Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Dinda Terluka


__ADS_3

Saat ini, kelas XI D baru saja selesai kelas olahraga. Para siswi akan langsung mengganti baju lalu bersiap-siap untuk beristirahat. Berbeda dengan para siswa yang masih melanjutkan permainan. Namun, tiba-tiba saja ada sesuatu yang sangat keras mengenai kepala bagian depan Dinda. Kejadian ini membuat semua yang berada di lapangan panik.


“Aww,” Dinda meringis sambil memegang kepala bagian depan alias dahinya yang tidak sengaja terkena Bola Voli.


“Din? Kamu gapapa?” tanya Clarissa yang langsung memeriksa dahi Dinda untuk memastikan separah apa lukanya.


“Gapapa,” jawab Dinda.


“Kepala kamu bengkak, Din! Kamu harus ke UKS!” teriak Clarissa panik. Mendengar teriakan itu, Ryan yang baru saja mau jajan di kantin mengurungkan niatnya dan langsung memutar tubuhnya lalu segera berlari ke arah lapangan.


“Kenapa kepala kamu bisa bengkak? Semoga bengkaknya gak parah,” gumam Ryan sambil berlari secepat mungkin. Dinda yang melihat Ryan ada di hadapannya saat ini langsung berusaha untuk menutupi bengkak itu dengan kedua tangannya, tetapi Ryan memegang kedua tangan Dinda dengan lembut lalu perlahan menurunkannya. Tanpa basa-basi, ia segera menggendong Dinda untuk dibawa ke UKS. Clarissa yang melihat kejadian ini di depan matanya berusaha untuk tidak cemburu pada apa yang terjadi saat ini.


“Ini mimpi apa kenyataan?” tanya salah seorang murid.


“Apa yang baru saja terjadi?” sahut Ica.


“Ryan menggendong Dinda?” tanya Belinda.


“Tahan sebentar ya, Sayang. Kita akan segera sampai di UKS,” kata Ryan sambil berbisik supaya tidak ada yang dengar dan tahu kalau mereka sudah menjadi sepasang kekasih. Dinda mengangguk sambil tersenyum. Setelah itu, Ryan langsung menaiki tangga dengan setengah berlari karena khawatir kondisinya akan tambah parah.


*****


Ruang UKS

__ADS_1


Tok… tok… tok…


“Tolong dia, Bu,” kata Ryan kepada guru yang bertugas di sana sembari melangkah memasuki ruangan itu.


“Dinda? Kamu kenapa?” tanya guru itu. Ryan segera membaringkan Dinda di ranjang UKS, lalu ia ikut duduk di samping ranjang UKS.


“Gapapa kok Bu, tadi cuma gak sengaja kepala aku kena Bola Voli,” jawab Dinda.


“Wah, coba sini Ibu liat separah apa lukanya,” kata guru itu. Setelah melihat luka bengkak yang ada di dahi Dinda, Ibu itu segera mengambil alat-alat P3K.


“Ibu cuci dulu ya lukamu pakai alkohol ini. Tolong tahan ya Nak rasa sakitnya walaupun ini akan terasa perih,” imbuhnya.


“Iya, Bu,” sahut Dinda.


“Sekarang Ibu akan kompres luka bengkak kamu supaya lukamu ini bisa lekas sembuh,” kata guru itu lagi sembari mengompres dengan es batu.


“Iya sama-sama,” jawab guru itu.


“Kalau kamu masih merasa sakit, tidak apa-apa hari ini tidak usah ikut pelajaran dulu di kelas. Kesehatanmu jauh lebih penting,” kata Bu Rosa yang tiba-tiba memasuki ruangan itu.


“Saya gapapa kok, Bu. Saya masih bisa belajar,” jawab Dinda sambil tersenyum untuk meyakinkan Bu Rosa.


“Kamu yakin, Nak?” tanya Bu Rosa dengan lembut.

__ADS_1


“Yakin, Bu,” jawab Dinda dengan nada yang penuh keyakinan.


“Baiklah kalau itu maumu. Mari, ikut ibu ke kelas,” ajak Bu Rosa.


“Iya, Bu,” sahut Dinda sambil turun dari ranjang UKS untuk mengikuti langkah Bu Rosa ke kelas. Sebelumnya, ia memberikan senyuman dan kode ke Ryan untuk berterima kasih karena sudah menggendongnya sampai ke tempat ini dan juga supaya Ryan kembali ke kelasnya untuk mengikuti pelajaran.


*****


Di depan kelas XI D


“Din, aku minta maaf ya, tadi aku beneran gak sengaja kehilangan keseimbangan. Bola Volinya sampai kena ke kepala kamu. Kamu mau maafin aku ‘kan?” tanya Ronald memelas. Ia tahu luka di dahi Dinda agak parah dan ia merasa bersalah karenanya.


“Iya, gapapa,” jawab Dinda sambil tersenyum untuk mencairkan suasana.


“Kalau gitu, kita salaman dong supaya aku yakin kalau kamu udah mau maafin aku,” balas Ronald sambil mengulurkan tangan kanannya ke depan. Dinda terlihat agak ragu untuk mengulurkan tangannya, tetapi akhirnya ia tetap menyalami tangan Ronald. Setelah beberapa detik, Ronald masih tidak mau melepaskan tangan Dinda. Tentu saja, Ryan yang sudah berdiri di dekat sana sedang berapi-api saat ini.


“Hei, berani-beraninya anak itu!” seru Ryan frustasi. Ia hampir saja ingin melepas tangan Ronald dari tangan pacarnya tapi Leo mencegahnya.


“Kenapa? Panas ya udaranya?” tanya Leo sambil menaikkan kedua alisnya.


“Leo?” sahut Ryan agak terkejut. Ia tidak menggubris pertanyaan Leo yang tadi.


“Melihat Dinda disentuh meskipun cuma tangan oleh laki-laki lain, seperti apa rasanya?” tanya Leo sambil menatap mata Ryan. Ia ingin tahu seberapa besar sebenarnya rasa cinta Ryan kepada Dinda.

__ADS_1


Bersambung……


Halo semuanya, maaf author baru bisa update bab baru lagi hari ini. Sebenarnya, author mengalami ujian penuh selama satu bulan ini. Dan hari ini, author baru saja selesai ujian matematika makanya author bisa update bab lagi. Hope you guys enjoy this story!


__ADS_2