
Ia pun mulai mengenang kembali masa-masa itu dan mulai merenungkan dirinya.
...****************...
Flashback On
20 tahun yang lalu di The Big Heart Company
"Jonathan, sebagai pemilik perusahaan, kamu tidak harus memakai cara selicik ini untuk menyingkirkanku 'kan?" tanya Satrio.
"Apa kamu tau? Belas kasihan selalu membuatmu gagal." kata Jonathan muda yang angkuh.
"Apa?" sahut Satrio terkejut. Ia tidak pernah menyangka Jonathan akan berubah menjadi seperti ini.
"Kamu sebenarnya bisa mengambil kesempatan untuk menjadi pemilik perusahaan ini. Kamulah yang lengah dan sok baik memikirkan perasaanku. Aku tidak pernah memikirkan perasaan orang lain saat berbuat sesuatu. Itulah kenapa aku selalu berhasil mendapatkan apa yang aku inginkan." jelas Jonathan.
"Ini bukan kamu, Jonathan. Kamu bukan Jonathan yang aku kenal. Tolong kembalilah ke jalan yang benar." kata Satrio berusaha menyadarkan Jonathan.
"Tidak bisa. Asal kamu tau saja, aku juga memanfaatkan tunanganku sendiri demi posisi ini. Bagaimana aku bisa kembali setelah setengah jalan sudah aku lewati?" tanya Jonathan setengah berteriak. Satrio hanya mengangguk melihat sikap sahabatnya yang tidak terpuji itu.
"Kamu sangat menyedihkan." kata Satrio yang langsung berlalu pergi dari ruangan itu. Itulah kalimat terakhir yang ia dengar dari Satrio. Semenjak saat itu, Jonathan dan Satrio tidak pernah saling bertemu lagi.
__ADS_1
Flashback Off
"Apa itu untuk kebaikan Ryan? Atau untuk kebaikanku seorang?" gumam Jonathan. Ia masih ragu untuk menjawab pertanyaan itu.
...****************...
Kamar Ryan
"Ryan." panggil Jonathan.
"Pa?" sahut Ryan.
"Papa sudah tau jawabannya." kata Jonathan.
"Semua yang Papa lakukan selama ini, memang hampir semuanya adalah untuk kebaikan Papa. Papa akui itu. Tapi, kamu juga tidak pernah mengalami kerugian dari apa yang Papa suruh kamu lakukan 'kan?" tanya Jonathan.
"Mengenai Dinda, tidak bisakah kamu menyukai perempuan lain saja? Di dunia ini ada banyak sekali perempuan. Kenapa harus dia?" tanya Jonathan.
"Sebenarnya, kenapa Papa tidak setuju aku menyukainya?" sahut Ryan sambil membuang napasnya kasar.
"Karena..." kata Jonathan. Perkataannya terhenti begitu saja karena ia tidak tahu harus memakai kalimat apa untuk menjelaskannya ke Ryan.
__ADS_1
"Aku mengerti. Mungkin ada masalah atau dendam pribadi antara Papa dengan keluarganya. Apa itu benar-benar tidak bisa diselesaikan?" tanya Ryan.
"Lagipula, rasa sukamu padanya bisa bertahan berapa lama?" sahut Jonathan.
"Aku tidak tau." jawab Ryan sambil mengusap wajahnya kasar.
"Benar, kamu tidak tau. Begini saja, kamu boleh menyukainya. Papa tidak akan melarangmu untuk menyukai dan berpacaran dengan gadis mana pun. Jika setelah kalian berpacaran dan kalian tidak cocok, nanti juga kalian akan mengerti apa itu suatu hubungan." kata Jonathan.
"Lalu, bagaimana dengan Clarissa? Kapan Papa akan membatalkan tunangannya?" tanya Ryan.
"Apa pertunangan kalian harus dibatalkan? Selama status kalian tetap sepasang tunangan..." kata Jonathan.
"Aku tidak mau status itu. Dan aku yakin Clarissa juga tidak mau." sela Ryan.
"Baiklah. Tapi, kalian akan tetap berteman satu sama lain 'kan?" tanya Jonathan pasrah.
"Ya." jawab Ryan singkat.
Ryan, jika aku merasa Dinda bukanlah gadis yang cocok untukmu, aku akan memaksamu untuk bersama dengan Clarissa. kata Jonathan dalam hati.
"Baiklah, Papa pergi dulu." sahut Jonathan sambil berlalu pergi keluar dari kamar Ryan.
__ADS_1
Bersambung......