
Malam hari di ruang tamu
"Pa." panggil Ryan.
"Mengenai pertunanganku dengan Clarissa, aku mau papa membatalkannya." kata Ryan yang langsung mengungkapkan niatnya.
"Apa?" tanya Jonathan kaget.
"Aku udah tanya sama Clarissa. Dia juga setuju jika ini semua dibatalkan." jawab Ryan dengan santai.
"Kenapa? Apa kamu menganggap Clarissa bukan perempuan yang baik? Dia tidak sama seperti Alexa!" teriak Jonathan. Mendengar nama 'Alexa' saja Ryan menjadi lebih kesal.
"Aku tau itu! Justru karena aku tau makanya.. Aku tidak mau bohong padanya." seru Ryan.
"Apa? Apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Jonathan setelah membuang napasnya kasar.
"Bicara padanya mengenai pembatalan acara ini. Dia juga setuju. Untuk apa papa memaksa kami tetap bertunangan kalau bukan karena rasa cinta?" sahut Ryan.
"Ok, terserah padamu. Anggap kalian berdua dan Revan setuju membatalkannya. Tapi, acaranya sudah terlanjur terlaksana. Mau ditaruh di mana wajah papa?" tanya Jonathan dengan nada tinggi.
"Apa wajah begitu penting bagi papa?" tanya Ryan.
"Ya! Tentu saja!" jawab Jonathan dengan mantap.
"Baiklah." sahut Ryan. Ia langsung pergi menuju kamarnya.
Di saat seperti ini, apa aku sebaiknya menemui Leo? batin Ryan.
"Di mana dia biasanya... Cafe itu?" gumam Ryan. Ia pun langsung mengambil kunci motor dan pergi ke cafe melalui pintu belakang rumahnya.
...****************...
Malam hari di cafe
Sebelumnya, Leo dan Dinda sudah berjanji akan bertemu malam ini di cafe yang biasanya mereka kunjungi karena lokasinya berada di dekat sekolah.
"Hai, Din." sapa Leo.
"Hai." sahut Dinda.
"Kamu mau ngomong apa?" tanya Dinda.
"Aku suka kamu." kata Leo.
"Hah?" tanya Dinda yang hampir saja tersedak teh yang baru saja ia minum. Ia langsung meletakkan gelasnya di atas meja.
"Aku suka kamu, Din." kata Leo sekali lagi.
"Oh... Aku juga suka kamu." sahut Dinda sambil tersenyum. Ia mengira maksud Leo adalah suka berteman dengannya. Tentu saja, Dinda juga menyukai Leo sebagai teman.
"Bukan sebagai teman, tapi lebih dari itu." kata Leo yang terlihat serius.
"Maksud kamu?" tanya Dinda dengan polosnya.
__ADS_1
"Sebagai seorang pria, menurut kamu aku seperti apa?" tanya Leo lembut. Tapi, keadaan justru menjadi sulit bagi Dinda.
"Ya... Kamu tampan, pintar, dan lucu sekalipun kamu tidak begitu tinggi. Haha, begitulah pendapatku." jawab Dinda berusaha mencairkan suasana dengan tertawa.
"Hmm... Masih ada yang mau aku tanya lagi." kata Leo.
"Apa itu?" sahut Dinda.
"Apa kamu menyukai Ryan?" tanya Leo.
Aduh bagaimana ini... Aku harus jawab apa? Ya Tuhan bagaimana aku akan menjawab pertanyaannya? batin Dinda mulai panik.
"Haha. Kenapa tiba-tiba bertanya soal Ryan?" tanya Dinda yang berusaha mengatur ekspresi wajahnya supaya tidak terlihat canggung.
"Gapapa. Kamu gak mau jawab?" sahut Leo sambil tersenyum.
"Bukan gitu. Ya, dia mirip denganmu, versi lebih tinggi." jawab Dinda sambil terkekeh pelan.
"Kamu benar juga. Jadi, menurut kamu Ryan banyak digemari wanita karena dia lebih tinggi dariku?" tanya Leo.
"Mungkin karena dia anak basket." jawab Dinda yang asal menebak.
"Lalu, siapa yang lebih tampan?" tanya Leo.
Aduh pertanyaan apalagi ini! teriak Dinda dalam hati.
"Tentu saja kamu lebih tampan." jawab Dinda sambil tersenyum dan menepuk lengan kanan Leo yang ada di atas meja.
"Beneran?" sahut Leo.
