Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Hari Valentine


__ADS_3

Pagi Hari di Kediaman Jonathan


"Hoam.." kata Ryan yang pelan-pelan mengusap matanya yang masih belum terbuka dengan sempurna.


"Siapa ini?" kata Ryan sambil berdecak kesal. Ia belum sepenuhnya membuka kedua matanya saat menjawab panggilan telepon itu.


"Hei. Ryan, kamu masih tidur?" tanya Leo sambil tertawa.


"Hmm." sahut Ryan.


"Malas sekali." seru Leo.


"Hei. Leo!" teriak Ryan kesal.


"Oh, kamu ingin terus tidur karena kamu jomblo?" tanya Leo dengan nada meledek.


"Kurang ajar. Kamu juga belum ada pacar." seru Ryan.


"Haha. Lihat dirimu. Aku akan segera memilikinya." sahut Leo.


"Terserah. Teruskan imajinasimu." kata Ryan acuh.


"Aku serius kali ini." kata Leo dengan nada serius.


"Oh." sahut Ryan yang tidak tertarik dengan topik pembicaraan Leo.


"Hei. Apa kamu mendengarkanku? Aku benar-benar serius." sahut Leo.


"Hmm. Aku tidak tahu wanita mana yang mau berpacaran denganmu, tetapi menurutku tidak ada." kata Ryan santai.


"Ryan, kau.." seru Leo.


"Sudahlah, aku mau mandi. Aku tutup teleponnya." sahut Ryan yang langsung mengakhiri panggilan teleponnya dengan Leo.


"Hei." seru Leo.


"Anak ini." desah Leo sambil menggelengkan kepalanya.


...****************...


Parkiran Sekolah


Ryan turun dari sebuah mobil mewah berwarna hitam. Ia terlihat berbeda hari ini. Ia jauh lebih tampan dari hari biasanya karena memakai jas hitam dan juga kacamata hitam serta sepatu yang berwarna hitam.


"Ryan.. Lihat, dia tampan sekali." teriak salah seorang siswi.


"Aaaa, Ryan. Pangeran kami." teriak siswi lainnya. Para siswi pun mulai berkumpul mengerubungi Ryan.


"Bagaimana bisa dia se-tampan ini?" timpal siswi lain.


"Ehem.. Halo." kata Ryan. Ini mungkin pertama kalinya bagi Ryan untuk mengucapkan kata 'halo'. Entah kenapa dirinya tiba-tiba mengucapkan kata ini setelah ia melihat Dinda di sebrang sana. Ia kembali teringat bahwa Dinda hanya menganggapnya sebagai manusia tampan sedingin es di kutub utara.


Mungkin aku harus mulai bersikap ramah.. mulai dari.. mengucapkan kata 'halo'? batin Ryan.

__ADS_1


"Aaaa. Dia menyapa kita." teriakan histeris para siswi terdengar sampai ke lobi sekolah.


"Ini gila. Penampilan Ryan hari ini memang bukan main. Aku bisa menggila sekarang." kata Angel dengan manja. Ia memang merasa bahwa matanya telah dimanjakan oleh ketampanan Ryan hari ini.


"Gel." panggil Ica sambil terus mengguncang keras bahu Angel.


"Apa?" tanya Angel kesal. Ia sedang asik memandangi wajah Ryan yang super tampan hari ini, tetapi Ica malah menggoyangkan bahunya berulang kali yang tentu saja menganggu konsentrasinya.


"Lihat anak baru itu." kata Karen sambil menunjuk ke arah sebrang.


"Dia lagi. Mentang-mentang anaknya Revan." sahut Angel sambil berdecak kesal.


"Gimana tuh jadinya?" tanya Mellisa.


"Isengin lagi juga ga mungkin. Tuh liat, ada bodyguard jagain." kata Belinda.


"Memangnya dia artis? Harus sampai dijaga bodyguard segala!" gerutu Angel dengan raut wajah yang masam sambil mengehentakkan kaki lalu pergi meninggalkan tempat parkir yang penuh dengan keramaian itu.


"Tau tuh." sahut Karen dengan raut wajah yang sama masamnya dengan Angel.


...****************...


"Halo." sapa Ryan kepada Clarissa. Clarissa yang saat itu melamun karena memandangI penampilan Ryan yang berbeda hari ini benar-benar terkejut saat tiba-tiba Ryan menyapanya.


"H-hai." sahut Clarissa.


"Halo, Manda." sapa Ryan.


"Hah?" kata Amanda kaget.


"Ah, halo juga." kata Amanda.


"Bagaimana rasanya menjadi se-tampan ini?" tanya Leo yang tiba-tiba muncul seperti hantu di sebelah Ryan yang kala itu sedang menuju ke aula sekolah untuk persiapan menjadi MC acara hari ini.


"Biasa saja. Aku memang selalu sangat tampan setiap hari." jawab Ryan.


"Cih." cibir Leo.


"Kenapa? Kamu iri?" tanya Ryan.


"Tidak!" seru Leo.


"Aku juga tampan!" teriak Leo kesal.


"Iya." kata Ryan.


"Hei, apa kamu sungguh mengakui bahwa aku tampan?" tanya Leo senang.


"Iya." jawab Ryan.


"Sungguh?" tanya Leo antusias.


"Iya." jawab Ryan sambil mengangkat kedua alisnya.

__ADS_1


"Hei, Ryan. Kamu serius, 'kan?" tanya Leo memastikan.


"Iya." jawab Ryan.


"Ryan!" panggil Leo.


"Iya." sahut Ryan.


"Apa kamu kerasukan?" tanya Leo bingung.


"Iya." jawab Ryan.


"Astaga." kata Leo sambil menggelengkan kepala dan menghela napas panjang.


...****************...


Koridor Sekolah Lantai 2


"Din.. Dindaaaaa!!!" teriak Amanda yang terlihat sedang tergesa-gesa menuju ke arah Dinda.


"Ada apa?" tanya Dinda.


"Ryan.. dia.." kata Amanda sambil brrusaha mengatur pernapasannya.


"Kenapa?" tanya Dinda.


"Aku merasa bahwa kamu yang memengaruhinya." jawab Amanda


"Aku? Ada apa?" tanya Dinda bingung.


"Dia benar-benar.. bukan Ryan yang dulu." jawab Amanda.


"Hmm. Lalu?" tanya Dinda cuek.


"Apa maksudmu lalu?" sahut Amanda.


"Apa kamu tahu? Sepertinya dia menyukaimu." kata Amanda.


"Haha, mana mungkin." sahut Dinda.


"Hei. Aku serius." sahut Amanda dengan antusias.


"Darimana kamu tahu? Kamu pasti bercanda, Manda." sahut Dinda sambil tertawa.


"Tidak. Daritadi dia terus melihat ke arahmu dan tersenyum. Senyumannya bahkan tidak terkontrol lagi. Ini pertama kalinya aku melihatnya tersenyum seperti ini." celetuk Amanda dengan penuh keyakinan.


"Lalu?" tanya Dinda dengan polosnya.


"Lalu! Lalu.. Kenapa kamu masih tidak menyadarinya?" seru Amanda kesal.


"Sudahlah, Manda. Kamu terlalu banyak menghayal. Apa kamu kurang tidur?" tanya Dinda sambil meletakkan punggung tangan kanannya ke kening Amanda.


"Din.. Aku serius." sahut Amanda antusias. Namun, Dinda memilih mengabaikan sahabatnya itu karena menurutnya Amanda hanya menghayal.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2