Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Berakting


__ADS_3

Di dalam mobil Ryan


Dia kenapa sih hari ini beda banget? tanya Dinda dalam hati. Padahal, penyebab kebahagiaan Ryan pagi ini disebabkan oleh Dinda.


"Nanti kita tetep kayak biasanya, 'kan?" tanya Dinda yang akhirnya membuka pembicaraan setelah tercipta keheningan yang panjang di antara mereka berdua.


"Apa?" tanya Ryan yang tersadar dari lamunannya.


"Ya, maksudnya kayak... kayak dulu," jawab Dinda gugup. Ryan terlihat masih berpikir beberapa saat lalu membalasnya.


"Kamu gak mau temen-temen kita tau kalo kita udah pacaran?" tanya Ryan dengan nada lembut tapi terdengar dingin.


"Bukan gitu, tapi... belum waktunya kita kasih tau ke mereka," jawab Dinda.


"Hmm," Ryan hanya membalas singkat.


"Akhir minggu ini aja kita kasih tau ke mereka," kata Dinda.


"Terlalu mendadak kalau pagi ini," Dinda mencoba memberikan pengertian.


"Oke," sahut Ryan. Ya, setidaknya dia cukup lega bahwa Dinda sendiri yang berinisiatif untuk memberitahu kepada teman-teman mereka pada akhir minggu ini bahwa saat ini mereka adalah sepasang 'kekasih'.


 ******


Di dalam lobi sekolah


"Non Dinda, itu pacarnya, Non?" tanya Pak  Susilo sambil menunjuk ke pria yang tidak jauh berdiri di belakangnya. Wajah pria itu memang terlihat sangat berbeda hari ini. Dinda ingin terus melangkah dengan terburu-buru untuk masuk duluan supaya tidak ada yang curiga soal hubungannya dengan Ryan. Namun, justru Dinda yang berjalan dengan terburu-buru seperti itu malah lebih menimbulkan kecurigaan.


 "Hahaha, Bapak ngomongin apa? Saya permisi mau naik dulu ke ruang kelas," jawab Dinda yang malah mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


"Oke, Non," sahut Pak Susilo.


"Dari gerak-gerik Non Dinda sih agak aneh pagi ini, apa jangan-jangan anak muda yang ganteng itu beneran pacarnya? Tapi mereka memang keliatan serasi sih. Aduh, Susilo, kamu ini masih aja pengen memahami anak muda. Udah, mending lanjut kerja aja," gumam Susilo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


******


Di kantin


Siang ini, Dinda, Amanda, Rangga, Ayu, dan Leo akan makan bersama di kantin. Budi tidak ikut karena hari ini dia izin tidak masuk untuk menemani ibunya yang sakit. Dan, cara mereka duduk pun masih seperti biasanya. Dinda yang di sebelah Ayu dan Rangga dan Amanda yang duduk di sebelah Leo untuk menggantikan posisi Budi yang kosong di sebelahnya.


"Din," panggil Amanda dengan tatapannya yang tersenyum.


"Iya?" sahut Dinda kaget karena ia dipanggil saat ia sedang meminum es teh manis. Untungnya, ia tidak tersedak.


"Kenapa sih, Manda?" tanya Dinda lagi setelah meneguk tehnya.


"Itu Ryan kenapa natap kamu terus?" Amanda malah balik bertanya sambil menggunakan dagunya yang menunjuk ke arah Ryan. Dinda menatap ke arah samping kirinya dimana Ryan yang berada di luar kantin menatapnya sambil tersenyum tipis. Dinda lalu mengangkat kedua alisnya dan secepat kilat membalikkan tatapannya ke arah depan. Leo yang ikut memperhatikan tatapan intens dan senyuman dari Ryan kepada Dinda sudah tahu apa yang ada di pikiran sepupunya itu saat ini.


"Hah? Masa sih?" sahut Dinda dengan wajah yang sedikit memerah dan nada bicara yang pura-pura tidak tahu. Tepatnya, dia sedang berusaha mengabaikan tatapan itu yang bisa membuatnya salah tingkah.


"Aduh, Din. Kamu ini kenapa gak peka-peka sih? Jelas banget Ryan suka sama kamu," celoteh Ayu dengan matanya yang melebar karena antusias menjelaskannya. Dinda baru saja mau menyahut namun Rangga sudah mendahuluinya.


"Ngomong-ngomong soal peka, kamu juga gak peka sih," Rangga tiba-tiba menyahut begitu saja yang tentunya membuat Ayu kesal.


"Memangnya aku harus peka soal apa? Orang gak ada kejadian apa-apa di sekitar aku!" sentak Ayu.


"Gak ada apa-apa kamu bilang?" tanya Rangga dengan nada lirih.


"Memangnya apa?" sahut Ayu kesal. Rangga tidak menjawab pertanyaan dari Ayu dan memilih segera pergi dari tempat ini.

__ADS_1


"Aku udah kenyang. Aku pergi dulu," kata Rangga sambil berlalu pergi.


"Lah, kamu 'kan baru mulai makan..." kata Ayu setelah melihat sisa di mangkuk mi milik Rangga yang masih banyak.


"Sampai nanti," kata Rangga pada semuanya yang duduk di situ.


"Ayu, susul tuh Rangganya," sahut Amanda.


"Kenapa harus di susul? Dia bukan anak kecil," kata Ayu sembari menyendok sotonya. Ia hendak memasukkannya ke mulutnya tapi akhirnya menghela napas berat lalu menyusul langkah Rangga.


******


Ryan baru saja keluar dari ruangan kelasnya sepulang sekolah. Namun, Leo tiba-tiba sudah berada di depan ruang kelasnya dengan tatapan yang agak aneh. Ryan bersikap bodoamat dan hendak meninggalkan Leo di sana karena tidak berpikir Leo datang ke kelasnya untuk mencarinya.


"Hei, kalian berdua berakting sejak tadi?" tanya Leo sambil tersenyum dan mengangkat kedua alisnya.


"Apa maksudmu? Aku gak ngerti," jawab Ryan sambil mengedikkan bahunya.


"Gak usah pura-pura bego deh! Pasti ada yang terjadi di antara kalian berdua!" bentak Leo kesal.


"Percayalah pada apa yang mau kamu percayai,” sahut Ryan sambil terus berjalan dengan wajah tersenyum yang menampakkan kebahagiaan.


"Huh! Kamu benar-benar..." gerutu Leo kesal sampai ia menendang kaki Ryan. Ryan yang terkena tendangan itu malah kali ini tidak bereaksi dan tidak membalas. Ryan dengan santainya masih melangkah ke depan.


"Hei, jadi kapan kamu menembaknya?" tanya Leo dengan nada keponya.


"Menurutmu?" balas Ryan tanpa menatap ke arah sepupunya itu.


"Seminggu lalu? Tidak, kalian masih terlihat normal aja saat itu. Tiga hari lalu?" tanya Leo. Ryan hanya mengedikkan bahunya sambil tersenyum dan terus berjalan.

__ADS_1


"Apa kamu mau terus menutup mulutmu?" tanya Leo karena merasa terus diabaikan.


Bersambung......


__ADS_2