
“Ayo kita naik perosotan yang itu!” ajak Dinda sambil menatap wajah Ryan.
“Ayo,” balas Ryan sambil memegang tangan kanan Dinda.
”Kita pake ban yang bisa buat dua orang aja, ya,” kata Dinda.
“Iya, Sayang,” sahut Ryan. Setelah mereka berdua puas bermain perosotan, mereka menuju ke kolam renang yang berada di tengah-tengah. Kolam ini memiliki perahu yang bisa ditumpangi sendiri bagi pengunjung yang mau melakukannya.
“Sayang, kita naik perahu itu, yuk!” ajak Dinda.
“Iya, Sayang,” sahut Ryan. Ia dan Dinda naik ke atas perahu itu lalu ia pun mulai mendayung perahu itu. Sementara itu, Dinda terlihat begitu menikmati pemandangan langit yang indah di sore hari.
“Sayang, biar aku aja yang dayungin perahunya kali ini,” kata Dinda setelah Ryan sudah mendayung perahu itu cukup lama.
“Gak usah, kamu nikmatin pemandangannya aja, Sayang,” sahut Ryan sambil tersenyum.
“Kamu gak cape dayungin perahunya terus? Yakin gak mau gantian?” tanya Dinda bingung.
“Gapapa, Sayang. Aku gak cape kalau liat muka kamu yang cantik,” jawab Ryan sambil tersenyum.
“Kamu masih bisa gombal juga di saat kayak gini,” kata Dinda.
“Aku gak gombal, Sayang. Aku serius,” sahut Ryan.
“Iya, aku percaya kok kamu serius. Ayo kita berenang aja di sana!" ajak Dinda sambil menunjuk ke arah kolam renang biasa yang ada di depan mereka.
“Oke,” sahut Ryan. Mereka berdua mengembalikan perahu itu ke tempat yang semula. Lalu, mereka berjalan menuju kolam renang yang berada di depan mereka dan mulai berenang. Awalnya, mereka berenang seperti biasa. Namun, Dinda mulai mencipratkan air ke wajah Ryan.
__ADS_1
“Bagi kamu cipratin air ke aku itu seru?” tanya Ryan sambil tersenyum.
“Iya, seru banget,” jawab Dinda sambil tertawa.
“Yaudah, cipratin aja sampai kamu puas,” kata Ryan.
“Oke, kamu yang minta sendiri, ya,” sahut Dinda sambil tersenyum dan kembali mencipratkan air ke arah Ryan. Tidak lama kemudian, Dinda berhenti mencipratkan air ke pacarnya.
“Kamu udah puas?” tanya Ryan.
“Udah, nanti kamu bisa masuk angin kalau aku cipratin air terus,” jawab Dinda sambil menghela napas.
“Kamu beneran khawatir kalau aku masuk angin?” tanya Ryan yang sengaja ingin menggoda Dinda.
“Iya, kenapa? Memangnya aku gak boleh khawatir?” tanya Dinda sambil maju mendekat ke tubuh Ryan dan menatap kedua mata Ryan.
“Kita berenang sekali puteran lagi abis itu kita mandi sama makan, ya?” tanya Dinda yang langsung mengalihkan topik pembicaraan.
“Iya, Sayang,” jawab Ryan.
...****************...
Setelah mereka selesai mandi, mereka pun memasukkan baju berenang mereka ke dalam loker. Lalu, mereka menuju ke beberapa restoran yang buka di sekitar sana.
“Sayang, kamu mau makan apa?” tanya Ryan.
“Makan ayam goreng itu juga boleh,” jawab Dinda sambil melihat ke arah salah satu restoran ayam goreng yang ada di depan mereka.
__ADS_1
“Oke, aku beli dulu. Kamu duduk aja,” sahut Ryan. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam restoran itu dan Ryan memesankan dua porsi nasi dan ayam goreng untuknya dan Dinda.
“Ini punya kamu,” kata Ryan sambil memberikan sebuah dus yang berisi nasi dan dua potong ayam goreng kepada Dinda.
“Makasih, Sayang,” sahut Dinda. Ia dan Ryan pun memakan semuanya sampai habis. Setelah itu, mereka berdua bergantian untuk cuci tangan.
“Sayang,” panggil Ryan setelah mereka berdua sudah selesai mencuci tangan.
”Iya,” balas Dinda sambil menatap kedua mata Ryan yang terlihat gelisah.
”Aku mau minta tolong sama kamu,” kata Ryan.
“Bilang aja, aku bakal tolongin kamu sebisa aku,” sahut Dinda.
“Papa aku sebenernya gak setuju kalau aku pacaran sama kamu karena Papa aku pernah ada konflik sama Papa kamu. Konflik itu udah selesai, tapi di antara Papa aku sama Papa kamu mungkin masih ada dendam,” kata Ryan.
“Oke, aku ngerti. Apa yang bisa aku bantu?” tanya Dinda sambil memegang tangan kanan pacarnya itu dengan tangan kirinya.
“Asisten pribadi Papa, Pak Herman, dia bilang aku harus minta tolong kamu supaya Papa kamu mau ketemu lagi sama Papa aku baru semua dendamnya bisa selesai,” jawab Ryan dengan jujur.
“Aku bisa bilangin itu ke Papa, tapi Papa jarang ada di rumah, aku juga gak tau kapan Papa balik lagi,” kata Dinda.
“Nanti kamu kabarin aku aja kalau Papa kamu udah balik. Aku bakal bujuk Papa aku supaya mau ketemu sama Papa kamu,” sahut Ryan.
“Oke,” balas Dinda sambil mengangguk.
Bersambung……
__ADS_1