Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Ryan & Dinda


__ADS_3

Di dalam mobil


"Kamu mau setel lagu?" tanya Ryan. Dinda masih menatap layar ponselnya untuk mengabari kakaknya kalau ia akan pulang bersama Ryan.


"Um... lagu 7 rings Ariana Grande," jawab Dinda. Ryan langsung memutarkannya untuk Dinda.


"Ryan," panggil Dinda saat lampu lalu lintas berwarna merah.


"Hmm," sahut Ryan.


"Kamu gapapa?" tanya Dinda yang sedari tadi sudah mencoba memberanikan dirinya untuk bertanya.


"Apa maksudnya?" sahut Ryan.


"Kamu sangat berbeda hari ini," jawab Dinda.


"Apa yang beda?" tanya Ryan.


"Tidak... mungkin cuma aku yang merasa begitu," kata Dinda sambil menggeleng pelan.


"Kamu merasakan apa?" tanya Ryan penasaran.


"Hah? Ti-tidak ada." jawab Dinda sambil membuang pandangannya ke arah lain.


"Beneran gak ada?" tanya Ryan sambil tersenyum.


"Gak!" seru Dinda sambil memberanikan dirinya untuk menatap ke arah Ryan.


Gila, dia ganteng banget ternyata! Senyumnya bisa-bisa bikin aku salting. Gawat, gak boleh liat dia lama-lama, batin Dinda yang jantungnya berdegup kencang setelah melihat Ryan dari dekat.


"Ri," panggil Dinda.


"Iya?" tanya Ryan yang tampak kebingungan.


"Oh, maaf. Tadi itu aku... ga sengaja panggil... anggep aja nama panggilan," kata Dinda gugup.


"Gapapa. Kamu orang pertama yang memberiku nama panggilan," sahut Ryan.


"Kenapa?" imbuhnya.


"Aku lupa beli buku. Boleh gak kita mampir dulu ke toko buku deket sini?" tanya Dinda.


"Boleh," sahut Ryan.


"Seratus meter lagi udah sampe kok," kata Dinda. Ryan hanya mengangguk. Setelah mereka sampai, Ryan segera memarkirkan mobilnya.


...****************...


Di toko buku


Dinda memilih beberapa buku pelajaran dan juga novel-novel dari para penulis terkenal seperti Andrea Hirata dan Erisca Febriani. Namun, saat dirinya hendak mengambil buku yang tersedia di rak bagian atas dengan berjinjit, Ryan sudah mengambilkannya untuknya.


Kenapa dia jadi keliatan ganteng banget hari ini? tanya Dinda dalam hati.

__ADS_1


"Terima kasih," kata Dinda.


"Sama-sama," sahut Ryan sambil tersenyum. Setelah selesai mengambil semua buku yang Dinda perlukan, mereka menuju ke kasir bersama.


"Totalnya jadi tiga ratus ribu, Kak," kata sang kasir. Dinda baru saja akan membuka dompetnya namun Ryan sudah berdiri di sampingnya.


"Ini, Mbak," sahut Ryan sambil menyerahkan uang cash berjumlah tiga ratus ribu kepada kasir itu.


"Jangan, Mbak! Pakai yang ini aja," seru Dinda. Namun, uang milik Ryan terlanjur lebih dulu diambil oleh sang kasir.


"Terima kasih, Kak, Selamat datang kembali," sahut kasir itu sambil menyodorkan buku-buku tadi kepada Dinda untuk dibawa pulang. Dinda memiliki kantong belanja sendiri sehingga ia memasukkan buku-bukunya ke kantong itu.


"Sama-sama," kata Dinda.


...****************...


Di dalam mobil


"Ri, ini aku ganti," kata Dinda sambil menyodorkan uangnya sebesar tiga ratus ribu.


"Gak usah," sahut Ryan tanpa mengambil uang itu dari tangan Dinda.


"Tapi, itu mahal, Ri!" desak Dinda sambil tetap menyodorkan uangnya.


"Gapapa," kata Ryan.


"Gimana bisa gapapa? Udah ambil aja," sahut Dinda.


