Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Kejutan Di Halaman Rumah Ryan


__ADS_3

Pagi hari di sekolah


“Ryan,” panggil Bu Amelia, guru Fisika Ryan, sambil menyerahkan kertas ujian ke arah Ryan.


“Nilai kamu mulai meningkat lagi. Selamat, Nak,” imbuh Bu Amelia sambil tersenyum senang.


“Makasih, Bu,” kata Ryan yang juga tersenyum senang.


...****************...


Siang hari di sekolah


“Ryan, tangkep!” seru salah satu teman Ryan di dalam tim basket sambil melemparkan bola basket ke arah Ryan untuk di-shoot ke dalam ring. Ryan pun menangkap bola itu dan memasukkannya ke dalam ring sehingga timnya memenangkan pertandingan basket kali ini.


“Gol! Yey!” teriak semua penonton yang menyaksikan pertandingan basket itu.


“Ryan! Ryan! Ryan!” teriak para siswi sambil mengerumuni Ryan. Ryan berkali-kali menunduk ke arah penonton sebagai tanda terima kasih dan tersenyum. Setelah itu, ia segera berlari menghampiri Dinda.


“Selamat, Sayang,” kata Dinda dengan antusias.


“Thank you, Baby," sahut Ryan sambil tersenyum.


...****************...


Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Ryan segera pergi ke kelas Dinda di XII MIPA 2 untuk pulang bersama dengan pacarnya itu.


"Hai, Sayang," sapa Dinda saat melihat Ryan yang sudah menunggu di depan kelasnya.


"Kita pulang bareng, ya. Aku mau kasih kejutan buat kamu," kata Ryan sambil tersenyum.


“Apa tuh kejutannya?” tanya Dinda penasaran.


“Kamu bakal tau nanti,” sahut Ryan sambil menggandeng tangan kanan pacarnya itu. Mereka berdua akhirnya sampai di rumah Ryan. Ryan pun mengajak Dinda untuk berjalan-jalan di halaman rumahnya.

__ADS_1


Di halaman rumah itu, terdapat bangku besi yang panjang. Lalu, ada beberapa lampu taman yang berwarna kuning. Setelah itu, Dinda juga melihat bunga-bunga Mawar, Melati, dan Anggrek di sekitar bangku besi itu. Setelah melihat halaman rumah yang begitu cantik ini, Dinda pun tahu bahwa halaman rumah ini pasti sudah dirancang untuk menjadi sebuah taman yang indah.


“Kamu yang siapin ini semua?” tanya Dinda dengan nada antusias.


“Iya,” jawab Ryan sambil tersenyum.


“Thank you udah ajak aku ke sini,” kata Dinda.


“Dinda Sayang,” panggil Ryan.


“Iya,” sahut Dinda yang langsung menoleh ke arah Ryan.


“Kamu masih inget pertemuan pertama kita?” tanya Ryan.


“Inget,” jawab Dinda. Ia bingung alasan Ryan menanyakan pertanyaan barusan. Ia pun mengamati keadaan di sekitarnya dan mencoba mengingat tempat apa yang mirip dengan halaman rumah Ryan saat ini.


“Kamu sengaja bikin halaman rumah kamu jadi kayak tempat pertemuan pertama kita?” tanya Dinda setelah ia mengingat tempat ini terasa familiar karena mirip dengan tempat di mana mereka berdua pertama kali bertemu.


“Iya,” kata Ryan.


”Supaya aku gak bisa lupain kamu,” jawab Ryan. Dinda tersipu malu mendengar jawaban Ryan.


“Kamu liat deh ke atas. Bulan sabitnya cantik, ‘kan?” tanya Ryan sambil melihat ke atas.


“Iya,” jawab Dinda sambil mengangguk. Sementara Dinda melihat ke atas, Ryan memeluk pacarnya itu dari belakang. Dinda yang kaget pun spontan berteriak. Ryan langsung melepaskan pelukannya supaya pacarnya itu tidak berteriak lagi.


“Sorry, aku gak sengaja teriak tadi,” kata Dinda setelah menyadari bahwa yang memeluknya tadi adalah Ryan.


“Gapapa kok,” sahut Ryan.


“Aku bukannya gak bolehin kamu peluk, tapi kamu kalau mau peluk bilang dulu dong. Tadi aku pikir bukan kamu yang peluk aku makanya aku teriak,” kata Dinda menjelaskan.


“Di sini cuma ada kita berdua, kalau bukan aku siapa lagi yang bakal peluk kamu? Hantu?” tanya Ryan sambil tertawa.

__ADS_1


“Ih, kamu malah sengaja takut-takutin aku,” sahut Dinda dengan nada kesal.


“Sorry, Sayang. Aku izin peluk kamu, ya,” kata Ryan dengan lembut. Ia kembali merangkul tubuh pacarnya itu dari belakang.


“Aku mau kita bisa kayak gini terus,” bisik Ryan di telinga kanan Dinda.


“Kamu manja banget sih,” kata Dinda sambil menatap wajah Ryan.


“Aku manjanya cuma sama kamu. Kamu mau aku manja sama cewe lain?” tanya Ryan yang sengaja menggoda pacarnya.


“Awas aja kalau kamu berani manja ke cewe lain,” sahut Dinda sambil mengalihkan pandangannya ke depan.


“Aku sukanya cuma sama kamu. Aku gak bisa manja ke cewe lain,” kata Ryan sambil tersenyum.


“Masa sih?” tanya Dinda dengan nada penasaran.


“Hmm, iya,” jawab Ryan.


“Aku gak percaya,” kata Dinda dengan nada ketus.


“Gapapa kalau kamu gak percaya sama aku sekarang, nanti juga kamu bakal sadar kalau aku gak mungkin bisa manja lagi ke cewe lain,” sahut Ryan sambil tersenyum.


“Kenapa gak bisa?” tanya Dinda bingung.


“Karena aku udah dipertemukan sama kamu oleh Tuhan. Jadi aku gak bisa pacaran sama cewe lain lagi selain kamu,” jawab Ryan menjelaskan.


“Oke, aku percaya sama kamu,” sahut Dinda.


“Makasih, Sayang,” kata Ryan sambil tersenyum.


“Sayang, aku anter kamu pulang, ya,” imbuh Ryan.


”Iya,” balas Dinda sambil mengangguk. Ryan pun menuntun Dinda untuk masuk ke dalam mobilnya dan mengantar pacarnya itu kembali ke rumah.

__ADS_1


Bersambung……


__ADS_2