Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Hubungan Ryan dan Dinda Direstui


__ADS_3

Malam hari di kamar Dinda


“Dinda," panggil Satrio sambil berjalan menghampiri putrinya yang sedang duduk santai di atas kasur.


"Iya, kenapa, Pa?" sahut Dinda.


"Papa mau bicara sesuatu sama kamu,” kata Satrio. Ia pun duduk di ujung ranjang sebelah Dinda.


“Papa mau ngomong apa?” tanya Dinda sambil menatap wajah Satrio.


”Papa restuin hubungan kamu sama Ryan,” jawab Satrio sambil mengelus kepala putrinya itu.


“Makasih, Pa,” sahut Dinda yang langsung tersenyum bahagia begitu mendengar perkataan Papanya barusan.


“Tapi Papa mau kamu lapor dulu sama Papa kalau kamu lagi pergi berdua sama Ryan supaya Papa gak khawatir,” kata Satrio mengingatkan.


“Iya, Pa. Aku pasti bakal lapor ke Papa,” balas Dinda sambil mengangguk..


“Satu lagi, kamu bakal ada ujian sekolah di semester depan. Walaupun Papa bolehin kamu pacaran, tapi kamu tetep harus belajar yang rajin, ya. Kalau bisa kamu sama Ryan belajar bareng aja,” kata Satrio mengingatkan.


“Iya, aku tau, Pa. Makasih,” sahut Dinda sambil tersenyum lalu memeluk Papanya.


“Sama-sama, Sayang,” balas Satrio sambil membalas pelukkan dari putrinya itu. Kemudian, ia melangkah keluar dari kamar Dinda. Tidak lama kemudian, ponsel Dinda berbunyi karena ada telepon dari Ryan.


“Halo, Sayang,” sapa Ryan sambil melambaikan tangan kanannya.


“Hai, Sayang,” sahut Dinda yang juga ikut melambaikan tangan kanannya.


“Aku ada kabar baik,” kata Dinda dengan sangat antusias.


“Apa tuh kabar baiknya?” tanya Ryan. Walaupun sebenarnya Ryan sudah tidak sabar ingin mengatakannya terlebih dulu, tapi setelah melihat Dinda yang begitu antusias, ia pun menahan mulutnya untuk berbicara.


“Papa aku bolehin kita pacaran,” jawab Dinda sambil tersenyum bahagia.


“Aku juga ada kabar baik, Sayang,” balas Ryan.


“Apa kabar baiknya?” tanya Dinda penasaran.


“Papa aku udah restuin hubungan kita,” sahut Ryan sambil tersenyum.


“Wah, bagus dong. Harusnya kalau hubungan kita udah direstuin berarti konflik mereka juga udah selesai ‘kan?” balas Dinda.

__ADS_1


“Iya,” jawab Ryan. Mereka berdua saling menatap melalui layar ponsel selama beberapa saat tanpa berbicara satu kata pun sampai akhirnya Dinda membuka percakapan lagi di antara mereka.


“Kenapa kamu senyum kayak gitu?” tanya Dinda setelah melihat pacarnya yang tersenyum terus-menerus sejak tadi.


“Karena aku punya pacar yang cantik banget,” jawab Ryan yang masih tersenyum.


“Ish, kamu bisanya cuma gombal terus, ya?” sahut Dinda dengan nada bercanda.


“Engga kok, aku bisa lakuin yang lain yang lebih baik daripada gombal,” kata Ryan.


“Apa?” tanya Dinda.


“Bikin kamu yang cantik banget bisa mau jadi pacar aku,” jawab Ryan sambil tertawa.


“Ri,” panggil Dinda.


”Hmm, kenapa, Sayang?” tanya Ryan.


“Aku mau kamu senyum lagi kayak tadi,” jawab Dinda. Ryan pun kembali tersenyum seperti tadi selama beberapa saat.


“Kenapa?” tanya Ryan penasaran.


“Kamu makin pinter godain aku, ya?” tanya Ryan.


”Iya dong,” jawab Dinda.


“Ini udah waktunya kamu tidur, Sayang. Good night and sweet dreams. Jangan lupa mimpiin aku,” kata Ryan.


