
Malam hari di ruang tamu
"Ada apa Papa memanggilku ke sini?" tanya Ryan yang langsung duduk di sofa di hadapan Jonathan.
"Ryan, Papa tidak akan melarangmu menyukai siapapun, tapi tidak untuk Dinda." kata Jonathan setelah membaca data pribadi Dinda yang diberikan oleh Hendra tadi sore.
"Kenapa tidak?" tanya Ryan.
"Kamu tidak mengerti. Papa hanya berusaha mencarikan yang terbaik untukmu." sahut Jonathan.
"Pa, coba tanyakan pada diri Papa sendiri. Apa semua yang Papa lakukan ini adalah yang terbaik untukku? Atau.. Terbaik untuk Papa?" tanya Ryan sambil menatap tajam ke arah Jonathan.
"Ryan, kamu masih sangat muda. Nanti saat kamu mulai berbisnis, kamu akan mengerti." sahut Jonathan.
"Aku tidak mau masuk ke dunia bisnis." kata Ryan.
"Tapi, The Big Heart memerlukan pewaris, Ryan. Kamu harus meneruskan perusahaan ini." sahut Jonathan dengan nada tinggi.
"Benar, The Big Heart memerlukan pewaris. Tapi, kenapa harus aku?" tanya Ryan sambil menghela napasnya.
"Karena kamu anak laki-laki satu-satunya yang Papa punya. Papa tidak punya anak lagi selain kamu dan Cilla." jawab Jonathan terus terang. Ryan yang mendengar pernyataan itu langsung berdiri dan pergi ke kamarnya.
"Ryan!" seru Jonathan. Namun, panggilannya tidak digubris oleh putranya itu.
"Minum tehnya, Tuan." kata Hendra sambil menyodorkan segelas teh hangat kepada Tuannya.
"Anak itu selalu membuat kepalaku pusing." kata Jonathan sambil menggelengkan kepalanya pelan. Ia meminum teh yang diberikan oleh Hendra secara perlahan.
"Hendra." panggil Jonathan.
__ADS_1
"Ya, Tuan." sahut Hendra.
"Menurutmu, kenapa Ryan tidak pernah menganggap aku memberikan yang terbaik untuknya?" tanya Jonathan sambil mengerutkan dahinya.
"Tuan, tolong jangan terlalu pikirkan itu. Ryan mungkin masih belum mengerti kemauan Tuan dan masa depannya." jawab Hendra yang tidak tahu harus memberi jawaban apa kepada Tuannya itu.
"Dia selalu bilang ingin menjadi dokter. Jika memang benar begitu, siapa lagi yang bisa aku tunjuk sebagai pewaris?" tanya Jonathan sambil membuang napasnya kasar.
"Tuan, saat ini saya harap Anda tidak memikirkan hal-hal yang membuat Anda resah. Dokter Jo bilang Anda harus menjaga kesehatan." kata Hendra yang berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan dari Tuannya.
"Baiklah. Kemarikan obatku." kata Jonathan.
"Ini, Tuan." sahut Hendra sambil menyodorkan satu pil dan segelas air putih.
"Terima kasih. Kamu boleh pulang." kata Jonathan setelah selesai meminum obatnya. Hendra membungkukkan badannya lalu pulang ke apartemennya.
...****************...
"Pa?" tanya Priscilla saat Papanya adalah orang yang mengetuk pintu.
"Cilla." panggil Jonathan.
"Iya, Pa?" tanya Priscilla.
"Papa mau tanya sesuatu." kata Jonathan.
"Apa yang mau Papa tanyakan?" tanya Priscilla sambil menggiring Jonathan untuk duduk di ranjangnya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Alvaro?" tanya Jonathan. Alvaro adalah tunangan Priscilla yang dipilih oleh Jonathan. Sejauh ini, hubungan mereka lebih seperti teman saja. 'Tunangan' hanyalah sebuah status paksaan bagi Priscilla maupun Alvaro yang tidak saling mencintai.
__ADS_1
"Ya, begitulah, Pa. Kami masih mengobrol seperti biasa. Kenapa Papa tiba-tiba menanyakan ini?" tanya Priscilla yang merasa Papanya agak berbeda hari ini.
"Apa kamu bahagia bersamanya?" tanya Jonathan.
"Bahagia? Hmm... Bisa dibilang antara iya dan tidak." sahut Priscilla sambil menggigit bibir bawahnya.
"Lalu, apakah kamu mencintainya?" tanya Jonathan sambil menatap mata Priscilla.
"Aku? Aku..." kata Priscilla yang terlihat gugup. Ia tidak tahu harus memberikan jawaban apa kepada Papanya.
"Tidak perlu dijawab. Papa pergi dulu." kata Jonathan yang langsung bangkit berdiri dan keluar dari kamar putrinya.
"Ada apa dengan Papa hari ini?" tanya Priscilla yang merasa heran dengan pertanyaan Jonathan.
...****************...
Kamar Jonathan
Pa, coba tanyakan pada diri Papa sendiri. Apa semua yang Papa lakukan ini adalah yang terbaik untukku? Atau.. Terbaik untuk Papa?
Bahagia? Hmm... Bisa dibilang antara iya dan tidak.
Kedua kalimat itu terus terngiang di kepala Jonathan. Ia mengambil sebuah bingkai foto yang terletak di atas meja. Itu adalah foto Ryan kecil yang sedang tertawa. Ryan terlihat sangat bahagia di foto itu.
Ia pun mulai mengenang kembali masa-masa itu dan mulai merenungkan dirinya.
Bersambung......
Halo semuanya, author mau ucapkan terima kasih banyak buat kalian yang masih setia membaca novel ini sampai sekarang. Setiap dukungan kalian di tahun 2021 sangat berarti bagi author. Selamat Tahun Baru 2022 🎉🎉🎉!!! Semoga harapan kita semua bisa terkabul di tahun ini, Amin.
__ADS_1