Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Percakapan Leo dan Ryan


__ADS_3

Dua tahun yang lalu di tempat billiard


“Bro, aku pergi duluan, ya,” kata Leo setelah ia melihat waktu di jam tangannya sudah menunjukkan pukul 21:00.


“Oke,” sahut Ryan sambil menaruh stik billiard ke tempatnya. Namun, ia menemukan smartphone milik Leo yang tertinggal di atas meja di dekat papan billiard.


“Anak ini masih sering lupa juga,” gumam Ryan sambil mengambil smartphone itu untuk menyimpannya dan mengembalikannya kepada Leo di lain waktu. Tetapi ketika ia baru saja akan memasukkan smartphone itu ke dalam saku celananya, ia tidak sengaja melihat lockscreen smartphone Leo yang merupakan gambar Alexa yang sedang tertawa. Ryan segera mengurungkan niatnya untuk mengembalikan smartphone itu di lain waktu dan memilih untuk langsung memberikannya kepada Leo saat itu juga.


“Leo, HP kamu ketinggalan,” kata Ryan sambil menyerahkan smartphone itu kepada Leo.


“Ah, makasih, Bro,” kata Leo sembari langsung berjalan ke arah pintu keluar untuk pergi dari tempat itu. Sementara itu, Ryan memilih untuk masuk lagi ke ruangan billiard yang tadi dan duduk di atas sofa.


“Kamu sangat menyukainya, Leo?” tanya Ryan sambil menyenderkan kepalanya di sofa. Pada akhirnya, ia tertidur di tempat itu dan baru pulang larut malam saat Pak Herman membangunkannya dan menjemputnya untuk pulang ke rumahnya.


...****************...


Pagi hari di balkon kamar Ryan


“Kenapa kamu panggil aku ke sini?” tanya Leo sambil duduk di kursi yang ada di sebelah Ryan.

__ADS_1


“Kali ini, kamu juga memasang foto Dinda di lockscreen smartphone-mu. Aku beneran merasa bersalah sama kamu. Tapi maaf, aku gak akan pernah bisa merelakan Dinda untuk pria yang lain. Sekalipun itu kamu, tetep aja aku gak bisa lepasin dia. Maaf, Leo, aku udah bikin kamu menderita dua kali,” kata Ryan yang langsung menjelaskan intinya.


“Kenapa kamu harus ngomong ini sekarang?” tanya Leo sambil menggelengkan kepalanya. Namun, Ryan tidak memberi jawaban untuk pertanyaan Leo yang ini.


“Aku udah lepasin Dinda dari awal, tapi karena belum ketemu yang baru makanya aku masih pajang foto dia di lockscreen HP aku,” kata Leo sambil tersenyum dan menatap ke arah kedua mata Ryan.


“Mana bisa gitu? Cari aja yang baru sekarang!” sergah Ryan.


“Aku tau kamu gak bakalan terima, nih udah aku ganti,” kata Leo yang langsung menggantinya dengan fotonya dan foto Ryan sewaktu mereka masih kecil.


“Kalau udah tau, kenapa masih dilakuin?” tanya Ryan penasaran.


“Manusia itu egois. Walaupun kita udah tau kalau dia bukan buat kita, tetep aja kita bakal terus berjuang mempertahankan orang itu sampai akhir. Tapi, pada akhirnya, kita bakal tetep kehilangan dia karena dari awal dia bukan orang yang tepat untuk kita,” jawab Leo sambil menghela napasnya.


“Kamu gak perlu lakuin itu,” sahut Ryan.


“Iya, walaupun dari awal Dinda pilih kamu, tapi aku bakalan tetep jadi temennya. Boleh, ‘kan?” tanya Leo.


“Boleh aja selama kamu gak lewat dari batas seorang teman,” jawab Ryan.

__ADS_1


“Apa batasnya?” sahut Leo.


“Kamu gak boleh ngobrol dengan jarak yang terlalu deket sama Dinda dan kalau mau ngobrol jangan tatap mukanya lebih dari 5 detik,” kata Ryan.


“Dasar posesif,” gumam Leo pelan.


“Tapi kenapa kamu bisa cinta sama dia padahal beberapa bulan lalu hati kamu masih tertutup rapat?” tanya Leo penasaran.


“Semenjak aku ketemu dia, aku merasa dia itu unik dan spesial. Selain itu, dia selalu ramah dengan semua orang, kecuali aku. Semakin dia mengabaikanku, semakin aku akan buat dia perhatiin aku,” jelas Ryan.


“Selamat, ya,” kata Leo sambil tertawa.


“Kamu gak suka siapa-siapa sekarang?” tanya Ryan yang mulai penasaran.


“Belum ada calonnya,” jawab Leo sambil tersenyum.


“Masih ada Clarissa,” balas Ryan.


“Dia memang lumayan cantik, tapi aku belum mau berhubungan sama siapapun dulu saat ini,” kata Leo sambil menatap ke arah depan dengan tatapan kosongnya.

__ADS_1


“Oke, apa pun pilihan kamu, aku akan mendukungnya,” sahut Ryan sambil tersenyum.


Bersambung……


__ADS_2