
Tidak terasa sudah satu minggu berlalu. Para murid senang karena ujian telah berakhir dan mereka akan libur sampai minggu depan. Dinda dan teman-temannya baru saja sampai di depan pintu masuk salah satu taman hiburan yang paling bagus di Jakarta.
"Rangga di mana, Ayu?" tanya Amanda.
"Lagi markir mobil," jawab Ayu sambil menunjuk ke arah parkiran.
"Kalian udah nunggu lama? Sorry, ya, tadi aku isi bensin dulu sebelum ke sini," kata Rangga.
"Gak lama kok," kata Leo.
"Ayo kita masuk!" ajak Amanda sambil menggenggam tangan Budi.
Pertama-tama, mereka menaiki halilintar. Mereka semua sangat senang saat menaiki wahana halilintar itu. Rasanya seperti semua beban yang mereka rasakan selama ujian hilang begitu saja.
"Aku mau naik Ontang Anting!" kata Ayu yang bersemangat.
"Yaudah, ayo naik!" ajak Rangga sambil memeluk Ayu. Mereka semua menaiki Ontang Anting sambil terus berteriak sampai mereka turun dari wahana itu.
"Kamu berani naik Arung Jeram?" tanya Ryan kepada Dinda.
"Berani," jawab Dinda.
"Ayo naik!" ajak Ryan sambil mengulurkan tangannya. Dinda tidak menggenggam tangan Ryan, tapi ia langsung memeluk lengan kanan Ryan.
Akhirnya, mereka semua menaiki Arung Jeram sampai baju mereka basah kuyup. Mereka segera berganti baju lalu menaiki wahana Kora Kora. Setelah itu, mereka semua membeli air putih dan meminumnya.
"Naik itu kayaknya seru," kata Clarissa sambil menunjuk ke arah wahana Kicir Kicir yang ada di depannya.
"Kamu mau naik itu?" tanya Leo sambil menatap Clarissa.
"Iya," jawab Clarissa sambil mengangguk.
"Yaudah, aku temenin kamu, ya," sahut Leo sambil tersenyum. Clarissa mengangguk lalu ia menaiki wahana Kicir Kicir bersama Leo dan yang lainnya.
Setelah itu, mereka juga menaiki wahana Turangga Rangga dan Poci Poci. Lalu, mereka menaiki wahana Burung Tempur dan Gajah Bledug. Kemudian, mereka mengunjungi wahana Istana Boneka dan Rumah Kaca sambil berfoto-foto di dalam sana.
"Gak kerasa udah malem aja," kata Amanda setelah keluar dari wahana Rumah Kaca.
"Iya, tapi kita udah naikkin hampir semua wahana, 'kan?" tanya Amanda.
"Iya," jawab Ayu sambil mengangguk.
"Aku sama Budi mau makan di situ dulu, kalian bebas mau makan di mana, tapi nanti kita ketemuan di sini lagi, ya," kata Amanda sambil menunjuk ke arah restoran yang ada di samping kanannya.
"Oke," sahut Dinda.
__ADS_1
Setelah itu, semuanya mulai berpencar untuk mencari restoran yang menyediakan menu kesukaan mereka. Sementara itu, Dinda dan Ryan melihat-lihat ke arah restoran yang menyediakan masakan Indonesia. Mereka berdua memesan makanan yang sama, yaitu nasi goreng spesial. Setelah selesai makan, mereka kembali ke tempat yang tadi, tapi sepertinya teman-teman mereka masih belum selesai makan.
“Mau jalan-jalan dulu sebelum ketemuan lagi sama mereka?” tanya Ryan.
“Boleh,” jawab Dinda sambil tersenyum. Mereka pun mulai mengelilingi taman hiburan itu. Akhirnya, Dinda berhenti di depan salah satu kedai es krim.
“Kamu mau makan es krim?” tanya Ryan sambil menatap kedua mata Dinda.
“Iya,” jawab Dinda sambil mengangguk.
“Mau rasa apa?” tanya Ryan.
“Vanilla,” sahut Dinda.
“Oke, kamu tunggu di situ, ya. Aku beliin dulu buat kamu,” kata Ryan sambil menunjuk ke arah samping kirinya yang masih tersisa 2 kursi kosong dengan 1 meja.
“Makasih, Sayang,” balas Dinda yang langsung memeluk Ryan. Setelah itu, Dinda langsung duduk di kursi yang tadi ditunjukkan oleh Ryan.
“Ini es krimnya,” kata Ryan sambil menyodorkannya ke arah Dinda. Dinda segera mengambilnya dari tangan Ryan.
“Kamu gak beli buat kamu sendiri?” tanya Dinda bingung.
