
Tiga bulan kemudian adalah waktu bagi para murid yang duduk di kelas XII untuk mengikuti Ujian Sekolah. Murid-murid kelas XII mulai mempersiapkan diri mereka dengan belajar segiat-giatnya dengan harapan mereka bisa mendapatkan nilai Ujian Sekolah yang maksimal.
“Sayang, ayo kita belajar bareng buat Ujian Sekolah!” ajak Dinda.
“Hmm, ayo, mau kapan?” tanya Ryan.
”Nanti pas pulang sekolah,” jawab Dinda.
”Oke, kamu mau belajar di mana?” sahut Ryan.
"Di rumah kamu aja. Kata kamu hari ini ada Bu Dini, 'kan? Boleh gak aku ikut belajar juga sama Bu Dini?" tanya Dinda meminta izin.
"Boleh." Ryan mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Makasih, Sayang," kata Dinda sambil merangkul lengan kanan Ryan.
"Iya, sama-sama, Sayang," balas Ryan.
...****************...
Tok... tok... tok...
"Permisi, Ryan. Ibu boleh masuk?" tanya Bu Dini. Ryan langsung membukakan pintu untuk Bu Dini dan mempersilakannya untuk masuk ke dalam kamar.
"Sore, Bu Dini," panggil Ryan. Bu Dini mengangguk dan tersenyum. Setelah itu, kedua matanya terpaku kepada Dinda yang berdiri di sebelah kanan Ryan.
"Ryan, dia pacar yang kamu maksud?" tanya Bu Dini.
"Iya, Bu." Ryan menyahut sembari menatap wajah Dinda.
"Halo, Dinda. Saya Bu Dini, guru les privat Ryan." Bu Dini mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Dinda. Dinda pun membalas uluran tangan itu dan bersalaman dengan Bu Dini.
"Halo, Bu Dini. Saya Dinda, hari ini saya mau ikut belajar juga, Ibu gak masalah 'kan kalau ajarin saya juga hari ini?" tanya Dinda sambil tersenyum.
__ADS_1
"Gak masalah dong. Ryan pernah cerita ke Ibu tentang kamu. Dia bilang kamu cantik dan baik. Sekarang Ibu ketemu langsung sama kamu, ternyata memang benar cantik dan baik seperti kata Ryan," kata Bu Dini.
"Makasih, Bu," sahut Dinda.
"Nanti setelah Ibu jelasin materinya dan kasih latihan soal, Ibu gak akan ganggu kalian berdua lagi," kata Bu Dini sembari menoleh ke arah Ryan.
"Oke, makasih, Bu Dini," sahut Ryan.
"Sama-sama, Ryan." Bu Dini mengangguk sambil tersenyum.
Bu Dini mulai menjelaskan kembali materi-materi yang ada di awal semester karena ia tahu Ryan bisa saja sudah lupa cara mengerjakan soal-soal tersebut.
"Sekarang kalian udah paham belum sama materinya?" tanya Bu Dini sambil menatap ke arah Ryan dan Dinda secara bergantian.
"Udah, Bu," jawab Ryan dan Dinda dengan kompak.
"Oke, kalau gitu ini latihan soalnya. Kalian bisa diskusi dulu, Ibu tunggu di luar. Kalau ada soal yang kalian gak paham, langsung cari Ibu di luar ya." Bu Dini pun bangkit berdiri dan segera meninggalkan kamar Ryan.
"Engga," jawab Ryan.
"Terus hari ini kenapa dia keluar dari kamar kamu?" tanya Dinda.
"Aku juga gak tau." Ryan mengangkat kedua bahunya.
"Apa gara-gara aku dateng mendadak ke sini?" tanya Dinda.
"Kamu gak usah pikirin itu, Sayang. Bu Dini sendiri yang mau keluar, bukan kamu yang usir dia." Ryan merangkul bahu Dinda dengan lengan kirinya.
"Tapi aku jadi ngerasa gak enak," kata Dinda.
"Kenapa kamu ngerasa gak enak? Harusnya kamu berterima kasih sama Bu Dini yang udah kasih kita kesempatan buat diskusi berdua," sahut Ryan.
"Iya juga," sahut Dinda.
__ADS_1
"Sayang," panggil Ryan.
"Kenapa?" tanya Dinda yang masih serius mengerjakan soal-soal yang sudah diberikan Bu Dini.
"Aku gak bisa kerjain nomor ini." Ryan menjawab sambil menunjuk nomor yang memang belum ia jawab.
"Oh, ini tuh pake rumus yang ini. Kamu hitung dulu yang variabel x sama y berapa. Nanti kalau udah dapet hasilnya masukin aja ke rumus, selesai deh," kata Dinda sambil menunjuk ke rumus yang sudah dicatat oleh Bu Dini tadi. Ryan tidak merespon, ia terus-menerus menatap Dinda.
"Kenapa kamu liatin aku kayak gitu?" tanya Dinda malu.
"Aku cuma mau liat muka pacar aku, gak boleh?" balas Ryan.
"Boleh, tapi kamu bisa liatnya nanti aja," jawab Dinda.
"Bukannya kamu juga udah selesai kerjainnya? Kenapa muka kamu masih serius banget?" tanya Ryan sambil mengernyitkan dahinya.
"Aku lagi mikir cara lain yang lebih cepet buat selesaiin soal ini buat jaga-jaga kalau nanti pas ujian waktunya gak keburu," jawab Dinda.
"Cara yang lebih cepet itu tinggal kamu masukin angka yang di soal ke variabel x terus kamu hitung pake rumusnya. Selesai deh," kata Ryan.
Dia bisa ngerjain, kenapa tadi dia bilang gak bisa? batin Dinda.
"Kamu bener. Makasih, Sayang," kata Dinda sambil tersenyum.
"Cuma bilang makasih doang?" tanya Ryan sambil menaikkan alis kanannya.
"Terus kamu maunya apa?" sahut Dinda bingung.
"Peluk," jawab Ryan.
"Dasar manja," gerutu Dinda pelan. Namun, Dinda tetap memeluk Ryan untuk membuatnya senang.
Bersambung......
__ADS_1