
Hari ini adalah hari yang paling dinanti semua orang yaitu Hari Sabtu. Hari untuk melepas penat setelah bekerja dari Hari Senin sampai Jumat dan juga hari untuk berkumpul dan berjalan-jalan bersama keluarga atau teman.
Tapi, hal ini tidak berlaku untuk Ryan. Ia masih harus membantu papanya di perusahaan mengerjakan beberapa proposal baru setelah itu ia bisa melakukan apapun sesuka hatinya. Biasanya, Ryan mengerjakan proposal-proposal itu sampai hari mulai petang. Ryan sudah selesai mengerjakan tugasnya lalu ia melihat kearah jam yang ia pakai.
"2 Februari 2019, Jam 18:30." ucap Ryan.
"Huh..Jam segini sepertinya sudah tidak bisa berenang ataupun bermain basket lagi. Aku akan membeli makanan dan minuman lalu pulang." Ryan pun keluar dari ruangannya itu. Ia dan Pak Herman sedang berada di lift dari lantai 32 yang akan menuju ke lantai basement.
"Tuan muda." panggil asisten pribadinya itu.
"Apa?" jawab Ryan.
"Apa tuan muda baik-baik saja?" Pak Herman memberanikan diri bertanya kepada tuan mudanya itu..
"Menurut bapak bagaimana? Aku sudah tidak bisa berenang ataupun bermain basket lagi hari ini." sahut Ryan acuh. Ia memang kesal karena tidak bisa seperti teman-temannya yang bisa nongkrong, berenang, bermain voli dan bermain basket. Pak Herman tidak menjawab Ryan sampai lift itu berhenti di lantai basement perusahaan. Pak Herman membukakan pintu untuk Ryan dan Ryan masuk lalu mengucapkan terimakasih.
"Pak, hari ini aku mau pergi ke mall di arah sana." Ryan menunjuk kearah mall itu.
"Baik, tuan muda." sahut Pak Herman. Pak Herman pun mencari parkiran.
"Pak." panggil Ryan saat Pak Herman sudah memarkirkan mobilnya.
"Iya?"
"Tolong jangan panggil aku tuan muda saat di mall."
"Ehem. Baik, Ryan."
Sesampainya di mall itu, Ryan langsung pergi ke food court di mall itu. Ia segera mengantri lalu memesan bakso kuah 2 porsi. Ia bermaksud memberikan satu porsinya lagi untuk Pak Herman.
"Pak, ini untuk bapak."
"Ryan.. Ini.."
"Ambil aja, Pak. Bapak 'kan juga sudah bekerja dari pagi. Bapak pasti lapar juga, 'kan?"
"Tapi, Ryan.. Baiklah." Pak Herman sebenarnya sudah makan sore di warung dekat perusahaan tadi sehingga ia masih kenyang. Berbeda dengan Ryan, Ryan masih belum makan apapun sejak tadi siang. Tapi, ia tidak enak menolak makanan yang diberikan Ryan untuknya.
Setelah selesai makan, Ryan dan Pak Herman berjalan menyusuri mall besar itu. Ryan sempat berhenti di suatu tempat. Itu adalah toko bernama Revlon yang menjual lipstik untuk perempuan. Ia sempat berpikir apakah ia mau masuk atau tidak. Akhirnya, ia memilih untuk tidak masuk.
Ryan, sadarlah! Apa aku sudah gila berdiri di depan toko ini? Aku malah membayangkan jika Dinda yang memakai lipstik itu pasti akan terlihat cantik. Aku saja tidak menyukainya kenapa aku malah membayangkan kalau gadis itu adalah pacarku dan ia memakai lipstik pemberianku di toko ini! Ryan merutuki pikirannya sendiri. Ia memilih berjalan lagi sampai ia sampai di depan toko minuman Starbucks. Ia memesan rasa Matcha lalu memesankan rasa Black Latte untuk Pak Herman.
"Pak, ini untuk bapak. Habiskan, ya!" kata Ryan sambil menyerahkan kopi itu untuk Pak Herman.
"Eh, iya baik. Makasih ya." jawab Pak Herman.
"Pak. Apa bapak mau roti itu juga?" tanya Ryan.
"Tidak usah, Ryan. Terimakasih." sahut Pak Herman.
"Bukankah itu Dinda?" Ryan bertanya pada dirinya sendiri sambil terus melihat ke sebuah cafe di seberangnya.
__ADS_1
"Aku pasti salah lihat." lanjutnya.
"Tapi, itu memang dia!" Ryan merasa bahwa penglihatannya tidak mungkin salah. Ryan pun menghampiri Dinda. Sebelumnya, ia meminta supaya Pak Herman tetap di tempatnya dan tidak mengikutinya.
"Ehem. Kamu..?" Ryan sengaja memesan makanan disana dan sengaja berdiri di dekat Dinda. Ia sudah memperkirakan kalau Dinda akan menabraknya.
"Maaf. Aku tidak sengaja." jawab Dinda sambil membungkukkan badannya berulang kali. Dinda hendak pergi dari sana tapi Ryan memanggilnya.
"Din."
"Apa? Kamu..Ryan?"
"Ya. Lihat, sekarang bajuku jadi kotor karena terkena tumpahan makananmu."
Huh! Kenapa aku harus menabrak orang ini sih! batin Dinda.
"Baiklah. Ayo duduk dulu disana, ya!" Dinda mengajak Ryan duduk di meja untuk dua orang. Dinda sedang makan sendirian rupanya.