"Terakhir. Siapa yang lebih kamu pilih sebagai pacar? Aku atau Ryan?" tanya Leo sambil menatap mata Dinda. Dinda yang sadar dirinya ditatap langsung membuang muka ke arah lain. Tentu saja melalui mata Dinda, Leo sebenarnya sudah tahu jawaban dari pertanyaannya.
Apa-apaan ini! Leo, kenapa hari ini kamu aneh sekali? seru Dinda dalam hati. Ekspresi wajahnya saat ini seperti berkata 'tolong hentikan pertanyaan yang tidak masuk akal ini.'
"Ya..." Dinda masih memikirkan jawaban yang akan ia berikan kepada Leo. Namun, smartphone-nya tiba-tiba berdering karena ada yang menelepon.
Untung aja, aku selamat. Terima kasih, Clar. batin Dinda.
"Ah, ini Clarissa tiba-tiba telepon. Aku angkat dulu, ya." kata Dinda sambil berlalu pergi.
"Oh, iya." sahut Leo. 20 menit kemudian, Dinda kembali ke tempat duduknya yang tadi.
"Udahan teleponnya?" tanya Leo.
"Udah." jawab Dinda.
"Din." panggil Leo.
"Iya?" sahut Dinda.
"Tentang yang pertama kali aku katakan, aku serius tentang itu." kata Leo yang saat ini menampakkan wajahnya yang serius. Namun, tanpa Dinda dan Leo sadari, ada seseorang yang memerhatikan mereka.
"Yang mana?" tanya Dinda yang berpura-pura tidak tahu.
__ADS_1
"Aku suka kamu lebih dari seorang teman." jawab Leo.
"Ah, iya... Tentu saja kamu serius." sahut Dinda sambil memandang ke arah bawah. Entah apa yang ia pandangi di bawah sana.
"Apa kamu mau jadi pacarku?" tanya Leo dengan tatapan serius.
"Pikirkan tentang itu. Aku tidak memaksamu menjawabku sekarang, tapi aku menunggu jawabanmu." kata Leo dengan nada lembut. Jika gadis di hadapannya sekarang bukan Dinda, sudah pasti tidak ada yang akan menolak. Hanya saja Dinda berbeda dari gadis yang lain.
"I-iya terima kasih, Leo." kata Dinda gugup.
"Kamu mau aku antar pulang?" tanya Leo.
"Gapapa, aku bisa pulang sendiri. Makasih, Leo." jawab Dinda.
"Kalo gitu hati-hati dijalan." kata Leo sambil tersenyum.
"Iya, kamu juga." sahut Dinda sambil tersenyum. Setelah itu, ia langsung pergi menuju ke mobilnya untuk pulang. Leo juga menuju ke motornya tapi langkahnya dicegah oleh seseorang. Ya, itu adalah Ryan.
"Ryan? Kenapa kamu disini?" tanya Leo yang sangat terkejut melihat kehadiran Ryan.
"Ikut ke rumahku." kata Ryan. Ia tidak menggubris pertanyaan Leo.
"Sekarang?" sahut Leo sambil mengerutkan dahinya karena bingung.
"Iya." jawab Ryan.
"Oke." kata Leo. Ia sendiri tidak mengerti kenapa Ryan malah menyuruhnya untuk datang ke rumah. Padahal biasanya Ryan tidak pernah mengundangnya untuk datang.
...****************...
Malam hari di balkon kamar Ryan
"Kenapa mengajakku kesini?" tanya Leo.
"Kenapa?" Ryan malah balik bertanya.
"Apanya yang kenapa?" sahut Leo bingung.
"Kamu memutuskan untuk menyatakan perasaanmu." kata Ryan.
"Karena aku juga menyukainya, sama sepertimu." jawab Leo.
"Sebelum menyatakan perasaanku, aku sudah merenungkannya. Bahkan sekalipun aku ditolak, tentu saja aku tetap harus menyatakannya selama masih ada kesempatan." kata Leo sambil menghela napasnya.
"Hei, kau.." kata Ryan yang berusaha menahan emosinya. Bagaimanapun juga, omongan Leo ada benarnya. Selama masih ada kesempatan, tentu harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.
"Maaf. Tapi kamu juga tau, jika kamu terus menunda, tidak akan ada lagi kesempatan yang tersisa." sela Leo.
"Leo." panggil Ryan.
"Iya?" sahut Leo.
"Apa kamu sudah tau?" tanya Ryan.
__ADS_1
Bersambung......