“Gak, aku gak terlalu suka makanan yang manis,” jawab Ryan. Dinda mengangguk lalu mulai memakan es krim itu. Sementara Dinda memakan es krimnya, Ryan terus menatap wajah Dinda sambil tersenyum.
"Kenapa liatin aku kayak gitu?" tanya Dinda saat ia mulai sadar kalau ia terus ditatap oleh Ryan sejak tadi.
"Kayak... Serius banget," jawab Dinda. Ryan tersenyum lalu mengusap bibir Dinda dengan tangan kanannya.
"Ada sisa es krim di bibir kamu," kata Ryan sambil tersenyum.
"Ah, iya, makasih," sahut Dinda. Ia segera menghabiskan es krimnya lalu pergi lagi ke tempat yang tadi. Ternyata, Amanda dan yang lainnya sudah menunggu Dinda dan Ryan.
“Kalian abis dari mana? Kok lama banget?” tanya Amanda sambil menatap wajah Dinda dan Ryan secara bergantian.
“Tadi aku abis makan es krim,” jawab Dinda.
"Abis ini kita naik Bianglala yuk! Pemandangannya pasti bagus!" ajak Amanda.
"Oke," sahut Dinda.
Mereka pun menuju ke wahana terakhir yaitu Bianglala. Mereka harus menunggu antrean yang ramai sampai giliran mereka untuk menaiki wahana itu. Sayangnya, hanya tinggal 4 orang lagi yang bisa menaiki wahana ini dan sisanya harus menunggu lagi. Jadi, Dinda dan Ryan menaiki Bianglala bersama Amanda dan Budi. Awalnya, Dinda dan Ryan tidak berbicara dan hanya melihat pemandangan malam hari yang indah dari Bianglala itu. Namun, saat Bianglala yang Amanda dan Budi naiki sudah sampai di puncak, mereka berdua malah berciuman dengan mesra.
“Mereka…Beneran lagi ciuman?” tanya Dinda dengan tatapan tidak percaya.
"Iya, kenapa? Kamu mau juga?" tanya Ryan sambil menatap wajah Dinda.
__ADS_1
"Sorry, aku belum siap ciuman sekarang," jawab Dinda sambil menggelengkan kepalanya.
"Hmm, gapapa," sahut Ryan datar.
"Kenapa kamu jadi datar gitu?" tanya Dinda.
"Gapapa," jawab Ryan.
"Aku jadi ngerasa bersalah, Sayang," sahut Dinda sambil menghela napasnya.
"Aku 'kan udah bilang gapapa, kamu gak usah ngerasa bersalah lagi, oke?" sahut Ryan sambil tersenyum. Dinda langsung mencondongkan tubuhnya dan mencium pipi kanan Ryan.
"Gini aja udah cukup, 'kan?" bisik Dinda ke telinga Ryan.
"Iya," jawab Ryan sambil tersenyum lebar.
"Pipi kamu jadi merah!" seru Dinda sambil menyentuh kedua pipi Ryan dengan jari telunjuknya.
"Ah, masa?" tanya Ryan sambil tertawa.
"Kamu gak percaya?" tanya Dinda yang langsung cemberut.
"Gak," jawab Ryan sambil menyentuh hidung Dinda untuk mencairkan suasana di antara mereka.
“Yaudah kalo kamu gak percaya,” kata Dinda sambil mengalihkan pandangannya dari wajah Ryan.
“Aku bercanda, Sayang. Aku seneng banget kamu mau inisiatif cium aku duluan,” sahut Ryan yang langsung memeluk Dinda.
“Siapa yang inisiatif cium kamu duluan?” tanya Dinda malu-malu.
“Kamu gak perlu malu, Sayang,” kata Ryan.
Saat mereka sudah turun dari Bianglala itu, Dinda berusaha bersikap seperti biasanya. Sementara itu, Ryan terus tersenyum sampai Leo menatap tajam ke arah Ryan. Kali ini, Amanda, Budi, Dinda, dan Ryan harus menunggu di dekat pintu keluar Bianglala sampai yang lainnya selesai.
“Sayang,” panggil Ryan.
”Iya,” jawab Dinda.
“Bintang sama bulan yang bersinar di malam ini indah, ya,” kata Ryan sambil menatap ke arah langit.
“Iya,” sahut Dinda.
“Kamu mau buat permohonan gak?” tanya Ryan sambil menatap wajah Dinda.
“Permohonan?” tanya Dinda ragu.
__ADS_1
“Iya,” jawab Ryan. Ia langsung berdoa untuk menyampaikan permohonannya kepada Tuhan. Dinda tampak berpikir tentang permohonan apa yang akan ia doakan. Tidak lama kemudian, ia sudah mengetahui apa yang akan ia doakan dan mulai berdoa juga supaya harapannya itu bisa menjadi kenyataan.
Bersambung......