"Um..Sebentar aku ambil tisu dulu di tasku." Setelah mengambil tisu, Dinda segera mengelap pakaian Ryan dan tanpa sengaja ia menyentuh tangan Ryan.
"Baiklah. Sudah selesai." kata Dinda.
"Kamu mau memegang tanganku sampai kapan?" tanya Ryan.
"Oh, maaf. Maafkan aku." sahut Dinda. Ryan malah senang dan memikirkan bagaimana harus mengerjai Dinda lagi.
"Kamu sesenang itu memegang tanganku? Kalau begitu pegang lagi saja." Ryan tersenyum tipis. Ia tahu Dinda akan kesal padanya dan ia heran mengapa saat melihat Dinda kesal ia malah senang.
"Masa? Kamu suka, 'kan? Hampir semua gadis ingin memegangku dan bahkan ingin aku menjadi pacarnya, kamu pasti salah satu dari mereka juga, 'kan?" tanya Ryan sambil tertawa. Dinda tidak menjawab.
Apaan sih orang ini! Dinda menatap Ryan kesal. Perut Dinda tiba-tiba bunyi. Sekarang sudah pukul 19:15 dan ia masih belum makan.
"Kamu lapar?" tanya Ryan. Dinda hanya mengangguk.
"Oke. Ayo makan!" Ryan mengambil sendok Dinda lalu menyendok makanan yang dipesan Dinda dan hendak menyuapinya ke Dinda.
"Maaf, apa aku boleh makan sendiri saja?" tanya Dinda.
"Tidak. Kamu tadi menabrakku. Biar aku suapin saja sekalian supaya tidak tumpah kemana-mana. Makan! Aa!" jawab Ryan. Dinda pun mau tidak mau memakan suapan itu. Ryan tidak bisa menahan tawanya saat Dinda menerima suapan darinya sampai makanan itu habis. Pak Herman sebenarnya daritadi memperhatikan Ryan yang sedang menyuapi Dinda tapi ia memilih diam dan mengamati dari jauh saja.
"Um.. Makasih." Dinda mengucapkan kata itu supaya ia bisa segera pergi.
"Kamu mau kemana?" tanya Ryan.
"Pulang." sahut Dinda.
"Ingat, waktumu hanya dua minggu saja." kalimat itu terus melintas di otak Ryan. Ia menatap Dinda lekat.
"Din."
"Iya."
__ADS_1
"Apa.."
"Ya? Kenapa?"
"Mari beli hidangan penutup dulu sebelum kamu pergi."
"Tidak usah."
"Sudah. Kamu tidak usah khawatir. Aku yang bayar." Ryan tetap memesan dessert dan ia memesan kue rasa blueberry untuk Dinda, sementara ia sendiri tidak memesan apapun.
"Kamu tidak pesan?"
"Tidak. Cepat makan."
Dinda pun segera menghabiskannya lalu ia pergi ke meja kasir untuk membayar makanannya.
"Semuanya Rp 130.000." kata bapak kasir.
"Baik. Ini, Pak." sahut Dinda sambil menyodorkan kartu kreditnya kepada bapak kasir itu.
"Ini untuk tagihan punya dia." Ryan menyodorkan uang cash kepada bapak kasir itu.
"Wah, pacarnya ya?" tanya bapak kasir itu kepada Dinda.
"Bukan kok, Pak." sahut Dinda. Sementara, Ryan hanya terus tersenyum.
"Terimakasih. Silahkan datang kembali." kata bapak itu sambil memberikan bonnya kepada Ryan.
"Kenapa kamu malah membayarkan makananku?" tanya Dinda.
"Kenapa? Tadi pasti kamu kesal padaku karena kamu hanya memesan nasi goreng yang harganya Rp 65.000 dan es teh manis seharga Rp 15.000 jadi yang mahal adalah dessertnya. Aku yang memesan dessert itu. Jadi, kamu harusnya berterimakasih padaku karena kamu bisa makan enak tanpa harus membayar." sahut Ryan.
"Huh.. Iya. Terimakasih." balas Dinda. Ia ingin segera pergi.
"Btw, kamu suka 'kan dessertnya? Kalau suka aku bisa beliin lagi. Kalau gak suka lain kali aku beliin yang lain." tanya Ryan.
"Iya, suka. Blueberry adalah rasa favoritku. Terimakasih ya sudah mentraktir aku tadi. Tidak perlu mentraktir lagi lain kali." sahut Dinda. Ryan hanya tersenyum.
"Aku pergi duluan, ya!" kata Dinda sambil melambaikan tangannya. Ryan sebenarnya tidak ingin Dinda pergi begitu saja tapi ia membalas lambaian tangan Dinda.
"Pak."
"Iya, Ryan." sahut Pak Herman.
"Ayo kita pulang!"
"Baik."
Sepanjang perjalanan Ryan tidak membicarakan apapun tapi ia terus tersenyum. Senyuman Ryan adalah kelangkaan. Ryan hampir tidak pernah tersenyum. Pak Herman yang kali ini melihat Ryan tersenyum merasa lega. Akhirnya, ia bisa melihat Ryan tersenyum lagi setelah sekian lama. Ia merasa berterimakasih kepada gadis yang tadi bersama Ryan, Dinda. Ia yakin senyuman Ryan ada hubungannya dengan gadis itu.
Bersambung.....
__ADS_1