Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Kompetisi Basket (2)


__ADS_3

Kring.. Kring.. Kring..


Bel jam istirahat kedua berbunyi. Ini adalah waktu bagi tim basket SMA Tunas Bangsa II untuk bertanding basket bersama dengan tim basket dari sekolah-sekolah lain. Para murid sudah berkumpul di sekitar lapangan untuk melihat perlombaan basket yang akan segera dimulai di Sekolah SMA Tunas Bangsa II. Lebih tepatnya, hampir 90% penontonnya berdiri disana hanya untuk melihat Ryan seorang.


"Kalian siap?" tanya Ryan.


"Siap!" jawaban serentak dari tim basketnya.


"Tapi, gua masih agak gugup nih." sahut Aldi.


"Ya elah, seriusan lu, Di." sahut Dimas.


"Emang lu gak gugup?" tanya Aldi.


"Ya...sedikit sih." jawab Dimas.


"Ryan." panggil Aldi.


"Apa?" balas Ryan.


"Gua masih gugup." jawab Aldi.


"Gua juga." timpal Dimas.


"Kalian berdua tarik napas yang panjang." sahut Ryan.

__ADS_1


"Udah, bro. Terus?" tanya Aldi.


"Buang." jawab Ryan.


"Huh leganya." sahut Aldi.


"Tapi, gua tetep gugup. Gimana nih?" tanya Dimas.


"Apa sih lu gugup mulu? Kapan kita mainnya kalo lu gugup mulu? Udah cepetan tarik napas terus buang mau yel-yel nih kita." sahut Aldi.


"Iya. Iya, Di." balas Dimas.


"1, 2, 3, Champion! Let's go!" sorak mereka semua. Champion adalah nama tim basket mereka. Mereka pun memasuki lapangan dan bermain melawan tim basket dari SMA Bina Bangsa.


"Ryan! Ryan! Ryan!" sorakan dari 90% penonton tertuju untuk Ryan saat ia tengah berlari ke arah ring basket lawan untuk mencetak gol.


"Ryan yang terbaik!" Ryan bisa dengan jelas mendengar teriakan para siswi yang terdengar dari jarak 3 meter. Oleh karena itu, Ryan menoleh dan melambaikan tangannya sambil tersenyum ke arah para siswi. Ia melakukan ini tentu saja untuk menghargai dukungan para siswi yang sedari tadi meneriaki namanya.


"Eh, Din. Lihat, dia melambaikan tangannya sambil tersenyum." kata Amanda.


"Siapa?" tanya Dinda.


"Ryan. Lihat deh." jawab Amanda.


"Oh." sahut Dinda sambil mengangguk.

__ADS_1


"Kenapa kamu bereaksi biasa saja? Apa kamu tidak terpesona?" tanya Amanda yang memperhatikan wajah Dinda.


"Emangnya apa yang spesial dari dia menyapa para siswi?" Dinda malah balik bertanya.


"Kamu benar. Tapi, dia tetap terlihat sangat tampan." sahut Amanda.


"Manda.." kata Dinda.


"Ehem." seseorang dari belakang tiba-tiba muncul. Itu adalah Budi yang sengaja berdehem.


"Eh. Maksudku, seberapa tampannya Ryan aku pun tidak peduli. Aku hanya peduli pada Budi." sahut Amanda. Ia dan Budi sedang bertatapan sambil tersenyum sekarang. Tentu saja hal ini membuat Dinda iri.. ya, siapa yang tidak iri melihat pasangan mesra di depan mata jika kita sendiri jomblo.


"Um.. Aku pergi dulu." kata Dinda.


"Kenapa?" tanya Amanda.


"Kalian memintaku untuk menjadi nyamuk diantara kalian berdua?" tanya Dinda.


"Tidak." jawab Budi.


"Oke, aku pergi dulu. Sampai nanti." kata Dinda.


"Iya, sampai nanti." sahut Amanda.


"Ayo, ayo, Ryan!" sorak para penonton. Ryan sudah terlihat mau mencetak gol lagi untuk yang kedua kalinya. Kali ini, dia berhasil mencetak gol dengan teknik Lay-up yang dikuasainya. Ryan terus menerus mencetak gol hingga tujuh kali. Sekarang, waktu sudah hampir habis, Ryan merebut bola dari tangan lawan lalu men-dribble bola yang ia pegang sambil berlari ke arah ring lawan dan melemparkannya dari jarak jauh yang dinamakan three point shoot. Teknik ini sebenarnya agak sulit dilakukan namun tidak bagi Ryan karena ia sudah terbiasa berlatih.

__ADS_1


"Wow, aku tidak menyangka dia sehebat itu." kata Dinda takjub.


Bersambung.....


__ADS_2