Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Kebersamaan di Mal (2)


__ADS_3

“Kamu duduk aja, biar aku yang pakein sepatunya,” kata Ryan. Dinda menurut saja dan langsung duduk di kursi yang tersedia di situ. Ryan mulai memakaikannya ke kaki Dinda dan ia mengikat tali sepatunya. Melihat perlakuan Ryan yang selembut ini padanya, Dinda merasa menyesal karena dulu ia pernah salah paham pada Ryan.


Diliat dari deket sih dia memang lumayan tampan, tidak, dia sangat tampan. Dia juga tidak dingin dan sangat lembut. Kenapa aku baru sadar sekarang? tanya Dinda pada dirinya sendiri.


“Udah selesai. Ayo kita masuk ke dalam!” ajak Ryan. Dinda mengangguk dan mengikuti Ryan masuk ke ice skating rinks.


Ryan masih menggenggam erat tangan Dinda. Ia mulai meluncur dengan membelakangi badannya. Lalu, ia mengulurkan kedua tangannya supaya Dinda bisa ikut meluncur bersamanya.


”Ayo pegang tanganku! Kita bisa meluncur bersama,” kata Ryan. Dinda meraih uluran tangan itu dan mencoba meluncur perlahan-lahan. Setelah melihat bahwa Dinda sudah lumayan lancar, Ryan memutuskan untuk menyuruh Dinda meluncur sendiri.


“Sekarang coba kamu meluncur sendiri, ya,” kata Ryan. Dinda mengangguk lalu Ryan perlahan-lahan mulai melepaskan kedua tangan Dinda. Awalnya, Dinda bisa meluncur sendiri. Namun, karena ada seorang anak laki-laki yang mungkin berusia 7 tahun yang meluncur seenaknya dihadapannya sehingga mereka pun bertabrakan.


Namun, anak itu refleks menyeimbangkan posisi badannya sebelum ia sempat terjatuh. Dinda yang masih pemula tidak tau bagaimana cara menyeimbangkan tubuhnya sehingga ia terjatuh.


“Aww…” Dinda meringis kesakitan saat ia terjatuh. Ia memeriksa kakinya dan mendapati lututnya berdarah.


“Maaf, aku gak sengaja,” kata anak itu.


“Gapapa,” jawab Dinda. Ia memaklumi karena yang menabraknya adalah seorang anak kecil.


“Sekali lagi, maaf, Kak,” kata anak itu lalu berlalu pergi.


“Sorry, apa kita mau udahan aja?” tanya Ryan cemas.


“Gapapa, aku masih bisa meluncur kok,” jawab Dinda.


“Kamu yakin? Kita istirahat dulu aja,” kata Ryan yang raut wajahnya terlihat sangat khawatir dengan luka di lutut Dinda yang sebenarnya tidak begitu parah, tetapi tetap saja yang namanya luka harus segera diobati supaya bisa mencegah infeksi.


“Gak usah, lukanya gak parah, kok. Kita main lagi aja,” tolak Dinda. Namun, Ryan tetap menarik lengan Dinda dengan lembut dan menggiringnya ke luar dari ice skating rink. Lalu, mereka menuju ke tempat duduk yang tersedia di situ. Ryan segera mendudukkan Dinda di kursi itu.


“Tunggu aku sebentar di sini,” kata Ryan sambil menepuk bahu Dinda. Setelah mengatakan kalimat itu, ia segera berlari dari sana tanpa menunggu jawaban Dinda.


“Mau ke mana dia?” gumam Dinda saat melihat Ryan berlari dengan begitu tergesa-gesa. Sepuluh menit kemudian, Ryan kembali dengan sekantung plastik berisi salep. Ternyata, Ryan berlari membelikan obat untuk luka Dinda di apotek. Ia segera membuka segel pada obat itu.


“Itu apa?” tanya Dinda penasaran.


“Obat untuk luka di lututmu,” jawab Ryan.


“Kamu ada hand-sanitazer?” tanya Ryan. Dinda membuka tasnya lalu mengambil barang kecil itu dari tasnya.


“Ini,” kata Dinda sambil menyerahkan barang kecil itu ke tangan Ryan.


“Makasih,” sahut Ryan. Lalu, ia segera memakainya ke seluruh bagian pada telapak tangannya.


“Ayo luruskan kaki kamu!” perintah Ryan. Dinda menurut saja dan meluruskan kakinya. Ryan pun mengoleskan salep pada luka di lutut itu secara perlahan-lahan.

__ADS_1


“Kita tunggu 20 menit ya sampai kamu ngerasa baikkan,” kata Ryan. Lalu, ia segera berdiri dan ikut duduk di sebelah pacarnya.


“Terus kalau udah 20 menit tapi belum baik gimana?” tanya Dinda iseng.


“Kalau sampai belum membaik, aku bakal gendong kamu,” jawab Ryan dengan santainya.


“Tapi, ini ‘kan kita lagi di mall,” kata Dinda mengingatkan.


“Terus, kenapa kalau kita lagi di mall?” tanya Ryan dengan perasaan bingung.