"Gak usah," tolak Ryan. Dinda pun akhirnya pasrah dari pada ia harus berdebat dengan Ryan perkara uang.


"Gak," jawab Dinda.


"Tapi, perut kamu itu udah minta diisi. Ayo kita makan!" ajak Ryan.


"Kamu mau makan apa?" tanya Ryan.


"Apa aja," jawab Dinda.


"Oke. Kalau gitu, kita ke restoran deket sini aja, ya," kata Ryan. Dinda hanya mengangguk karena tubuhnya sudah lemas. Ia ingat kalau tadi siang ia lupa makan karena mengerjakan tugas.


"Kamu belum makan siang?" tanya Ryan pada Dinda.


"Belum. Dari mana kamu tau?" tanya Dinda.


"Mukamu pucat," jawab Ryan.


"Serius?" tanya Dinda kaget. Ia segera melihat wajahnya di kaca mobil yang ada di hadapannya.


"Walaupun memang pucat, tapi aku gak jelek, 'kan?" tanya Dinda tanpa sadar kalau dirinya menanyakan itu pada Ryan.


"Hmm, kamu selalu cantik," jawab Ryan sambil tersenyum.


Sebenarnya, aku atau dia sih yang gila. Pasti aku yang gila. Bodohnya aku bisa nanya ke dia. Din, kamu harus sadar! Dia lagi liatin kamu. Jangan malu lagi! batin Dinda.

__ADS_1


"Ehem... kamu gak usah bohong. Muka aku lagi pucat gini mana mungkin cantik," sahut Dinda.


"Sekarang, kamu liat ke arah langit di atas sana. Gimana menurut kamu?" tanya Ryan sambil tersenyum.


"Warna langitnya agak beda sih, tapi cantik banget," jawab Dinda sambil menatap langit senja yang berwarna agak pink seperti aurora.


"Kamu juga begitu," sahut Ryan.


"Makasih," kata Dinda pelan.


...****************...


Di restoran


"Makanannya enak?" tanya Ryan. Saat ia melihat cara Dinda makan, ia tahu Dinda pasti anak orang kaya.


Untung aku pilih restoran yang agak mahal, batin Ryan.


"Iya," jawab Dinda pelan.


"Kalau kamu mau, kamu bisa mengajakku kapanpun ke sini," kata Ryan.


"Ah, oke," sahut Dinda.


Setelah selesai makan, mereka melihat bill di depan mereka. Dinda mulai melihat makanan dan minuman yang dipesannya sampai seratus lima puluh ribu.


"Aku bayar sendiri ya punya aku," kata Dinda sambil mengeluarkan seratus lima puluh ribu dari dompetnya.


"Gak usah," tolak Ryan.


"Gapapa, aku bayar," sahut Dinda sambil menaruh uang yang ia pegang ke tangan Ryan.


"Gak usah, simpen aja uang kamu," kata Ryan sambil mengembalikan uang itu ke tangan Dinda yang membuat ia pasrah dan pada akhirnya ia simpan kembali uangnya ke dalam dompetnya.


...****************...


Di Rumah Alexa


"Clarissa, aku akan langsung to the point saja. Aku mengajakmu ke tempatku karena aku ingin kamu membuka matamu atas apa yang sedang terjadi," kata Alexa.


"Apa itu?" tanya Clarissa.


"Sebelumnya, kamu adalah tunangan Ryan. Lalu, Ryan memilih Dinda bukan kamu. Apa kamu tidak sedih?" tanya Alexa.


"Maaf, jika tujuanmu mengajakku hanya untuk membicarakan ini, aku akan tegaskan bahwa aku tidak sedih. Ryan dan Dinda saling menyukai..." jawab Clarissa.


"Dan kamu mau terus hidup menyedihkan seperti ini? Mengalah demi orang lain? Kamu terlalu baik!" jerit Alexa.


"Lebih baik aku seperti ini. Aku tidak boleh egois," kata Clarissa.


"Oke. Bagaimana jika aku bisa membuat masa depanmu menjadi lebih baik? Apa kamu mau menerima tawaranku?" tanya Alexa.


"Masa depan apa? Apa yang akan kamu lakukan untuk itu?" sahut Clarissa.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2