“Terus kenapa?” sahut Dinda.
“Aku sebelnya sama Ronald,” jawab Ryan datar.
“Ronald? Kenapa? Karena dia yang bikin aku luka? Dia udah minta maaf…” kata Dinda mencoba menjelaskan.
“Justru itu, dia pegang tangan kamu tiga menit tadi!” sela Ryan dengan wajahnya yang mulai memerah karena emosi. Tapi, ia berusaha tetap menahan nada bicaranya seperti semula agar tidak menyinggung Dinda.
“Hah? Kapan?” tanya Dinda kaget.
“Saat kalian bersalaman,” jawab Ryan pelan.
“Tiga menit?” gumam Dinda.
Hah, gila ya dia, menitnya pun dihitung! teriak Dinda dalam hati.
“Ri, dia itu cuma mau mastiin kalau aku udah maafin dia, tapi gak ada apa-apa antara aku sama dia,” Dinda mencoba memberikan penjelasan dengan nada selembut mungkin.
“Aku tau, Sayang,” jawab Ryan sambil menatap ke arah mata Dinda.
“Terus kenapa lagi masalahnya?” tanya Dinda sambil menghela napasnya dalam-dalam.
“Aku cemburu, Sayang,” jawab Ryan jujur.
Hah? Aduh, tiga menit doang masa udah cemburu? Aku harus jawab apa? tanya Dinda panik.
“Hmm, lain kali gak bakal aku ulangin lagi kok,” sahut Dinda.
“Aku tau kalau aku egois soal cinta, Sayang. Maaf kalau kamu gak nyaman sama sifat aku. Aku takut kehilangan kamu,”kata Ryan menjelaskan apa yang dirinya rasakan saat ini.
“Gapapa, Sayang, aku ngerti kok. Kamu gak usah gelisah ya,” sahut Dinda berusaha menenangkan perasaan khawatir di pikiran Ryan.
“Tapi aku masih sebel, Sayang,” balas Ryan.
“Terus kamu mau ngapain?” tanya Dinda pasrah.
“Peluk kamu,” jawab Ryan dengan santainya.
“Hah?” tanya Dinda terkejut.
“Pelukkin kamu, boleh gak?” sahut Ryan sambil membuka kedua lengannya ke depan untuk bersiap memeluk Dinda.
Yaudahlah ya, yang penting sekarang dia gak sebel lagi, gumam Dinda dalam hati.
Bersambung……
__ADS_1