
Raka yang harus membagi waktunya pun bingung, akhirnya Raka harus pulang larut lagi. Tepat pukul satu dini hari Raka sampai di rumah
Aku yang masih terjaga pun tau kalau Raka pulang, dengan pelan-pelan Raka menutup pintu supaya tidak menggangguku.
"Baru pulang mas?" tanyaku dengan tatapan yang tak biasa.
"Iya Mel, ada banyak urusan" jawabnya lalu merebahkan dirinya di kasur.
"Urusan kantor atau urusan pribadi mu?"tanyaku lagi
Raka menatapku, terlihat dia gugup dan bingung menjawab pertanyaan ku.
"Urusan kerjaan Mel" jawabnya lalu mengalihkan tatapannya dari mataku.
"Yakin?" tanyaku penuh penekanan
Iya Mel, memangnya apa yang aku lakukan di luar sana jika bukan soal kerjaan.
"Baguslah kalau begitu" sahutku
Aku sebenarnya curiga dengan mas Raka, kelihatannya ada yang disembunyikan dari aku.
"Mel, boleh aku meminta hak ku malam ini?" tanya nya dengan menunduk
__ADS_1
"Nggak" jawabku singkat.
Raka pun menghela nafasnya, dia menuju kamar mandi untuk melepas hasrat yang selama beberapa bulan ini dia tahan.
"Maafkan aku, aku tau kamu menyembunyikan sesuatu, jika benar itu wanita aku pastikan kamu nggak akan bertemu lagi dengan anak-anakmu mas" gumam ku lalu menutup mata.
Seusai melepas hasratnya Raka merebahkan dirinya di kasur, akibat dari pelepasannya semalam dia tidur sangat nyenyak sekali.
Sudah jam delapan Raka masih belum bangun, ponselnya terus saja berdering.
Aku yang kepo pun melihatnya
ada sebuah nama wanita di layar ponselnya. Air mataku pun jatuh. Tak hanya sekali namun wanita tersebut berkali kali menelpon mas Raka.
Karena suara berisik dari ponselnya Raka pun terbangun
"Rekan bisnis Mel" jawabnya singkat. Setelah menatap jam tangannya Raka segera bergegas ke kamar mandi.
Seusai mandi dia memakai bajunya yang tentu sebelumnya sudah aku siapkan.
"Makasih ya Mel" ucapnya.
Aku hanya berdehem lalu keluar kamar. Raka menyusul ku kemudian dia sarapan.
__ADS_1
"Mel nanti aku pulang malam lagi ya? nggak apa-apa kan?" pamitnya dengan menatapku
Jujur dalam mata mas Raka aku menemukan kebimbangan, ntah masalah apa yang tengah ia hadapi.
"Iya nggak apa-apa lagipula selama tiga bulan terakhir ini kan kamu juga nggak pernah nemenin aku." kataku ketus
"Please Mel, jangan gitu. Aku tau aku salah" timpalnya sendu.
"Udahlah mas, terserah kamu nggak pulang pun terserah, bosan aku sama kamu" cicit ku. Aku pun berdiri hendak berlalu namun Raka memegang tanganku.
"Dengerin aku...." belum sempat Raka melanjutkan kata-katanya aku menyela
"Lebih baik kita pisah, kita hidup sendiri-sendiri. Aku bosan hidup sama kamu, aku muak dengan kamu. Tolong please lepaskan aku" pintaku lirih dengan air mata yang jatuh membasahi pipi.
Raka lalu membuang tanganku dengan kasar lalu pergi begitu saja. Aku pun duduk lemah dengan air mata yang berderai.
"Kamu jahat mas, Rakaaaaa aku membencimu!!!" seruku dengan keras.
Art dan baby sitter yang melihatku pun turut sedih, sebagian ada yang pro denganku sebagian ada yang pro dengan Raka.
Dalam mobilnya Raka melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal, matanya basah. Dia sungguh kalut bingung apa yang harus dilakukan.
Karena menyetir dengan kecepatan maksimal akhirnya Raka pun menabrak pembatas jalan sehingga mobilnya terbalik.
__ADS_1
Orang-orang berusaha menyelamatkan Raka dan langsung melarikan Raka ke rumah sakit terdekat.
Di rumah saat aku membuat susu untuk kedua baby ku tiba-tiba gelas yang aku isi dengan air pun pecah, tiba-tiba perasaanku menjadi tak enak.