
"Selamat sore semuanya!" sapa lelaki paruh baya di depan lapangan.
"Sore!" balas para penonton.
"Masih semangat?" tanya lelaki itu.
"Masih!" sahut para penonton sambil tersenyum.
"Sore ini bapak akan mengumumkan pemenangnya. Kalian penasaran?" tanya lelaki itu lagi.
"Iya!" jawab para penonton antusias. Kala itu, sudah pukul 18:50 tetapi hal ini tidak mengurangi keantusiasan para penonton.
"Champion telah berhasil mencetak gol sebanyak 8 kali dari 10 kali permainan. Dan Ryan juga mencetak sejarah baru dalam basket tahun ini yaitu three point shoot of the year 2019." kata lelaki itu sambil mengangkat alisnya bangga. Ia baru kali ini melihat ada yang melakukan three point shoot di kompetisi basket antar sekolah.
"Dengan ini, saya menyatakan bahwa pemenangnya adalah Tim Basket Champion dari SMA Tunas Bangsa II. Selamat kepada Champion!" lanjutnya sambil memberikan tepuk tangan. Para penonton juga memberikan tepuk tangan dan meneriaki nama Ryan.
"Bagi Winner (nama tim basket SMA Bina Bangsa), kalian sudah bermain dengan sangat baik. Bapak kagum pada kalian semua. Terima kasih karena sudah mengikuti kompetisi basket tahun ini. Silahkan bergabung lagi tahun depan." kata lelaki itu lagi.
Setelah selesai memakaikan medali emas di leher Ryan dan bersalaman serta berfoto dengan semua pemain basket hari ini, lelaki itu pun pergi.
"Selamat." kata Ronald, kapten Tim Basket Winner.
"Makasih." sahut Ryan. Tim Basket Winner dan Champion bersalaman dan saling berkenalan. Setelah itu, mereka pergi ke ruang tunggu sekolah untuk makan bersama-sama.
"Ryan! Ryan! Ryan!" sorak para penonton.
"Ryan sayang, selamat!" teriak salah satu siswi.
"Aaaa congrats my baby!" teriak Angel.
__ADS_1
"Ryan sayang aaaa. Kamu hebat sekali tadi!" Ryan yang menyadari bahwa hampir semua siswi bersorak untuknya bahkan sampai mengerubungi dirinya akhirnya berinisiatif menyapa balik. Suasana hatinya juga sedang senang hari ini.
"Terima kasih semuanya." kata Ryan. Ia pun tersenyum lalu pergi dari sana.
"Sudah kubilang 'kan, ikut kompetisi melawan Tim Basket Champion hanya akan membuang waktu dan tenaga kita saja. Aku sudah menduga sejak awal kita akan kalah." keluh Ronald sambil mengelap keringatnya dengan handuk kecil.
"Tapi, setidaknya kita mendapat makanan dan minuman gratis disini. Yumm enaknya." sahut Jojo.
"Kamu ini maunya cuman makan aja!" hardik Ronald.
"Hehe, iya dong. Apalagi semua ini gratis." sahut Jojo. Ronald hanya bisa menggelengkan kepala melihat sahabatnya yang sedari tadi makan melulu.
"Eh, Jo." panggil Ronald sambil memukul pelan lengan Jojo.
"Apaan?" tanya Jojo.
"Liat deh." kata Ronald sambil menunjuk ke arah salah seorang siswi.
"Cantik." kata Ronald pelan. Namun, Jojo masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Hah? Maksud kamu Dinda cantik?" tanya Jojo.
"Jadi, namanya Dinda? Kamu kenal dia?" tanya Ronald balik.
"Enggak." jawab Jojo.
"Terus, kamu tau namanya Dinda darimana?" tanya Ronald.
"Itu 'kan ada namanya di seragam dia." jawab Jojo malas. Bagaimana bisa sahabatnya ini lupa kalau setiap seragam murid memiliki nama?
__ADS_1
"Oh. Kamu benar, Jo." sahut Ronald.
"Aku pergi ke toilet dulu." kata Ronald sambil berlalu pergi dari tempatnya duduk sekarang. Ia sebenarnya tidak ingin ke toilet, ia hanya melihat Dinda menuju ke toilet jadi ia mengikutinya.
"Ya." balas Jojo.
"Tunggu, bukannya dia sudah ke toilet tadi?" gumam Jojo heran.
"Terserah lah." kata Jojo sambil melanjutkan makannya lagi.
...****************...
"Maaf. Kamu tidak apa-apa?" kata Dinda.
"Maaf." sahut Ronald.
"Tidak, itu salahku karena tidak hati-hati." jawab Ronald.
"Tidak apa-apa. Ini salahku juga karena sudah menabrakmu." kata Dinda.
"Terima kasih ya, Dinda." kata Ronald.
"Iya." sahut Dinda.
"Kamu tidak penasaran aku tahu namamu darimana?" tanya Ronald.
"Apakah dari seragam sekolah yang sedang aku pakai sekarang?" tanya Dinda sambil menunjuk ke arah seragam yang sedang ia pakai.
"Kau benar." jawab Ronald sambil tersenyum. Mereka tidak menyadari kalau sedari tadi ada seseorang yang dibakar api cemburu yang memperhatikan mereka.
__ADS_1
Bersambung.....