Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Kenapa Aku Jadi Seperti Ini?


__ADS_3

"Ryan, untuk apa kamu memikirkannya? Dia tidak penting." kata Ryan dengan suara pelan.


"Tapi, kenapa aku tidak suka saat melihatnya mengobrol berduaan dengan Ronald?" tanya Ryan kepada dirinya sendiri.


Mengakulah pada Dinda bahwa kamu jatuh cinta padanya.


Ryan malah kembali mengingat kalimat yang Dokter Lucy pernah katakan.


"Tidak. Itu tidak mungkin. Dia tidak penting. Dia tidak menganggapku sebagai siapapun. Jadi. tentu saja aku juga tidak harus menganggapnya sebagai siapapun." kata Ryan sambil menggelengkan kepalanya. Ia mengambil pulpennya lagi dan hendak mencatat materi lagi tetapi pikirannya malah memikirkan Dinda terus menerus.


Ryan, untuk sekarang kamu memang tidak sadar. Tapi, kamu juga bukan tidak tahu kalau kamu menyukainya, 'kan? Kamu hanya berusaha menghindar dari ini.


"Tidak sadar? Aku menyukainya? Menghindar? Siapa yang menghindar? Aku? Aku tidak. Tidak. Tidak mungkin. Aku tidak mungkin menyukainya." kata Ryan sambil berusaha untuk mengusir pemikirannya yang hanya menuju kepada Dinda.


Kenapa? Takut ditolak sama dia?


"Hah, mana ada. Aku.. Siapa takut? Aku bahkan tidak menyukainya. Ya, benar. Aku memang tidak menyukainya." kata Ryan meyakinkan dirinya sendiri sambil menarik napas panjang dan membuangnya dengan kasar.


Haha. Ryan, lihatlah dirimu. Kamu setampan dan sepintar ini. Mana ada wanita yang akan sanggup menolak cintamu?


"Benar. Dinda juga tidak akan sanggup menolakku." kata Ryan sambil menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang nyaris tidak terlihat.


"Hah! Apa! Apa yang kamu katakan barusan, Ryan!" bentak Ryan kepada dirinya sendiri. Ia juga mengacak-acak rambutnya karena ia sendiri merasa bingung terhadap dirinya. Jatuh cinta memang seperti itu, diri kita yang dulu bukan lagi kita yang sedang jatuh cinta.


"Dokter Lucy ada-ada saja!" gerutu Ryan. Ia hendak menelepon Dokter Lucy. Namun, niatnya terurungkan saat melihat ada panggilan telepon yang masuk duluan.

__ADS_1


Ci Cilla


[Halo, Ryan. Apa kabar?] tanya Priscilla sambil menunjukkan senyuman manisnya di video call.


[Halo, ci. Ryan baik. Kalau cici?] sahut Ryan sambil tersenyum juga.


[Cici baik. Ryan, selamat ya atas kemenanganmu. Maaf cici tidak bisa datang melihatmu bermain basket secara langsung.] kata Priscilla cemberut.


[Tidak apa-apa, Ci Cilla. Ryan mengerti. Apa cici senang selama disana?] tanya Ryan masih sambil tersenyum.


[Iya, Ryan. Cici baik-baik saja.] jawab Priscilla.


[Syukurlah kalau begitu.] kata Ryan.


[Ryan, cici punya kabar baik dan kabar buruk. Kamu mau dengar yang mana duluan?] tanya Priscilla.


[Kabar buruknya adalah cici tidak akan bisa menemanimu lama-lama saat cici diperbolehkan pulang nanti.] kata Priscilla.


[Lalu? Apa kabar baiknya?] tanya Ryan tidak sabar.


[Kabar baiknya adalah papa memperbolehkan cici pulang minggu depan!] jawab Priscilla dengan sangat antusias. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan adiknya satu-satunya.


[Jadi, cici akan kemari minggu depan? Berapa lama cici berencana akan menetap di Indonesia?] tanya Ryan sambil tersenyum. Ia rindu dengan cicinya yang sudah setahun tidak kembali ke Indonesia.


[Iya. Mungkin hanya 3 hari saja. Kamu merindukan cici?] tanya Priscilla.

__ADS_1


[Tidak sama sekali.] jawab Ryan acuh.


[Jangan berbohong! Bukankah cici selalu mengingatkanmu untuk tidak berbohong? Cici tau kamu merindukan cici.] kata Priscilla.


[Baiklah. Iya. Aku merindukan Ci Cilla. Kenapa?] tanya Ryan sambil memasang wajah sombongnya.


[Itu baru adikku. Baiklah, Ryan. Cici harus menyelesaikan beberapa file yang masih tersisa. Tidurlah, sekarang sudah pukul 22:40.] kata Priscilla.


[Iya, ci. Ryan bukan anak kecil lagi. Cici juga tidurlah setelah menyelesaikan semuanya.] sahut Ryan.


[Kamu tetap anak kecil di mata cici, Ryan. Baiklah. Sampai besok, dah.] Priscilla pun mengakhiri panggilan video callnya.


"Baiklah. Aku akan mencatat dan berlatih sampai bagian sini saja." kata Ryan sambil menunjuk ke arah layar laptopnya yang tertera jelas ada banyak rumus dan latihan soal fisika.


Setelah menyelesaikan semuanya, Ryan pun beranjak pergi ke tempat tidurnya. Ia meletakkan lengannya di bawah kepalanya. Ia memang selalu tidur seperti ini setiap hari. Namun, hari ini dia tidak bisa tidur.


"Si*l, kenapa harus dia lagi?" gerutu Ryan. Ia kesal dengan pikirannya sendiri karena terus menerus memikirkan Dinda.


"Ah ini benar-benar membuatku gila." kata Ryan.


"Hei otak, bekerja samalah." kata Ryan sambil memegang kepalanya seolah ia memerintah kepada otaknya.


"Berhenti memikirkan gadis itu." kata Ryan dengan posisi yang masih sama seperti semula. Memegang kepalanya, lalu menarik napas dan membuangnya. Ia mengambil gelas berisi air penuh yang ada di kamarnya dan meminumnya sampai setengah.


"Oke. Ayo tidur lagi!" kata Ryan mengajak dirinya sendiri untuk tidur lagi. Namun, tetap saja tidak berhasil. Ia pun bangkit untuk duduk bersandar di headboard ranjangnya.

__ADS_1


"Hah.. Kenapa aku tidak bisa tidur karena dia? Kenapa aku jadi seperti ini?" tanya Ryan sambil memgacak-acak rambutnya. Malam itu, ia sama sekali tidak bisa tidur.


Bersambung.....


__ADS_2