Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Manusia Tampan Sedingin Es di Kutub Utara


__ADS_3

"Jadi, maksud kamu marah-marah gini karena aku mau rebut Ryan dari kamu?" tanya Dinda.


"Tentu saja. Apalagi yang bisa buat gua marah kalo ini semua ga berhubungan sama Ryan! Katakan. Lu pengin rebut Ryan dari gua, 'kan?" seru Angel.


Ya ampun anak ini. Sudahlah, Din. Kamu 'kan masih waras maka mengalah saja dengan dia. gumam Dinda.


"Maaf ya, Tuan Putri Angel. Tapi, apa gunanya aku merebut Ryan mu itu? Aku bahkan belum kenal lama dengannya. Aku juga hanya pernah mengobrol ringan dengannya. Kenapa mencurigaiku akan merebutnya darimu padahal aku dan dia tidak ada hubungan apapun selain teman mengobrol?"


"Oh, benar. Gua lupa kasih tau ke lu. Lu pasti gak tahu karena lu emang sok rajin belajar mulu. Selama ini, Ryan tidak pernah menekan tombol like pada foto siapapun selain kakak perempuannya dan juga beberapa teman laki-lakinya. Ia tidak pernah sekalipun memberi like pada foto wanita selain kakaknya. Jadi, apa lu masih mau membantah?"


Astaga. Lantas kenapa jika orang yang tampan sedingin es di kutub utara itu tidak pernah memberi like kepada wanita manapun selain kakaknya? Tunggu, apa? Hanya aku satu-satunya yang dia mau menekan tombol like di fotoku? Kenapa begitu? Kenapa aku? Dinda bingung sendiri.


"Din?" tanya Amanda sambil berusaha mengguncang tubuhnya.


"Ah, iya?" balas Dinda.


"Kenapa melamun?" Amanda bertanya.


"Tidak kok." sahut Dinda.

__ADS_1


"Begini ya, Angeline Putri Carmelia, dengarkan baik-baik. Oke, Ryan memang menekan tombol like pada foto yang aku posting di instagram ku. Tapi, aku juga tidak tahu kenapa. Dan aku sama sekali tidak peduli. Kamu juga tahu kalau aku jarang membuka sosmed ku. Mengertilah." seru Dinda.


"Oh, satu lagi. Aku ingin bilang bahwa aku benar-benar tidak ada hubungan apapun dengan Ryan. Apalagi merebutnya darimu? Bagiku, dia hanyalah manusia tampan yang sama dinginnya dengan es di kutub utara dan bagiku dia bahkan bukan siapa-siapa. Teman pun tidak." Dinda beranjak pergi dari tempat yang sudah mulai menjadi ramai karena perdebatan antara ia dengan Angel tadi. Tanpa ia sadari, Ryan sebenarnya sudah memperhatikan perdebatan mereka dari sejak Leo memegang tangan Angel tadi. Tiba-tiba, dada Ryan terasa sesak entah kenapa.


Selama berada di kelas, hari ini Ryan benar-benar tidak bisa konsentrasi.


"Ryan, Kamu gapapa, Nak?" tanya Bu Amelia, guru fisika Ryan. Sejak tadi ia memperhatikan semua muridnya. Namun, tidak seperti biasanya dimana Ryan menampakkan aura ceria dari dalam dirinya. Kali ini, Ryan benar-benar seperti seseorang yang mendapat penolakan cinta atau baru saja putus dari pacarnya. Tapi, yang dialami Ryan saat ini bukan penolakan atau putus cinta melainkan ia tidak dianggap apapun selain manusia tampan yang sedingin es di kutub utara dan bahkan bukan siapa-siapa dimata wanita yang ia taksir...


Tidak! dimata wanita yang entah seperti apa bagi Ryan. Ia tidak yakin sama sekali tentang perasaannya sendiri.


"Ryan?" tanya Bu Amelia yang langsung menyadarkan lamunannya.


"Kamu yakin, Nak?" tanya Bu Amelia yang sebenarnya masih khawatir. Ryan adalah satu-satunya murid di jurusan IPA yang mengikuti OSN, Lomba Matematika Jenius, dan masih banyak lagi. Itu sebabnya para guru khawatir jika Ryan sakit maka nanti siapa yang akan menggantikannya mengikuti semua lomba-lomba itu?


"Iya, bu. Tidak perlu khawatir. Saya yakin saya pasti baik-baik saja." jawab Ryan tegas. Ia berusaha untuk menegaskan suaranya supaya semua terlihat baik-baik saja.


"Baiklah kalau begitu. Mari kita lanjutkan materinya. Buka halaman 20... bla...bla..bla." pelajaran Bu Amelia akhirnya selesai dan dilanjutkan dengan pelajaran kimia dari Pak Kenneth.


"Selamat pagi anak-anak. Hari ini kalian akan mengerjakan lks yang ada di buku kalian. Buka halaman 48 dan kerjakan dengan jujur ya. Jika ada yang tidak kalian mengerti, bisa langsung tanyakan ke bapak. Kalian akan menghadapi ulangan kimia pertama kalian 2 hari lagi. Jadi, jangan malu-malu untuk bertanya jika ada yang tidak kalian mengerti. Paham anak-anak?" tanya Pak Kenneth.

__ADS_1


"Paham, pak."


"Bagus. Sekarang kerjakan."


"Ryan, kamu kayaknya ga enak badan ya, Nak. Pergilah ke UKS dan istirahatlah jika merasa tidak enak badan." kata Pak Kenneth.


"Tidak, pak. Saya baik-baik saja." sahut Ryan.


"Huh.. Selalu saja Ryan lagi dan lagi." tampak seseorang yang berdecak kesal. Ia adalah Joseph, teman sekelas Ryan yang juga cukup pintar. Hanya saja karena Ryan lebih pintar, sopan, berbakat, dan tampan sehingga Ryan mendapat lebih banyak perhatian dan pujian dari semua orang yang membuat Joseph iri.


Awalnya, Ryan merasa pusing. Tapi, ia tetap sanggup mengerjakan sampai nomor 4 hingga akhirnya ia memutuskan untuk meminta izin ke Pak Kenneth untuk pergi ke Ruang UKS sekolah dan beristirahat.


"Pak, saya izin pergi ke Ruang UKS. Saya merasa pusing." kata Ryan lemas. Kenneth jelas tahu kalau Ryan tidak berbohong.


"Baiklah, Nak. Silahkan." kata Pak Kenneth.


"Baik. Terimakasih, pak." sahut Ryan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2