“Oke, good night, Sayang. Bye,” sahut Dinda sambil melambaikan tangan kanannya ke arah kamera ponselnya.


“Bye,” kata Ryan yang juga melambaikan tangan kanan ke kamera ponselnya.


...****************...


Pagi hari di rumah Dinda


“Good morning, Sayang,” sapa Ryan sambil tersenyum.


“Morning too,” balas Dinda yang juga ikut tersenyum.


“Kamu lagi ngapain sekarang?” tanya Ryan penasaran.

__ADS_1


“Aku barusan selesai mandi. Sekarang aku baru mau sarapan sih,” jawab Dinda.


“Hmm, yaudah, kamu sarapan dulu, ya. Aku bakal tungguin kamu sampai kamu udah selesai sarapan,” kata Ryan.


“Hah? Kenapa kamu tungguin aku selesai sarapan?” tanya Dinda bingung.


“Coba deh kamu liat ke bawah dari jendela, Sayang,” kata Ryan. Dinda pun melangkah ke jendela kamarnya dan melihat ke bawah. Ia melihat Ryan yang sedang memegang ponsel di telinga kanan dan tangan kirinya melambai ke arah Dinda.


“Kamu dateng ke sini supaya kita bisa berangkat bareng ke sekolah?” tanya Dinda dengan nada suara yang terdengar antusias.


“Iya, Sayang,” jawab Ryan.


“Oke, aku sarapan dulu, ya. Bye, Sayang,” kata Dinda.


“Bye,” sahut Ryan. Dinda segera bergegas turun ke dapur untuk menyantap sarapannya pagi ini. Ia memakan roti sandwich yang rasanya begitu lezat. Setelah itu, ia segera keluar dari rumahnya untuk menghampiri Ryan yang sudah menunggunya sejak tadi. Ryan bahkan sudah membukakan pintu mobil untuk Dinda. Dinda segera menaiki mobil tersebut dan Ryan menyetir mobil sportnya yaitu Porsche menuju ke sekolah.


“Makasih ya kamu udah mau dateng ke sini supaya kita bisa berangkat bareng ke sekolah,” kata Dinda sambil tersenyum. Sejujurnya, ia sangat senang melihat kedatangan Ryan yang mendadak pada pagi hari ini.


“Kamu gak perlu terima kasih ke aku, Sayang. Memang udah seharusnya aku anter jemput kamu setiap hari,” sahut Ryan.


“Apa? Setiap hari? Jangan! Gak usah setiap hari, Sayang,” kata Dinda dengan nada panik karena terkejut.


“Kenapa gak usah?” tanya Ryan bingung.


“Karena bensin mobilnya mahal. Terus kamu kalau anter jemput aku setiap hari pasti capek juga. Kamu itu bukan supir aku, tapi pacar aku,” jawab Dinda.


“Tapi aku mau ketemu kamu setiap hari, Sayang,” kata Ryan.


”Tapi gak perlu begini juga caranya, Sayang” sahut Dinda yang merasa tidak enak.


“Oke, aku bakal jemputin kamu dari sekolah ke rumah aja sama pas hari minggu kita berangkat dan pulang bareng, gimana?” tawar Ryan.


“Oke,” jawab Dinda sambil mengangguk. Tidak lama kemudian, mereka sudah sampai di sekolah. Ryan segera memarkirkan mobilnya lalu mematikan mesin mobilnya. Ia juga melepaskan sabuk pengamannya.


“Kamu tunggu dulu di situ,” kata Ryan. Dinda tidak mengerti mengapa Ryan menyuruhnya untuk tetap menunggu di dalam mobil. Ryan segera turun dari mobil dan melangkah menuju ke sisi kiri mobilnya dimana Dinda duduk. Ia pun membukakan pintu mobil untuk Dinda sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah pacarnya itu. Dinda meraih tangan kanan Ryan dan ia turun dari mobil.


“Makasih,” kata Dinda sambil tersenyum.


“Sama-sama,” balas Ryan yang langsung membalas senyuman Dinda.


Bersambung……

__ADS_1


__ADS_2