Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Rumah Sakit


__ADS_3

"Ryan! Kamu sudah sadar?" tanya Dimas menarik napas lega. Ia sangat panik sejak tadi.


"Dimas?" tanya Ryan.


"Iya, aku Dimas." jawab Dimas.


"Ryan, maafkan aku." kata Dimas sambil menunduk.


"Sudah, Dimas. Tidak apa-apa." kata Ryan.


"Ryan.. huhu.." sahut Dimas. Dimas benar-benar menangis kali ini. Sebenarnya, selain merasa bersalah kepada Ryan ia juga merasa bersalah kepada para fans Ryan karena mereka semua menyalahkannya atas kejadian tadi siang.


"Tidak apa-apa, Dimas. Aku sudah sembuh sekarang." kata Ryan sambil mengusap punggung Dimas.


"Ryan! Kamu membuatku takut!" teriak Dimas sambil masih terisak.


"Takut, kenapa?" sahut Ryan.


"Bola itu menghantam kepalamu begitu keras. Bagaimana jika kejeniusan dan ketampananmu hilang dalam sekejap? Aku akan merasa sangat bersalah." kata Dimas sesenggukkan.


"Tenang saja, itu tidak akan terjadi." jawab Ryan santai.


"Ryan.. huhu.. maafkan aku." kata Dimas masih terisak.


"Sudah tidak apa-apa, Dimas. Aku sudah sembuh. Lihat, aku sangat sehat sekarang." sahut Ryan berusaha menenangkan Dimas.


"Ryan! Kamu tidak bisa membohongiku! Ayo, pukul kepalaku. Dengan begitu, aku tidak akan merasa bersalah lagi." kata Dimas.


"Dimas, sudahlah. Kamu 'kan tidak sengaja melakukannya. Tidak perlu seperti itu. Aku sudah sembuh." sahut Ryan sambil tersenyum.


"Ryan, kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Angel yang tiba-tiba menerobos masuk begitu saja.


Hah, dia lagi. batin Ryan.


"Ehem, aku tidak apa-apa." jawab Ryan.


"Oh Tuhan, bagaimana bisa keadaanmu seperti ini sekarang? Dimas! Ini semua salahmu!" kata Angel.


"Angel! Aku sudah meminta maaf sebanyak 10 kali. Apa itu masih belum cukup juga?" tanya Dimas kesal.


"Tentu saja belum! Lihat kondisinya! Karena kamu tidak bisa bermain basket, Ryan yang jadi korbannya!" gertak Angel.


"Angel, kamu terlalu sensitif!" sahut Dimas kesal.


"Ryan, uruslah pacarmu ini. Aku sudah muak melihat mukanya. Aku pergi." kata Dimas menyindir Angel.


"Dimas.." panggil Ryan. Namun, Dimas tidak menggubris panggilan itu karena kesal dengan Angel.


"Sayang, bagian mana yang masih terasa sakit?" tanya Angel dengan penuh perhatian. Empat sahabatnya yang mengamati dari depan pintu hanya bisa menggelengkan kepala.


"Kepalaku." jawab Ryan acuh.


"Tunggu sebentar. Aku akan menekan tombol untuk memanggil dokter dan perawat." kata Angel. Ia hendak menekan tombol namun Ryan memegang tangannya.


"Tidak perlu. Kepalaku sakit karena aku butuh waktu sendirian. Angel, kumohon pergilah dulu. Aku mau istirahat." kata Ryan sambil memegang kepalanya. Sebenarnya, Ryan tidak merasa sakit kepala sama sekali.


"Baiklah. Aku akan pergi. Sampai nanti, sayang. Ingatlah untuk memakan makanan itu." sahut Angel.

__ADS_1


"Ah, akhirnya.. Dia sudah pergi." kata Ryan bernapas lega.


"Leo, di mana anak itu? Bisa-bisanya dia tidak menjengukku!" gerutu Ryan. Ia mengambil ponselnya yang terletak di atas meja dan menelepon Leo.


[Leo] Halo.


[Ryan] Hei, Leo. Kamu sengaja tidak menjengukku?


[Leo] Ada apa?


[Ryan] Hei, Leo! Aku serius!


[Leo] Ah, aku bukannya tidak ingin menjengukmu. Tadi Dimas bilang kamu sudah sembuh. Jadi, aku tidak menjengukmu.


[Ryan] Hei, pikirkanlah. Jika aku memang sudah sembuh, aku tidak akan tetap berbaring disini.


[Leo] Haha. Bilang saja padaku kalau kamu ingin Dinda juga menjengukmu.


[Ryan] Ehem, apa maksudmu? Tidak, aku memang belum sembuh.