“Malu, banyak yang liat,” jawab Dinda pelan.


“Kamu malu sama aku?” tanya Ryan dengan tatapan mata kecewa.


“Bukan gitu, tapi kamu selalu jadi pusat perhatian para wanita…” elak Dinda. Namun, Dinda tidak bisa lagi melanjutkan kalimatnya.


“Kamu cemburu?” tanya Ryan sambil tertawa pelan.


“Engga kok, aku gak cemburu!” bantah Dinda sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Ah, masa?” sahut Ryan sambil menunjukkan senyumnya yang penuh kemenangan karena ia tahu Dinda pasti cemburu.


“Iya!” seru Dinda dengan yakin. Ryan hanya tertawa lalu memeluk Dinda secara tiba-tiba dari samping.


Apa yang kamu lakukan? Apa kamu tau kalau kamu kayak gini gak sopan karena udah hati aku terus berdebar dan jantung aku berdetak sangat cepat? protes Dinda dalam hati.


“Kok dia bisa tau sih?” gumam Dinda pelan.


“Hah? Hati siapa yang berdebar karena kamu? Kamu tau ‘kan kalau manusia bakal mati jika hatinya tidak berdebar. Kamu pasti cuma salah paham,” jelas Dinda sambil mendorong lengan Ryan ke bawah dengan lembut.


“Aku salah paham?” tanya Ryan sambil mengernyitkan dahinya.


“Iya,” jawab Dinda.


“Hmm. Yaudah, aku minta maaf,” kata Ryan. Ryan yang pada dasarnya tidak mengerti apa pun soal wanita hanya bisa mengucapkan maaf saja jika ia merasa pacarnya sudah tidak nyaman dengannya.


Kenapa dia gak mau dipeluk, ya? Apa karena dia malu? Ryan bertanya-tanya dalam hatinya.


...****************...


20 menit kemudian


“Kaki aku udah baikkan sekarang,” kata Dinda dengan wajah yang sumringah.


“Jadi, kita nonton film aja sekarang?” tanya Dinda antusias.

__ADS_1


“Terserah kamu,” jawab Ryan. Sebenarnya, Ryan benar-benar ingin mengabaikan Dinda karena kesal usai kejadian tadi tapi ia berusaha menjawab dengan intonasi yang lembut supaya Dinda tidak tersinggung.


”Ayo kita cek film apa yang lagi tayang di bioskop!” ajak Dinda sambil mengenggam tangan Ryan untuk menuju ke eskalator. Ryan merasa kesalnya sudah mulai hilang karena Dinda yang inisiatif menggandeng tangannya. Ia pun mengenggam erat jemari-jemari tangan Dinda dan menautkan lengan mereka selama di eskalator. Jika para jomblo yang melihat adegan ini, pastinya sudah akan tersenyum masam karena keromantisan pasangan ini.


...****************...


Di dalam bioskop


“Ada film horror, romance, dan action… kamu mau nonton apa?” tanya Ryan.


”Hmm… kamu pilih yang mana?” sahut Dinda.


“Aku… pilih horror,” kata Ryan ragu.


“Horror? Aku gak bisa nonton itu,” sahut Dinda.


“Yaudah kita nonton romance aja, gimana?” tanya Ryan. Dinda mengangguk setuju sekalipun sehenarnya ia tidak begitu suka dengan adegan-adegan romantis yang menurutnya agak ‘lebay’ di film-film.


“Oke, aku beli tiketnya dulu,” kata Ryan.


“Mau beli popcorn sama minuman?” imbuhnya.


“Boleh,” jawab Dinda sambil mengangguk pelan.


“Popcorn-nya yang ukuran sama rasa apa?” tanya Ryan.


“Caramel… yang medium aja karena aku gak bisa makan banyak, tapi kalau kamu mau yang large juga gapapa,” jawab Dinda.


“Kalo minumannya?” tanya Ryan.


“Hmm… lemon tea aja,” jawab Dinda.


“Oke,” kata Ryan.


“Pesan popcorn caramel ukuran medium satu sama lemon tea satu,” kata Ryan pada kasir yang khusus bertugas pada bagian food & drinks di bioskop itu,


“Baik, Kak,” jawab kasir itu. Ia segera mengambil bungkusan popcorn dan mengisinya sampai penuh lalu menaruhnya di meja. Ia juga mengambil sebuah gelas kosong lalu mengisi gelas itu dengan lemon tea. Setelah itu, ia memberikan satu sedotan dan menyerahkan popcorn beserta minumannya ke tangan Ryan.


“By the way, aku ke toilet dulu ya sebentar,” kata Dinda. Setelah Ryan mengangguk, Dinda segera pergi dengan setengah berlari menuju ke toilet.


“Bisa minta sedotannya satu lagi?” tanya Ryan pada kasir itu.


“Silakan, Kak,” jawab kasir itu sambil menyerahkan sedotannya ke arah Ryan.


“Makasih,” sahut Ryan. Ia pun mengambil sedotan itu lalu pergi ke sofa yang tersedia di sana untuk duduk sembari menunggu Dinda yang saat ini sedang ke toilet.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2