
Kamar rumah sakit
“Cari tau apa kelemahan Dinda yang bisa membuatnya sampai menangis,” perintah Alexa kepada Clarissa.
“Hah? Untuk apa?” sahut Clarissa dengan ekspresi bingungnya.
“Ryan paling gak bisa melihat orang yang dia kasihi menangis. Dia pasti akan datang menemuiku kalau dia tau bahwa aku adalah orang yang membuat Dinda menangis. Aku mau tau apa yang bakalan dia lakuin kalau Dinda sampai menangis karena perbuatanku,” jelas Alexa sambil tersenyum sinis. Namun, itu tidak salah. Ryan memang merupakan sosok pria yang hampir sempurna. Kekurangannya yang Alexa ketahui cuma satu, yaitu Ryan tidak bisa melihat orang lain menangis di hadapannya.
“Apa kamu gak mau mikir ulang? Ryan bisa aja semakin benci sama kamu,” balas Clarissa.
“Kalau dia semakin membenci aku, setidaknya aku sudah puas kalau wanita yang dia cintai sekarang terluka,” jawab Alexa masih dengan senyuman sinisnya. Clarissa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya menghadapi orang seperti Alexa yang begitu kejam bahkan pada orang yang tidak dikenalnya.
__ADS_1
“Jadi, kamu cukup lakuin aja tugasmu tanpa banyak tanya. Atau kamu tau ‘kan apa konsekuensinya? Bukan hanya perusahaan Papamu saja yang terancam, mungkin nyawa kedua orangtuamu bisa aku ambil juga,” jelas Alexa dengan santainya. Clarissa yang mendengar kalimat itu langsung naik darah.
“Apa? Apa sebenarnya salah orangtuaku padamu? Mereka tidak berbuat kesalahan apa pun pada kamu! Kenapa kamu juga harus mengambil nyawa mereka?” sentak Clarissa.
“Mereka melahirkan anak kayak kamu aja udah termasuk salah! Kamu sangat tidak tau diri. Dan, kamu juga bodoh. Kenapa kamu malah membiarkan Ryan bersama dengan Dinda? Apa alasanmu mau mengalah pada Dinda dan memilih mengabaikan perasaanmu sendiri?” tanya Alexa kepo.
“Apa maksud kamu? Mereka berdua adalah temanku...” jawab Clarissa. Alexa langsung memotong kalimatnya sebelum ia selesai berbicara.
“Oh, itu benar. Tapi, kamu berusaha keras untuk menutupi perasaanmu terhadap Ryan. Kamu masih belum bisa menghapus semua perasaanmu padanya. Sementara Ryan, dia tidak tau kalau kamu menyukainya karena kamu terlalu baik hati membiarkannya bersama dengan Dinda,” sahut Alexa.
“Aku mau bertanya, apa selama ini kamu memang beneran cinta sama Ryan atau kamu cinta dia karena ada hal lain yang kamu mau dari dia?” tanya Clarissa memberanikan dirinya untuk bertanya.
__ADS_1
“Apa?” sahut Alexa kaget.
“Kalau kamu memang mencintai seseorang, kamu pasti akan mengutamakan kebahagiaan orang itu. Sekalipun kamu gak ikhlas pada awalnya, namun pada akhirnya kamu pasti bisa merelakannya bahagia bersama dengan orang yang dia cintai. Itu baru arti cinta yang sebenarnya,” jawab Clarissa. Alexa terkejut dengan pernyataan Clarissa. Namun, itu memang benar. Cinta memang seperti itu.
“Memang sakit, tapi jodoh sudah diatur oleh Tuhan. Kita gak bisa menyalahkan Dia, diri kita sendiri, dan juga keadaan. Kita cuma bisa menerima semuanya dengan lapang dada,” lanjutnya sambil mengelus pelan dadanya.
“Itu aja ‘kan tugasku? Oke, aku akan bantu kamu. Tapi, kamu harus janji. Jangan sakiti orangtuaku dan jangan siksa Dinda! Kamu cuma bilang padaku untuk membuatnya menangis. Aku harap kamu tidak berubah pikiran,” kata Clarissa sambil mengepalkan kedua tangannya untuk mengendalikan emosinya. Setelah selesai mengatakan semuanya, ia keluar dari kamar rumah sakit itu supaya bisa segera pulang ke rumahnya.
...****************...
Kejadian itulah yang membuat Clarissa menangis di kamarnya sekarang. Entah apa yang harus ia lakukan untuk mencari tau kelemahan Dinda. Namun, saat ini Clarissa benar-benar merasa bersalah pada Ryan dan Dinda karena dirinya sudah menyetujui permintaan Alexa. Tapi, kalau ia tidak mau membantu Alexa, kedua orangtuanya yang akan kena imbas dari kemarahan Alexa.
__ADS_1
Hal ini membuat Clarissa terus menangis tanpa menyadari bahwa ia sudah menangis selama 3 jam. Ia baru sadar saat menatap ke arah jam dinding yang tergantung di kamarnya sudah menunjukkan pukul 01:00. Akhirnya, Clarissa langsung tertidur pulas setelah menatap ke arah jam. Mungkin karena dirinya yang sudah terlalu lama menangis di atas kasur.
Bersambung……