[Leo] Haha, sudahlah. Ku tutup teleponnya.


"Hei!" gerutu Ryan.


"Anak ini benar-benar.." cibir Ryan.


Haha. Bilang saja padaku kalau kamu ingin Dinda juga menjengukmu.


"Leo si*lan." gerutu Ryan.


"Siapa yang mengumpatku?" tanya Leo yang sudah berdiri di samping ranjang Ryan. Entah sejak kapan ia sudah berdiri disana.


"Hidupmu jadi menyedihkan begini. Apa karena dia belum datang juga?" tanya Leo sambil mengusap kepala Ryan.


"Hei. Siapa yang menyedihkan?" hardik Ryan sambil mengerucutkan bibirnya.


"Mukamu sangat murung.. seperti.. menunggu seseorang yang tak peduli padamu." kata Leo sambil mengangkat alisnya dan tersenyum.


"Apa maksudmu?" tanya Ryan sambil menatap mata sepupunya itu. Ia ingin mencari tahu apa yang dipikirkan sepupunya.


"Kamu tau apa maksudku. Jangan berpura-pura tidak tau." jawab Leo sambil menghela napas.


"Ryan!" panggil Viona.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Viona dengan raut wajah yang menunjukkan kepanikan.


"Hah.. sudahlah. Kamu mempunyai banyak orang yang peduli padamu. Kenapa harus menunggunya?" tanya Leo sambil menghela napas.


"Ryan menyedihkan, Viona, aku pamit." kata Leo.


"Hei, kenapa aku menyedihkan?" tanya Ryan kesal. Namun, Leo malah langsung keluar dan menutup pintu.


"Leo!" panggil Ryan kesal.


"Viona, kenapa repot-repot datang?" tanya Ryan saat dirinya sadar ada wanita ini di depannya.


"Tidak. Aku cuma ingin memastikan keadaanmu." jawab Viona.

__ADS_1


"Angel.. dia memberimu makanan?" tanya Viona sambil melihat makanan yang diletakkan Angel di meja.


"Iya." jawab Ryan.


"Kamu akan memakannya?" tanya Viona.


"Entahlah." jawab Ryan. Keheningan tercipta selama beberapa saat diantara mereka berdua sampai akhirnya Viona memutuskan untuk menanyakan sesuatu.


"Ryan, apa.." Viona sudah mengumpulkan keberanian untuk menanyakannya, tetapi Matthew terlanjur datang membuat niat Viona menciut.


"Aku pergi dulu. Sampai nanti." kata Viona. Ia segera keluar dari kamar itu.


"Hmm." sahut Ryan.


"Ketos tampan kita! Bagaimana keadaanmu?" tanya Matthew panik.


"Aku baik, Matt. Kamu sudah mengurus sisa acaranya?" tanya Ryan.


"Tentu saja sudah. Leo banyak membantu." jawab Matthew santai.


"Anak itu.. Maksudku Leo membantu? Kenapa?" tanya Ryan merasa aneh. Tidak biasanya Leo akan membantu apalagi kalau itu adalah tugas OSIS.


"Iya, dia tadi memberikan piala kepada para pemenang dan juga berfoto bersama." jawab Matthew.


"Oh." sahut Ryan.


"Kamu mau lihat?" tanya Matthew.


"Ti.. Boleh." jawab Ryan.


"Ini." kata Matthew sambil memperlihatkan sebuah foto di HP-nya.


Kamu tau apa maksudku. Jangan berpura-pura tidak tau. Kalimat itu terus terngiang di kepala Ryan saat melihat foto itu.


"Maksudnya ini?" tanya Ryan sambil mengamati foto itu dengan teliti.


"Ini adalah foto para pemenang lomba.." jawab Matthew. Matthew berpikir Ryan menanyakan foto apa itu, tapi sebenarnya bukan itu maksud Ryan.


"Aku tau, Matt. Makasih." kata Ryan.


"Your welcome." sahut Matthew.


"By the way, di mana keluargamu?" tanya Matthew.


"Sudah pergi." jawab Ryan singkat.


"Pergi?" tanya Matthew masih mencerna perkataan Ryan.


"Ya, Leo sudah pergi tadi." jawab Ryan sambil mengedikkan bahunya. Matthew menjawab panggilan telepon yang masuk ke HP-nya.


"Ryan, aku pergi dulu. Pacarku minta dijemput." kata Matthew dengan kening berkerut.


"Hmm." sahut Ryan.


"Bye." kata Matthew. Setelah Matthew pergi, Ryan berusaha menganalisa dan mencerna maksud Leo.


"Leo.. Maksudmu.. Dinda?" tanya Ryan kaget.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2