
Flashback waktu istirahat di sekolah
"Din," panggil Clarissa.
"Iya," jawab Dinda.
"Papaku bilang pertunanganku dengan Ryan sudah dibatalkan," kata Clarissa.
"Apa? Secepat itu?" tanya Dinda cukup terkejut.
"Iya. Apa kamu menyukai Ryan?" sahut Clarissa.
"Haha. Kenapa bertanya itu?" tanya Dinda sambil mengarahkan pandangannya ke arah lain.
"Dia membatalkan pertunangan kami untukmu," jawab Clarissa jujur.
"Apa? Kenapa untukku?" tanya Dinda kaget.
"Aduh, Din. Kamu ini kenapa gak peka banget sih! Cowok ganteng bak pangeran dari negeri dongeng yang suka sama kamu kenapa kamu malah pura-pura bego!" teriak Ayu yang membuat Ryan yang saat itu lewat menoleh sekilas ke arah mereka.
"Ayu!" bentak Dinda sambil menyentil kening sahabatnya itu.
"Aw, sakit!" jerit Ayu.
"Makanya jangan banyak campurin urusan orang lain, bangau!" seru Rangga yang tiba-tiba duduk di hadapan Ayu.
"Heh, kamu juga ya bisa-bisanya muncul terus di depan muka aku! Duduk di tempat lain aja kenapa?" tanya Ayu kesal.
"Ga bisa! Aku mau di sini." sahut Rangga.
"Ih, egois banget sih!" gerutu Ayu sambil memanyunkan bibirnya pertanda ia kesal dengan Rangga.
"Eh, kita pesen makanan dulu. Kalian mau makan apa?" tanya Clarissa berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
"Tidak usah, melihat kalian bertengkar sudah membuatku kenyang. Aku mau kembali ke kelas. Kalian pesen aja," sahut Dinda sambil menatap ke arah 3 sahabatnya lalu pergi dari situ.
"Kamu sih! Dinda jadi ga mau makan!" pekik Ayu sambil memukul lengan kanan Rangga.
"Lah, kok kamu jadi nyalahin aku?" tanya Rangga tidak terima.
"Udah-udah kalo kalian mau lanjut lagi aku pergi ke kelas dulu, ya. Sampai nanti," kata Clarissa yang ingin menghindar dari drama sahabat di hadapannya ini.
"Dah," kata Ayu pada Rangga yang sedang asik duduk.
"Eh, tungguin!" teriak Rangga yang merasa ditinggalkan. Ia segera menyusul Ayu yang sudah berjalan menuju ke kelas.
Flashback Off
...****************...
Lobby Utama Sekolah
"Viona, kamu liat Dinda?" tanya Ryan saat kebetulan bertemu dengan Viona.
"Oke, makasih." kata Ryan. Ia bergegas pergi ke taman sekolah untuk menemui Dinda.
...****************...
Taman Sekolah
"Din," panggil Ryan.
"Iya?" sahut Dinda. Clarissa yang tadinya berjalan-jalan berdua Dinda melihat bunga-bunga langsung menepuk bahu Dinda sambil tersenyum. Ia segera pergi dari sana karena tidak ingin mengganggu Ryan dan Dinda.
"Aku mau bilang sesuatu sama kamu," jawab Ryan.
"Ada apa?" tanya Dinda.
__ADS_1
"Aku suka kamu! Apa kamu mau jadi pacarku?" tanya Ryan yang mengatakannya tanpa ada rasa ragu dalam ucapannya.
"Apa? Aku? Ryan, kamu jangan bercanda!" seru Dinda yang hampir saja pergi dari sana karena sejujurnya mukanya memerah namun ia tidak mau kepedean dengan ungkapan Ryan barusan.
"Pertunanganku dengan Clarissa sudah dibatalkan. Jangan ragu lagi, aku tidak akan melepaskanmu kecuali kamu yang mau dilepas olehku! Aku tunggu jawabanmu," kata Ryan sambil tersenyum. Setelah itu, ia segera pergi dari sana.
"Apa? Apa dia sudah gila menyatakan perasaan di sekolah?" gumam Dinda sambil tersenyum.
...****************...
Sore hari di jalanan umum
"Kamu kenapa?" tanya Citra setelah melihat wajah Dinda yang tampak ceria lalu kemudian menjadi sendu. Ia baru sempat melirik perubahan raut wajah adiknya yang berbeda hari ini karena kebetulan lampu lalu lintas berwarna merah.
"Hah? Gapapa, Ci," sahut Dinda yang tersadar dari lamunannya.
"Aduh, Din. Kamu tuh gak bisa bohongin Cici. Kamu kenapa?" tanya Citra.
"A-aku..." jawab Dinda gugup.
"Yaudah gapapa, kamu bisa cerita nanti kalo kamu mau. Tapi, kamu ga sakit, 'kan?" tanya Citra sambil memegang kening adiknya.
"Gak, Ci. Aku gapapa." jawab Dinda. Citra tersenyum lalu melajukan mobilnya lagi setelah lampu berubah warna menjadi hijau.
...****************...
Malam hari di kamar Dinda
Dinda sedang belajar seperti biasanya. Namun, ia mulai teringat lagi dengan kejadian-kejadian yang membuatnya menjadi tidak fokus.
"Aku harus bagaimana?" tanya Dinda panik. Kini, Dinda teringat bahwa ia memiliki dua hutang. Hutang pertama menjawab Leo dan hutang keduanya menjawab Ryan. Ini adalah pilihan yang agak sulit untuk di pilih bagi Dinda.
"Tapi, apa Ryan benar-benar serius? Dia ingin aku jadi pacarnya? Bahkan sampai membatalkan pertunangan demi aku?" batin Dinda dengan segala rasa penasarannya yang belum terjawab.
__ADS_1
"Ah, apa-apaan sih kamu, Din! Ayo fokus!" bentak Dinda pada dirinya sendiri. Ia mulai merasa tidak bisa fokus dan pada akhirnya ia menutup buku pelajarannya dan memutuskan untuk berdoa saja pada Yang Mahakuasa supaya ia bisa kembali fokus belajar dan tidur nyenyak malam ini.
Bersambung......