
Sore hari di sekolah
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Dinda, Amanda, dan Ayu keluar dari kelas bersama-sama. Untuk menuju ke lobi sekolah, mereka harus melewati koridor di samping lapangan terlebih dahulu. Namun, saat mereka bertiga berjalan di dekat lapangan, tiba-tiba ada bola basket yang mendarat tepat di kening DInda.
“Din! Kamu gapapa?” tanya Ayu yang langsung panik saat melihat kening Dinda mulai bengkak.
“Din,” panggil Amanda. Namun, Dinda tidak menyahut dan langsung berlari ke taman untuk menangis di sana. Ryan yang sedang melewati koridor itu bersama Leo kebetulan melihat Dinda berlari ke arah taman sehingga Ryan langsung menyusul Dinda. Sementara itu, Leo ditinggalkan begitu saja di koridor itu.
Gak mungkin bola dari dalam lapangan bisa mental ke kepala Dinda pas dia lagi lewat. Kejadian hari ini pasti udah direncanain dari awal, kata Leo dalam hati. Ia pun mulai mengamati sekelilingnya dan melihat Clarissa yang melangkah mundur perlahan-lahan lalu tiba-tiba berlari dengan sangat cepat ke suatu tempat.
“Dia kenapa?” gumam Leo. Karena rasa penasarannya, akhirnya ia mengikuti Clarissa sampai ke halaman belakang sekolah.
“Clarissa, kamu orang jahat. Bagaimana bisa kamu mengkhianati sahabatmu sendiri?” tanya Clarissa pada dirinya sendiri. Tanpa ia sadari, air mata mulai mengalir membasahi seluruh wajahnya. Ia hanya menangis sebentar, lalu ia segera menghapus air matanya dan memutuskan untuk kembali ke lokasi tadi seolah-olah tidak ada apa pun yang terjadi.
“Hah, Leo!” teriak Clarissa yang terkejut karena Leo sudah berdiri di hadapannya.
“Kamu kenapa?” tanya Leo.
“Kamu udah denger semuanya, ‘kan?” tanya Clarissa.
“Apa maksudnya mengkhianati sahabatmu sendiri?” sahut Leo.
“Ya, aku yang melakukannya. Aku termasuk orang di balik insiden hari ini,” jawab Clarissa jujur.
__ADS_1
“Kamu gak mau tanya apa pun?” tanya Clarissa yang bingung karena Leo sama sekali tidak membuka mulutnya.
“Karena kamu udah nangis di sini, berarti kamu udah menyesal,” jawab Leo.
“Gimana kamu bisa tau?” tanya Clarissa sambil tersenyum.
“Kamu bukan orang jahat, kamu cuma melakukannya karena terpaksa,” kata Leo.
“Ada orang yang paksa kamu buat lakuin semua ini, ‘kan?” tanya Leo yang sudah mulai curiga sejak awal. Clarissa tidak menjawab dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Leo juga tidak mengeluarkan suaranya lagi untuk menunggu penjelasan dari Clarissa.
“Kenapa kamu gak salahin aku? Kamu ‘kan juga suka sama Dinda! Ayo pukul aku!” seru Clarissa sambil menangis. Leo langsung paham kalau Clarissa tidak ingin bercerita padanya. Ia segera memeluk Clarissa dengan erat sehingga air mata gadis itu membasahi seragamnya. Setelah Clarissa selesai menangis, Leo segera mengusap sisa air matanya agar wajah Clarissa terlihat seperti biasanya.
“Kamu bisa pergi sekarang,” kata Leo.
“Kamu yakin mau lepasin orang yang udah berbuat jahat?” tanya Clarissa penasaran.
“Satu lagi, minta maaflah sama Dinda kalau kamu memang menyesali perbuatanmu,” imbuh Leo.
“Aku pergi kalau kamu gak mau bilang apa-apa lagi,” kata Leo yang hendak pergi dari tempat itu.
“Kamu bakal ngaduin aku ke Dinda?” tanya Clarissa.
“Aku bukan orang yang suka ngadu,” jawab Leo. Setelah itu, ia membalikkan badannya untuk pergi dari situ.
__ADS_1
“Tapi kalau kamu bantu tutupin kesalahan aku, kamu bisa ikut kena imbasnya,” kata Clarissa yang langsung membuat Leo menghentikan langkahnya. Namun, Leo tidak membalikkan badannya sehingga Clarissa tidak bisa melihat ekspresi Leo saat ini.
“Memangnya kenapa kalau aku kena imbasnya? Selama kamu aman, itu udah cukup,” sahut Leo sambil mengangkat kedua alisnya.
“Kamu udah gila, ya?” tanya Clarissa sambil mengerutkan keningnya.
“Iya, aku udah gila,” jawab Leo sambil tersenyum.
“Aku pergi dulu,” imbuhnya yang langsung melangkah pergi dari situ.
“Dia mau pergi ke mana?” gumam Clarissa sambil menatap kepergian Leo.
...****************...
Sore hari di taman sekolah
“Hiks.” Ryan masih bisa mendengar isakan tangis Dinda yang sedang menangis di bangku taman. Ryan segera berjalan mendekat lalu duduk di samping pacarnya itu.
“Ri?” tanya Dinda setelah ia sadar bahwa orang yang duduk di sebelahnya adalah Ryan.
“Dahi kamu…” kata Ryan saat melihat kening Dinda yang bengkak.
“Aku beliin obat salep, ya,” imbuh Ryan sambil tersenyum.
__ADS_1
“Aku gapapa, Ri. Tapi kamu kenapa?” tanya Dinda panik.
Bersambung……