
Bel istirahat pertama berbunyi, ini waktunya bagi para siswa dan siswi untuk turun ke kantin untuk sekedar jajan snack seperti es krim, risol, pastel, lemper, cilok, dan lain-lain. Angel dan gengnya turun untuk membeli siomay dan batagor. Namun, langkah mereka dihentikan oleh Ryan.
"Angel."
"Aaaaa... Ryan menyebut namaku! Lihat, dia memanggil namaku! Ada apa Ryan sayang?"
"Tidak. Aku ingin bertanya padamu." sahut Ryan sambil menghela napas panjang karena setiap kali Ia berurusan dengan Angel pasti Angel akan bertingkah lebay.
"Tanyakan saja, sayang. Kamu 'kan kekasihku tersayang." sahut Angel sambil memicingkan kedua matanya. Ryan hanya bisa menghela napas panjang untuk yang kedua kalinya.
"Angel. Kamu merundung Clarissa lagi?" tanya Ryan dengan raut wajah serius.
"Kalau memang iya aku merundungnya, kenapa?" tanya Angel menantang.
"Bukankah sudah kuingatkan untuk tidak merundung siapapun lagi?"
"Kenapa kamu selalu membelanya? Kamu menyukainya?"
"Kubilang tidak merundung siapapun lagi. Ini bukan hanya tentang Clarissa saja. Tapi, semua murid. Semua orang di sekolah ini yang kamu jahili." kata Ryan dengan nada bicara yang terlihat kesal. Pada kenyataannya, Angel memang tidak hanya merundung Clarissa, ia dan gengnya juga pernah menjahili cleaning service, satpam, dan masih banyak lagi.
"Baiklah. Aku juga mau tanya sesuatu."
"Apa itu?"
__ADS_1
"Jika aku dan Clarissa akan mati terbunuh, kamu akan menyelamatkan siapa? Aku atau dia?"
"Akan kuselamatkan keduanya."
"Jika hanya boleh pilih satu?"
"Huh.. Clarissa tentunya." Ryan hanya berusaha menghirup napas panjang lagi karena sangat melelahkan baginya untuk menghadapi Angel walaupun hanya 5 menit.
"Lihat. Kamu membelanya karena kamu menyukainya! Dasar!" bentak Angel kecewa.
"Dasar tidak tahu diri! Angel sudah memberikan banyak hal untukmu dan selalu setia padamu tapi mengapa kamu malah memilih anak baru yang aneh itu! Sudahlah, Gel. Kita pergi saja dari sini!" celetuk Ica.
"Ica, jangan seperti itu padanya! Ini salahku karena menyukai sosoknya yang dingin dan memiliki aura badboy." balas Angel.
"Yaudah, ayo!" sahut Angel yang juga kecewa dengan jawaban Ryan.
...****************...
"Heh, anak baru!" panggil Ica.
"Iya?" sahut Clarissa.
"Masih baru aja udah sok lapor kesana-sini, lu pikir lu itu siapa, hah? Anak baru lagaknya sok banget. Najis deh, bisa-bisanya Dinda dan yang lain deket sama ini anak." kata Mellisa.
__ADS_1
"Lapor apa ya maksud kalian? Dan apa hubungannya sama Dinda?" tanya Clarissa heran.
"Udah lapor aja masih sok polos ini anak. Bermuka dua memang. Ga pantes dia disukain sama Ryan. Selera Ryan aneh sekali." sahut Ica.
"Heh. Lu gak usah sok polos, ya! Bilang sama kita kalau lu udah lapor ke Ryan aja susah amat sih. Punya mulut gak lu, hah?" kata Belinda kesal.
"Memangnya dia ngapain? Ngapain kalian rame-rame kumpul disini?" tanya Amanda yang tiba-tiba muncul. Ia bingung karena Clarissa adalah murid yang baik dan tidak mungkin mencari masalah tapi entah kenapa gengnya Angel bisa ramai-ramai kumpul di sekeliling meja Clarissa sebelum jam pelajaran dimulai lagi.
"Lu gak tau aja gara-gara dia si Angel sekarang nangis di balkon sekolah? Ini anak masih baru aja udah pinter bikin ulah. Ngapain lu temenan sama orang kayak dia? Nanti, bisa-bisa dia nusuk lu dari belakang." jawab Mellisa.
"Memang dia ngapain sampai bikin si Angel nangis?" tanya Amanda heran.
"Itu dia ngadu ke Ryan. Ryan juga bisa-bisanya lebih milih anak ini daripada Angel yang selalu setia padanya. Benar-benar aneh." sahut Karen.
"Yang aneh itu kalian tau gak! Sudahlah, memangnya kenapa jika Ryan memilihnya? Itu wajar karena sejak awal Ryan memang merasa tidak nyaman bersama Angel." jelas Amanda.
"Oh, jadi kamu belain dia padahal dia salah?" tanya Karen.
"Ayo, kita labrak aja dia!" sahut Ica.
"Kalian ngapain sih? Masih pagi udah mau main labrak aja." tanya Rangga yang merasa tidak nyaman.
Bersambung......
__ADS_1