
Sore hari di Cafe
“Ri,” panggil Dinda.
“Kenapa, Sayang?” tanya Ryan.
“Aku mau foto kamu, boleh gak?" sahut Dinda sambil menatap wajah tampan Ryan yang duduk di depannya saat ini.
"Hmm, buat apa?" tanya Ryan.
"Buat aku simpen fotonya," jawab Dinda sambil mengeluarkan ponselnya dari tas selempang yang ia pakai.
"Ayo, senyum dong," kata Dinda sambil tersenyum. Ryan pun tersenyum lebar karena melihat pacarnya bahagia juga membuatnya bahagia.
Cekrek!
"Jadiin foto aku wallpaper di HP kamu," bisik Ryan.
"Kenapa harus bisik-bisik?" tanya Dinda kesal.
"Jadi, kamu mau aku teriak?" sahut Dinda Ryan.
"Engga, gak usah teriak," jawab Dinda sambil mengganti wallpaper smartphone-nya.
"Nih, udah, ya," kata Dinda sambil menunjukkannya kepada Ryan.
"Sayang," panggil Ryan.
"Iya?" sahut Dinda.
"Kenapa kamu mau ajak aku ke sini?" tanya Ryan penasaran. Cafe ini memang cukup elegan tapi harga menunya tidak terlalu mahal.
"Karena dari lantai tiga kita bisa liat pemandangan," jawab Dinda sambil tersenyum.
"Tapi kenapa kamu mau duduk di lantai satu?" tanya Ryan bingung.
__ADS_1
"Di lantai tiga rame. Kita naik ke atas kalau udah selesai makan," kata Dinda. Kemudian, ia berdoa dan mulai menyantap makanan kesukaannya, yaitu nasi goreng.
"Hmm," sahut Ryan yang juga berdoa lalu memakan makanan yang sudah dipesannya. Ryan memesan menu yang sama seperti Dinda supaya ia bisa tahu selera kekasihnya itu.
Setelah selesai makan, Dinda langsung menarik lengan Ryan untuk cuci tangan lalu naik ke lantai tiga.
"Sayang," panggil Dinda saat mereka sudah sampai di balkon cafe lantai tiga.
"Kenapa, Sayang?" sahut Ryan.
"Menurut kamu, lebih indah pemandangan langit di atas atau perkotaan di bawah?" tanya Dinda sambil menatap ke atas dan bawah secara bergantian.
"Dua-duanya indah, tapi ada yang lebih indah dari itu," jawab Ryan yang terus menatap wajah Dinda sejak tadi.
"Apa?" tanya Dinda sambil menatap wajah Ryan.
"Kalau aku boleh peluk kamu kayak gini," jawab Ryan sambil memeluk Dinda dari samping.
"Dasar modus," kata Dinda sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Ryan. Saat asik-asiknya bersandar, ia tiba-tiba teringat akan sesuatu.
"Kamu pernah peluk Alexa kayak gini?" sahut Dinda yang tiba-tiba terpikirkan akan mantan Ryan itu.
"Kenapa? Kamu cemburu?" tanya Ryan sambil tersenyum.
"Engga, aku 'kan cuma nanya," jawab Dinda.
"Oo, jadi, kamu cuma nanya," sahut Ryan yang pura-pura tidak paham dengan jawaban Dinda.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku," kata Dinda mengingatkan.
"Pernah," jawab Ryan jujur.
"Kalau gitu, jangan peluk aku kayak gini," sahut Dinda sambil melepaskan diri dari pelukan Ryan. Ryan pun tersenyum dan akhirnya ia memeluk Dinda dari belakang sambil memegang kedua tangan pacarnya itu.
"Kalau yang ini gak pernah kok," kata Ryan.
__ADS_1
"Beneran gak pernah?" tanya Dinda sambil memicingkan kedua matanya karena curiga.
"Gak pernah. Aku gak bakalan peluk cewe lain kayak gini," jawab Ryan.
"Kamu bisa ngomong itu sekarang. Nanti kalau ada yang lebih cakep dari aku, kamu juga bakalan suka sama dia, 'kan?" tanya Dinda.
"Kamu ngomong apa tadi, hmm?" balas Ryan sambil mengeratkan pelukannya.
"Dinda Sayang, apa kamu masih belum tau sebesar apa rasa sayang aku ke kamu?" tanya Ryan.
"Aku tau," sahut Dinda. Ryan pun membalikkan badan Dinda menjadi mengarah kepadanya.
"Coba kamu pegang dada aku," kata Ryan sambil memegang tangan Dinda lalu menaruhnya di dadanya. Dinda bisa merasakan dengan jelas bahwa detak jantung Ryan berdegup sangat cepat saat ini.
"Kamu udah ngerti?" tanya Ryan sambil tersenyum.
"Iya, tapi detak jantung 'kan cuma sementara," jawab Dinda.
"Jadi, kamu mau aku lakuin apa buat buktiin rasa sayang aku ke kamu?" tanya Ryan dengan tatapan seriusnya.
"Gak usah, tadi aku cuma bercanda kok," jawab Dinda sambil tertawa.
"Sayang," panggil Ryan.
"Iya?" tanya Dinda.
"Aku mau ketemu kamu tiap hari," kata Ryan.
"Bukannya kita juga udah ketemu tiap hari? Dari senin sampe jumat kita ketemu di sekolah. Terus sabtu kita pergi berdua kayak hari ini. Minggu kita ketemu di gereja juga," sahut Dinda polos.
"Maksudnya, aku mau kita kencan kayak gini tiap hari," kata Ryan sambil tersenyum.
"Apa?" tanya Dinda kaget.
Bersambung......
__ADS_1