
Raka duduk termenung dengan penyesalan yang begitu besar. Namun semau sia-sia dia tidak bisa melihat anaknya lagi.
Puas dengan kesendiriannya Raka mencari ku di kamar Ray dan Rey.
"Mel" panggilnya. Raka pun masuk kedalam kamar, lalu dia mengkode baby sitter untuk keluar.
Aku hanya diam tak merespon panggilannya, hatiku masih sakit atas perlakuan Raka. Dia memelukku namun aku menghindar.
"Please mas, jangan menggangguku. Pergilah kamu pasti sibuk sekali di luar sana sehingga kamu melupakan kami." kataku tanpa menatap Raka.
"Mel, maafkan aku" lirihnya.
"Maaf mu tak ada gunanya untuk saat ini, hatiku terlanjur sakit dan rasa cintaku telah berubah jadi benci" sahutku
"Lagipula kamu juga membenci aku kan, karena badanku yang melar. Kamu malu dengan teman-temanmu." imbuh ku.
"Bukan begitu Mel" sangkal nya
"Kalau bukan begitu, begini saja mas" timpal ku.
Kami saling diam, kami kalut dalam pikiran masing-masing.
__ADS_1
"Hidupmu akan lebih indah tanpa ada aku di dalamnya mas, kamu bisa berbuat sesukamu tanpa harus memikirkan yang di rumah. Kamu tampan, kamu kaya kamu memiliki segalanya pasti akan mudah untuk mencari wanita." ucapku yang membuat Raka menghela nafas.
"Mel.... tapi aku ingin bersamamu" sahutnya
Mendengar ucapannya membuatku tertawa
"Mas mas, kalau kamu ingin hidup bersamaku seharusnya kamu bersikap wajar layaknya seorang yang memiliki keluarga. Namun tiga bulan terakhir ini apa? kamu pulang larut berangkat pagi bahkan sampai anak meninggal kamu nggak tau yang lebih tepatnya nggak mau tahu, lalu aku harus bagaimana?" kataku dengan menangis.
"Apakah kamu ingin Roy sedih di sana Mel?" bujuk nya
"Justru kalau kita masih bersama Roy akan bersedih mas" jawabku
"Aku mohon Mel, kita perbaiki lagi dari awal" bujuknya lagi
Raka pun terduduk lemah," ampuni aku Mel, aku tau aku salah, tidak adalah kesempatan lagi untuk membina yang telah rusak" pintanya
Raka terus saja memohon padaku dan sedikit demi sedikit pertahanan ku pun roboh, aku sungguh tak tega melihatnya memohon dengan berlutut seperti itu.
"Bangunlah mas, jangan seperti itu. Kamu adalah orang besar sungguh tak pantas berlutut memohon padaku yang hanya orang biasa." kataku
Tiba-tiba ponsel mas Raka berdering, namun berkali-kali dia menolak panggilan yang masuk.
__ADS_1
"Kenapa direject??" tanyaku dengan menatapnya
"Bukan siapa-siapa Mel" jawab Raka lalu mematikan ponselnya.
"Aku yakin itu pasti siapa-siapa mas" batinku lalu tersenyum kecut.
Ray dan Rey pun terbangun karena obrolan kami, Raka menggendong Ray sedangkan aku menggendong Rey.
Saat menggendong Rey, kau teringat akan Roy. Air mataku lolos kembali.
"Roy, bunda kangen" kataku dengan menciumi Rey.
"Saudara kalian sudah bahagia di surga" imbuh ku
Raka hanya terdiam, mendengar kata-kataku.
"Maafkan ayah Ray, karena ayah terlalu sibuk dengan pekerjaan ayah sehingga ayah lalai pada kalian." kata Raka lirih.
Terlihat di ujung mata Raka yang basah, aku tau dia sangat menyesal namun hatiku masih terlalu sakit untuk memaafkannya.
Aku pun menyusui kedua bayiku bersamaan, setelah selesai aku memanggil Ke dua baby sitter untuk menggendong Ray dan Rey.
__ADS_1
"Kalian jaga mereka, aku mau istirahat dulu" kataku lalu menggendong kan kedua bayiku pada baby sitter nya satu satu.