
Sebelumnya
Saat aku marah dengan mas Raka,mas Rangga sudah berdiri dibelakangku.
Dia baru saja dari toilet.
Jantungnya berdetak saat mendengar suaraku,
"Ini kamu Mel??"batinnya dengan menatap punggungku dengan sendu.
Saat aku berbalik betapa bahagianya dia, ingin sekali dia memelukku belum sempat dia memelukku aku sudah berucap
"Aku membenci kalian berdua" dan aku pun berlari.
Seketika mas Rangga memberi pesan pada bodyguard yang menunggu di mobil untuk menahanku dan membawaku di restoran terdekat.
Kembali
Aku pun mengangguk dan berkata lirih
"Raka Sanjaya adalah suamiku mas,seminggu yang lalu kami menikah."kataku lirih.
"Tapi kelihatannya dia tidak mencintaimu Mel,kenapa kamu menikah dengan orang yang tidak mencintaimu?kembalilah padaku Mel,kita bisa membangun kembali impian kita dahulu"kata mas Rangga dengan memegang tanganku.
"Maaf mas, aku tidak bisa.
Raka Sanjaya bukannya tidak mencintaiku namun dia belum mencintaiku bisa jadi dia juga mencintaiku namun belum sadar akan hal itu"kataku membela Raka.
Mas Rangga pun menunduk,
"Baiklah Mel,semoga kamu bahagia dengannya,namun masih bisakah kita berteman???"tanya Rangga dengan sedih.
__ADS_1
"Boleh mas,malah kebetulan aku selalu kesepian saat ditinggal Raka bekerja"kataku berbinar.
"Bagus Mel,setidaknya dengan menjadi temanmu, kita bisa mengenang cinta kita dahulu dengan begitu kamu akan mencintaiku lagi dan meninggalkan suami yang tak mencintaimu,maafkan aku mungkin aku terlalu licik,namun aku juga tak ingin melihatmu hidup dengan orang yang tak mencintaimu"batin Rangga dengan tersenyum manis kepadaku.
Aku pun meletakkan bungkusan yang berisi nasi goreng untuk mas Raka.
Rangga yang melihatnya pun bertanya
"Bungkusan apa ni Mel???"tanyanya.
"Makan saja mas,ni nasi goreng buatanku untuk Raka namun aku membawanya kembali kelihatannya dia tak menginginkannya."kataku sambil memajukan bibir.
Rangga pun segera mengambil bungkusan nasi goreng tersebut,dengan lahap dia memakannya.
"Kamu tu beneran jadi CEO???CEO kok kelaparan,pelan pelan makannya,kesedak sendoknya tau rasa"kataku yang membuat mas Rangga tersedak sungguhan.
Aku pun segera mengambil minumanku,namun saat hendak memberikannya aku pun mengurungkan niatku.
Dia pun meneguk air tanpa jijik,aku pun menatapnya,
"Kamu tu,kalau nunggu pesan dulu aku keburu mati,lagipula dulu kan juga gitu Mel,bahkan kita berbagi makanan berdua."ujar mas Rangga yang membuatku terdiam.
Otakku pun kembali ke masa lalu,rasanya sungguh manis kenangan dengan mas Rangga,usia kami memang selisih dua tahun,walaupun hanya dua tahun namun mas Rangga sungguh dewasa.
Setelah makan,aku pun pamit untuk pulang,namun mas Rangga tidak mengijinkan aku,katanya dia masih rindu.
Dia selalu mengatas namakan teman supaya dia bisa bersamaku.
Dia pun meminta pengawalnya untuk pergi,dia juga meminta kunci mobil karena dia yang akan menyetir sendiri tanpa sopir.
Dia pun mengajakku ke tempat tempat yang dulu pernah menjadi tempat favorit kami.
__ADS_1
Sungguh aku sangat bahagia,bahkan rasa sakit yang disebabkan Raka hilang sudah.
"Kamu ingat tempat ini???dulu ketika ada masalah kamu memintaku untuk memelukmu dari belakang dan kita berteriak bersama untuk melepasnya".kata Rangga yang sudah memelukku dari belakang.
Aku pun tersenyum,"namun kali ini berbeda mas,aku bukan milikmu lagi,aku sudah menjadi milik Raka."kataku lirih yang membuat Rangga melepas pelukannya.
"Aku tak akan menyerah Mel"batin Rangga dengan tersenyum.
Karena sudah larut,aku pun meminta Rangga untuk mengantarkan aku ke restoran tadi siang karena motorku masih di sana.
"Tidak,mana boleh kamu naik motor malam malam begini???angin malam sangat tidak baik biar para pengawalku yang membawanya ke rumahmu,kamu aku antar.,kalau Raka bertanya bilang saja aku temanmu" kata Rangga mencoba mempengaruhiku.
Aku pun mengangguk dan menurut dengan kata mas Rangga.
Tepat pukul sembilan aku sampai di apartemen,saat aku masuk kamar kulihat Raka sudah bersandar di ranjang dengan kakinya berselonjor serta tangan yang memainkan ponselnya.
Aku yang malas pun tak menyapanya atau pun sekedar basa basi pada Raka.
Raka menatapku dengan lekat
"Kamu marah Mel???"tanya Raka yang membuat aku ingin membunuhnya.
"Enggak mas percuma juga marah dengan batu sepertimu,orang yang bisa menghargai istrinya sendiri."kataku ketus.
Mendengar kata kataku membuat Raka naik pitam namun dia masih bisa mengontrolnya.
"Apa maksud kamu Mel???"tanya Raka kembali
"Kamu sebenarnya bodoh apa pura pura bodoh mas,kalau memang kamu tak bisa mencintaiku lebih baik kita berpisah supaya kamu juga tidak tersiksa hidup denganku"kataku lalu membalikan badan,air mataku pun menetes.
Sedangkan Raka mengusap rambutnya kasar
__ADS_1
"Maaf Mel,bukan seperti maksud aku"katanya lirih lalu menyusulku di kamar mandi.