
“Tuan muda,” panggil Herman sambil mengejar Ryan sampai ke lobi rumah sakit.
“Ada apa, Pak?” sahut Ryan.
“Biar saya antar Tuan muda pulang ke rumah,” kata Herman. Ryan mengangguk dan mengikuti Herman untuk masuk ke dalam mobil.
“Tuan muda,” panggil Herman setelah beberapa saat ia mengemudi.
“Hmm,” sahut Ryan.
“Sebenarnya, Tuan tidak mengizinkan Tuan muda untuk berpacaran dengan Nona Dinda karena Tuan pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Kesalahan itu berhubungan dengan Ayahnya Nona Dinda. Tuan cemas jika Tuan muda berpacaran dengan Nona Dinda, Ayahnya bisa memanfaatkan Tuan muda untuk mengancam perusahaan Tuan,” kata Herman yang berusaha untuk memberikan penjelasan sesederhana mungkin.
“Apa semua yang Papa khawatirkan cuma tentang materi?” tanya Ryan datar.
“Tuan muda, bukan begitu. Tuan juga peduli pada Tuan muda. Saya tau Tuan muda menyukai Nona Dinda. Saya juga sudah berusaha membujuk Tuan, tapi tetap saja tidak berhasil. Saya rasa dendam lama antara Tuan dan Ayahnya Nona Dinda harus diselesaikan dulu. Setelah ada kesepakatan, Tuan muda baru direstui untuk berpacaran lagi dengan Nona Dinda,” jawab Herman.
“Jadi, apa yang harus aku lakukan untuk membuat masalahnya bisa selesai?” tanya Ryan.
“Saya tidak punya hak untuk ikut campur masalah ini, apalagi berbicara kepada Ayahnya Nona Dinda, Tuan Satrio. Jika Tuan muda mau, saya rasa jalan terbaiknya adalah Tuan muda harus menceritakan yang sebenarnya kepada Nona Dinda. Tuan muda bisa meminta Nona Dinda untuk meminta Ayahnya menemui Tuan. Saya juga akan terus membujuk Tuan supaya Tuan mau bertemu dengan Tuan Satrio dan menyelasaikan semuanya,” kata Herman.
“Oke, makasih, Pak,” sahut Ryan sambil mengangguk.
...****************...
Ting...Tong…
Bel istirahat pun berbunyi. Para murid sudah bersiap untuk turun ke kantin membeli makan siang karena perut mereka yang sudah lapar setelah mengerjakan soal ujian Fisika. Namun, wajah Bu Amelia terlihat agak kecewa saat melihat lembar jawaban milik Ryan yang tidak sesuai dengan harapannya.
__ADS_1
“Ryan, kamu tetap di sini dulu. Ibu mau bicara sama kamu,” kata Bu Amelia.
“Kenapa, Bu?” tanya Ryan sambil berjalan menghampiri meja guru yang ada di depan kelas.
”Kamu lagi ada masalah, Nak? Nilai ujian kamu menurun drastis,” kata Bu Amelia yang tampak khawatir.
“Memang ada, Bu,” jawab Ryan jujur.
“Tidak apa-apa kalau nilai kamu di ujian yang kali ini menurun, Ibu yakin di ujian berikutnya nilai kamu tidak separah ini lagi,” kata Bu Amelia sambil tersenyum.
“Baik, Bu,” sahut Ryan.
”Ryan, kalau kamu ada masalah di sekolah, beri tahu Ibu, ya,” kata Bu Amelia sambil memegang pundak Ryan.
“Iya, Bu,” jawab Ryan sambil mengangguk. Bu Amelia pun melangkah pergi dari kelas XI A. Kemudian, Ryan juga menyusul untuk keluar dari kelas. Ternyata Dinda sudah menunggu di depan kelas Ryan sejak tadi.
“Sayang,” sapa Dinda sambil tersenyum. Ryan menatap wajah Dinda cukup lama, tapi ia tidak berbicara apa pun.
“Sayang, kamu kenapa diem aja?” tanya Dinda.
“Gapapa, Sayang,” jawab Ryan datar.
“Ada yang kasih tau aku kalau nilai ujian fisika kamu nurun,” kata Dinda sambil menatap kedua mata Ryan.
“Iya, nilai aku memang nurun,” sahut Ryan sambil mengangguk.
“Jadi, kamu sedih karena itu?” tanya Dinda. Ryan tidak merespon pertanyaan Dinda karena sebenarnya bukan nilainya yang membuatnya sedih, tapi perkataan Papanya kemarin.
__ADS_1
“Sayang, yang penting kamu udah belajar. Kalau nilai kamu nurun, itu bukan salah kamu,” kata Dinda sambil memeluk Ryan.
“Iya, makasih, Sayang,” sahut Ryan sambil membalas pelukan itu.
”Sama-sama, nanti kita ke sini, ya?” tanya Dinda sambil menunjukkan foto salah satu water park yang lumayan besar di Jakarta.
”Kamu mau berenang?” tanya Ryan.
“Iya, kamu suka berenang, ‘kan?” sahut Dinda.
“Suka,” jawab Ryan.
“Mau gak temenin aku berenang?” tanya Dinda sambil tersenyum.
“Iya, Sayang,” jawab Ryan sambil mengelus kepala pacarnya itu.
...****************...
Sore hari di water park
“Kenapa kamu tiba-tiba ngajakkin aku berenang?” tanya Ryan.
”Kamu sendiri yang bilang mau ketemu aku tiap hari. Masa kamu udah lupa?” tanya Dinda sambil menatap wajah Ryan dengan tatapan bingung.
“Aku belum lupa, Sayang,” jawab Ryan datar.
“Sayang, kamu jangan pikirin nilai kamu lagi. Nanti kalau kamu mau, kita bisa belajar bareng. Sekarang aku mau kamu senyum dulu kayak gini,” kata Dinda sambil memegang kedua sudut bibir Ryan dan menariknya sampai Ryan tersenyum.
__ADS_1
”Iya, Sayang. Makasih, ya,” balas Ryan.
Bersambung……