Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Pacaran


__ADS_3

“Ingat, jangan buat sesuatu yang akan kamu sesali nanti!” seru Leo mengingatkan. Setelah mengatakan apa yang harus ia katakan, ia segera berlalu pergi dari sana.


“Menyebalkan!” gerutu Alexa sambil menghentakkan kaki kanannya ke lantai. Kenangannya kembali pada kejadian sekitar dua tahun yang lalu di mana Leo adalah orang pertama yang begitu baik padanya. Namun, sejak ia tahu kalau Leo punya sepupu yang dingin, yaitu Ryan, Alexa menjadi penasaran. Ia mulai mendekati Ryan secara perlahan-lahan tanpa se-pengetahuan Leo.


“Semuanya memang salahku sejak awal, tapi aku benar-benar tidak sengaja, Leo,” kata Alexa sambil terisak. Air matanya mulai jatuh tanpa ia sadari.


********


Keesokan harinya


Ryan baru saja keluar dari ruang kelasnya. Ia membuka pesan di HPnya untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan.


(Ri, bisa gak kita ketemu di taman sekolah abis ini? Aku mau ngomong sama kamu.)


(Oke.)


********


Sore hari di taman sekolah


“Kamu mau ngomong apa?” tanya Ryan.


“Ini udah lebih dari satu minggu, jadi aku harus menjawabmu tentang yang dulu kamu tanyakan,” kata Dinda sambil mengepalkan tangannya pertanda ia sedang gugup.


“Kamu sudah memikirkannya dengan baik?” tanya Ryan. Dinda hanya mengangguk. Tercipta suasana yang begitu hening di antara mereka berdua karena Dinda masih mencoba untuk memberanikan dirinya untuk memulai pembicaraan.


“Aku… aku… aku mau,” kata Dinda gugup.


“Kamu beneran yakin, ‘kan?” tanya Ryan.

__ADS_1


“Iya,  aku yakin,” jawab Dinda sambil tersenyum.


“Makasih. Jadi, kita udah pacaran, 'kan?" tanya Ryan sambil memegang kedua tangan Dinda.


“Iya, tapi kenapa berterima kasih?” tanya Dinda yang merasa bingung.


“Aku senang karena itu kamu,” jawab Ryan sambil tersenyum.


“Hmm? Apa maksudnya?” sahut Dinda.


“Gak ada. Apa kamu ingat bagaimana awalnya kita bisa bertemu?” tanya Ryan.


“Ingat, itu suatu kejadian yang tidak terduga,” jawab Dinda sambil menatap ke bawah.


“Jujur aja, aku gak suka sikap kamu waktu itu,” imbuhnya sambil menatap mata Ryan.


“Bukannya itu karena mukamu yang sangat tampan itu? Ah, sikapmu juga. Apa pun yang berhubungan denganmu pasti disukai para gadis di sekolah kita,” sahut Dinda sambil memanyunkan bibirnya yang menandakan ia sedang kesal.


“Kamu cemburu?” tanya Ryan sambil tersenyum.


“Gak!” elak Dinda.


“Kamu cemburu!” teriak Ryan sambil tertawa lebar.


“Gak sama sekali,” kata Dinda berpura-pura tegas.


“Sama sekali? Jadi, kenapa kamu mau jadi pacar aku kalau kamu gak suka sama aku?” tanya Ryan.


“Ya… itu… suka gak harus cemburu, ‘kan?” tanya Dinda.

__ADS_1


“Hmm, kamu belum pernah merasa cemburu, ‘kan?” sahut Ryan sambil menerka-nerka.


“Pernah, sekali,” jawab Dinda.


“Oh, ya? Cemburu karena apa?” tanya Ryan penasaran. Dinda hanya pernah cemburu satu kali, apakah itu karena dirinya?


“Ehem… kamu gak perlu tau,” jawab Dinda sambil membuang pandangannya ke arah lain.


“Jadi, kita udah pacaran, ‘kan? Apa kita masih terus panggil aku kamu?” tanya Dinda mengalihkan topik pembicaraan.


“Hmm, enggak sayang. Panggil sayang aja, gimana?” goda Ryan sambil mengangkat kedua alisnya lalu tersenyum.


Ternyata dia bisa romantis juga, ya. Bodohnya muka aku malah merah di saat kayak gini. Din, kamu harus sadar!


“Ih, kamu ini apa-apaan sih?” gerutu Dinda kesal karena ia tahu dirinya saat ini sedang digoda oleh Ryan.


“Setuju, ya. Mulai sekarang panggil aku sayang, oke?” tanya Ryan sambil mengeratkan genggaman tangannya dengan Dinda. Dinda hanya menganggukkan kepalanya sambil memperlihatkan senyumnya yang manis.


“Mau jalan-jalan, sayang?” tanya Ryan sambil tersenyum.


“Iya, Ri…” jawab Dinda.


“Ehem, I-iya sa-sayang,” kata Dinda gugup.


“Maaf, aku belum terbiasa,” lanjutnya.


“Gapapa,” kata Ryan sambil mengelus kepala Dinda dengan tangan kirinya.


Bersambung……

__ADS_1


__ADS_2