
“Aku gapapa, Ri. Tapi kamu kenapa?” tanya Dinda panik.
“Aku gapapa kok,” jawab Ryan yang masih memaksakan dirinya untuk menahan air mata yang hampir keluar dari kelopak matanya.
“Kamu udah mau nangis?” tanya Dinda yang semakin panik.
“Aku punya trauma dari kecil. Aku bakal nangis lebih parah kalau liat orang lain nangis,” jawab Ryan untuk menenangkan Dinda yang sedang panik. Namun, air matanya tidak bisa ia tahan lagi sehingga mau tidak mau ia harus menangis di depan Dinda.
“Kalau gitu, kenapa kamu harus liat aku nangis? Kamu ‘kan bisa cuekkin aku aja sampe aku selesai nangis,” sahut Dinda lirih.
“Kalau aku cuekkin kamu, aku bukan pacar kamu,” jawab Ryan pelan. Dinda langsung memeluk Ryan untuk membuatnya merasa tenang. Akhirnya, setelah beberapa saat, tangisan Ryan pun mereda.
“Kamu udah merasa lebih baik?” tanya Dinda yang masih terlihat khawatir. Ia segera melepaskan pelukannya untuk melihat wajah Ryan.
“Udah, makasih,” kata Ryan.
“Aku beliin obat buat kamu, oke?” tanya Ryan sambil tersenyum.
”Oke, tapi aku mau ikut,” jawab Dinda.
“Oke,” kata Ryan.
...****************...
Sore hari di dalam mobil
Ryan baru saja membeli obat salep di apotek terdekat. Ia segera membukanya dan mengoleskan obat itu ke kening Dinda secara perlahan. Setelah selesai, ia meniup kening Dinda supaya luka itu cepat kering. Kemudian, ia menatap wajah Dinda dengan lekat.
“Kenapa muka kamu jadi merah, hmm?” tanya Ryan sambil menggoda Dinda.
__ADS_1
“Kenapa kamu kepo banget sih?” balas Dinda.
“Kamu cantik banget,” jawab Ryan yang langsung membuat Dinda tambah malu.
”Apa?” tanya Dinda yang pura-pura tidak mendengarkan ucapan Ryan barusan.
”Kamu cantik banget, Sayang,” bisik Ryan tepat di depan telinga kanan Dinda.
“Kamu juga ganteng,” kata Dinda pelan.
“Ganteng doang atau ganteng banget?” tanya Ryan yang mulai menggoda pacarnya lagi.
“Ganteng doang,” jawab Dinda tanpa menatap wajah Ryan. Ryan malah mencondongkan tubuhnya ke arah Dinda sampai jarak di antara mereka hanya sekitar 5 cm.
“Kalau sekarang?” tanya Ryan sambil tersenyum.
“Kenapa kamu ketawa?” tanya Dinda bingung.
“Aku seneng jadi pacar kamu,” jawab Ryan.
“Beneran?” tanya Dinda yang terlihat serius.
“Iya, Sayang,” jawab Ryan sambil mencubit pelan pipi kanan kekasihnya itu. Dinda langsung membalas cubitan itu di pipi kiri Ryan meskipun Ryan sama sekali tidak merasa kesakitan karena cubitan Dinda yang pelan.
“Kamu mau aku anterin pulang sekarang?” tanya Ryan.
“Iya,” jawab Dinda sambil memegang pipi kanannya yang terasa sakit karena barusan dicubit Ryan.
“Oke,” sahut Ryan.
__ADS_1
...****************...
Sore hari di Mansion Alexa
“Hai, Leo. Udah lama kita gak ketemu. Kamu kangen aku?” tanya Alexa sambil basa-basi saat melihat Leo datang ke mansionnya dengan terburu-buru.
“Ini cara yang paling baik menurut kamu?” tanya Leo yang langsung to the point.
“Kamu ngomong apa? Aku gak ngerti,” jawab Alexa yang berpura-pura tidak tahu.
“Lexa, aku udah sabar-” sahut Leo dengan nada frustasi.
“Ya, aku juga,” potong Alexa dengan nada tegas.
“Kamu gak pernah puas dengan apa yang kamu punya sekarang?” tanya Leo sambil menatap mata Alexa dengan perasaan kecewa.
“Leo, kenapa jadi kamu yang emosi di sini?” tanya Alexa tidak terima. Ia berharap Ryan yang akan datang kepadanya, tetapi kenyataannya malah Leo yang ada di hadapannya saat ini.
“Kamu melibatkan orang lain dalam masalahmu sendiri. Jadi, udah wajar kalau aku emosi,” jawab Leo sambil menghela napasnya.
”Kamu tau apa tentang masalahku, Leo?” tanya Alexa yang mulai menangis. Leo tidak menyahut dan membiarkan Alexa menangis sekeras-kerasnya di ruang tamu yang sepi itu.
“Ceritain,” kata Leo setelah Alexa selesai menangis.
”Ceritain apa?” tanya Alexa.
“Masalahmu itu, aku bakal dengerin semuanya,” jawab Leo.
Bersambung……
__ADS_1