Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Hari Kelulusan


__ADS_3

Pagi hari di aula SMA Tunas Bangsa II


"Anak-anak, Bapak sangat senang nilai ujian kalian semuanya memuaskan. Bapak juga senang bisa bersama dengan kalian selama 3 tahun di SMA Tunas Bangsa II ini. Dengan demikian, hari ini adalah hari kelulusan untuk kalian. Selamat menempuh perjalanan hidup yang baru di jenjang pendidikan yang berikutnya. Semoga kalian semua berbahagia pada hari yang spesial ini, terima kasih," kata sang Bapak Kepala Sekolah. Semua murid kelas XII dan guru yang hadir pada hari ini bertepuk tangan dengan gembira menyambut acara hari kelulusan.


"Yey! Akhirnya kita lulus dari SMA ini," kata Dinda dengan antusias.


Namun, di saat semua yang hadir pada hari ini berbahagia, sepertinya momen ini tidak membahagiakan bagi Rangga yang terus menundukkan kepalanya ke bawah sejak tadi. Melihat sahabatnya sedih, Ryan yang baru saja menerima piala dan sertifikat sebagai murid dengan nilai tertinggi langsung menghampiri Rangga dan berdiri di sebelahnya.


"Rangga, kita 'kan udah lulus, kenapa kamu masih sedih?" tanya Ryan dengan kedua matanya yang menatap kedua mata Rangga.


"Kita bakal jarang ketemu lagi pas udah kuliah," jawab Rangga sambil menundukkan kepalanya ke bawah seolah-olah sudah melakukan sebuah kesalahan.


"Iya sih, tapi kamu gak usah sedih. Kita tetep bisa saling komunikasi walaupun nanti harus pisah." Ryan menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.


"Iya." Rangga mengangguk setuju.


"Ryan, kamu janji ya kalau kita harus saling komunikasi pas kuliah nanti," kata Rangga seraya merangkul pundak Ryan.


"Iya, aku janji," sahut Ryan sambil tersenyum dan membalas pelukan Rangga.


“By the way, congrats ya udah jadi juara 1… Kira-kira reaksi Dinda bakal kayak gimana, ya?”


“Makasih, kali ini mujinya tulus apa engga nih gara-gara aku berhasil jadi juara 1 terus Dinda jadinya dapet juara 2?” tanya Ryan penasaran.


“Tulus kok,” jawab Rangga sambil mengangguk.


“Aku yang gak tulus,” celetuk Ayu yang datang bersama dengan Dinda.


“Masa sih kamu harus dikalahin sama pacar kamu-”


“Mereka berdua ‘kan udah tunangan, Sayang,” kata Rangga mengingatkan.


“Iya itu maksud aku. Kamu terima juara 1 diambil sama Ryan, Din?” tanya Ayu sambil menatap wajah Dinda.

__ADS_1


“Ya abisnya mau gimana lagi, masa aku harus putusin dia gara-gara dia dapet juara 1?” balas Dinda yang balik bertanya kepada Ayu. Ayu terdiam dan mengalihkan tatapannya ke arah Ryan.


“Jangan dong, Sayang, nanti kamu nyesel kalau putusin tunangan yang ganteng kayak aku,” kata Ryan sambil tersenyum.


“Bodo amat,” sahut Dinda tidak acuh. Ryan pun langsung memeluk Dinda seerat mungkin.


“Aku cinta sama kamu, Sayang. Selama kamu seneng, aku bakal lakuin apa pun buat kamu,” bisik Ryan persis di telinga kiri Dinda


“Kalau gitu, jangan kuliah di Amerika Serikat. Kuliah di London aja sama aku,” balas Dinda pelan. Ryan langsung melepaskan pelukannya dan menatap wajah Dinda dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Berat banget ya permintaannya.” Ayu menggelengkan kepalanya.


“Dia sendiri yang bilang mau lakuin apa pun buat aku, ‘kan?” tanya Dinda sambil menatap Ayu.


“Iya sih,” sahut Ayu sambil mengangkat bahunya dan menatap Dinda dan Ryan secara bergantian.


“Oke, aku bakal kuliah di London kalau itu yang kamu mau,” kata Ryan setelah beberapa saat ia berpikir keras untuk menjawab permintaan Dinda.


”Engga, Sayang. Aku bercanda doang tadi. Kamu harus kuliah di negara sama kampus yang kamu suka dan yang bisa mendukung impian kamu buat jadi dokter.” Dinda tersenyum, Ryan pun kembali memeluk Dinda dengan perasaan lega.


"Heh, jangan menebar kasih sayang di sini dong!" bentak Ayu, setengah berteriak sampai membuat Rangga yang berdiri di sebelahnya terkejut.


"Kenapa?" tanya Ryan penasaran.


"Bapak Kepala Sekolah lewat tuh," sahut Ayu sambil memandangi Bapak Kepala Sekolah yang lewat di samping kanan mereka. Untungnya, Kepala Sekolah itu segera pergi dari hadapan mereka.


"Maaf Pak, tapi udah terlanjur haha," kata Ryan sambil tertawa lepas.


"Ryan barusan ketawa ya? Akhirnya aku bisa liat dia ketawa setelah satu abad," celetuk Leo yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping kanan Ryan.


"Satu abad dari mana, ngaco." Ryan menatap tajam kedua mata sepupunya itu.


"Inilah kekuatan cinta ya guys, orang yang paling cool juga bisa ketawa kalau ada orang yang dia cinta di sebelahnya," jelas Leo sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ck ck ck, Leo, kamu harusnya lebih perhatiin Clarissa daripada aku. Clarissa daritadi diem aja tuh nungguin kamu di sana," kata Ryan sambil memberikan kode kepada Leo untuk menghampiri Clarissa.


"Iya juga." Leo mengangguk paham. Ia langsung mendatangi tempat di mana Clarissa berdiri menunggunya. Sementara itu, Ryan berjalan keluar dari aula sekolah.


"Clarissa Sayang," panggil Leo.


"Ya." Clarissa menyahut dengan tidak acuh.


"Aku kelamaan ya ngobrolnya?" tanya Leo.


"Iya, udah tau masih nanya," jawab Clarissa.


"Makasih udah nungguin aku di sini, Sayang." Leo langsung memeluk Clarissa dari depan untuk menenangkannya.


Tidak lama kemudian, Ryan kembali ke aula dan menghampiri Dinda dengan sesuatu yang ia pegang di belakang punggungnya.


"Happy Graduation, dear fiancée. I love you," kata Ryan sambil menyodorkan buket bunga mawar kepada Dinda. Dinda langsung menerima buket bunga itu dengan antusias.


“Makasih, Sayang. Tapi aku lupa siapin kado buat kamu, kamu mau apa?” tanya Dinda sambil menatap wajah Ryan.


“Hmm, aku mau kamu anterin aku ke bandara minggu depan,” pinta Ryan sambil tersenyum.


“Kamu berangkat ke Amerika Serikat minggu depan?” tanya Dinda.


“Iya, kamu kapan berangkatnya?” sahut Ryan.


“Aku belum pesen tiketnya,” jawab Dinda.


“Kalau gitu, pesen minggu depan aja, ya? Supaya kita perginya barengan,” kata Ryan sembari menatap kedua mata Dinda.


“Oke.” Dinda mengangguk setuju.


Kemudian, Ryan dan Dinda berfoto bersama dengan teman-teman dan guru-guru mereka sampai siang hari.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2