
"Mel....Ayo bangun Mel"mas Raka menggoyang tubuhku yang dengan erat memeluk dirinya.
"Apaan sih mas,tubuhku masih butuh tidur ni"gerutuku yang tak mau bangun.
Raka pun tersenyum licik,di dekatkan mulutnya di telingaku dan berkata
"Kamu terus tidur atau aku akan menggagahimu sekarang juga"bisiknya dengan tersenyum licik.
Mendengar kata katanya membuat mataku terbuka lebar dan bangun.
"Iya iya ni bangun,nanti malam lagi kalau ingin menggagahi,ada apa sih bangunin aku pagi sekali, lihat tu masih jam tiga"gerutuku sambil menunjuk benda warna putih yang menempel di dinding.
Raka pun menepuk dahinya sendiri lalu berucap
"Jam dindingnya mati,belum aku ganti baterainya.
Aku pun melotot
"Masa mas?"tanyaku seolah tak percaya.
Raka pun menghela nafas,lalu menunjukan jam di ponselnya.
"Lihat ni jam berapa?" katanya dengan sedikit kesal.
Mataku terbelangak,pasalnya sudah jam enam yang artinya aku telat sholat subuh.
Secepat kilat aku mandi begitu pula mas Raka,kali ini kami mandi barengan.
Setelah itu menyusul sholat yang ketinggalan,seperti pepatah lebih baik telat atau tidak sama sekali,toh bangun kesiangan memang juga bukan inginku.
Dan tidak ada hukumnya untuk itu.
Seusai sholat,aku melempar mukenahku di sofa dan bergegas menuju dapur.
Mas Raka pun melipatkan mukenahku sambil geleng geleng kepala.
Lalu dengan santai Raka menyusulku ke dapur,melihatku yang sedang bingung,lalu dia pun berpendapat.
"Ayo kepasar"ajaknya dengan tersenyum.
__ADS_1
Dengan hati senang aku mengambil kunci motorku lalu berjalan di samping mas Raka dan memegang tangannya.
"Semoga perubahanmu berlaku untuk selamanya mas,bukan hanya sementara"batinku dengan memandangnya sambil senyum senyum sendiri seperti orang gila.
"Jadi kita ke pasar atau rumah sakit jiwa??kelihatannya ada yang tidak beres dengan otakmu Mel,senyam senyum sendiri gak jelas."kata mas Raka tanpa melihat ke arahku.
"Ingin rasanya ku plester mulutnya itu,bisa bisanya mau membawa aku ke rumah sakit jiwa"aku pun merutuki Raka dalam hati.
Seolah tau kalau aku merutukinya dia pun menimpali
"Dosa Mel kamu,pasti dalam hati kamu mengumpatiku kan??"katanya dengan terkekeh.
"Wah....Kamu hebat sekali mas,bisa menebak pikiran orang lain,kenapa gak beralih profesi saja jadi dukun,lumayan tu penghasilan dari dukun apalagi kalau tebakannya jitu"kataku dengan tertawa.
"Ide bagus lalu kamu dipanggil bu dukun"Raka pun tertawa.
Aku yang geram plus kesal lalu meninggalkan Raka yang masih tertawa.
Aku pun mengambil motorku lalu menghampiri Raka,
"Aku saja yang bonceng lebih safety daripada mas Raka"ujarku lalu mengkode Raka untuk naik.
Raka menyusupkan tangannya di perutku.
"Enak ya Mel,naik motor lebih romantis"bisik Raka.
"Iya mas"jawabku singkat.
Mas Raka pun memelukku dengan erat,dia pun menyandarkan kepalanya di bahuku sehingga membuat pengendara lain pun melihat kita berdua.
"Woy kalau mesum jangan di jalan dong,ganggu konsentrasi orang saja"celetuk salah satu pengguna jalan.
"Woy....Biarin dong sirik aja,seperti gak pernah muda saja"gerutuku meneriaki orang tersebut.
Berbeda dengan mas Raka yang tenang saat mendengar kata kata orang tersebut,bahkan tak membuat Raka bergeming.
Masa bodoh dengan kata orang.
Ternyata benar ya,kalau orang lagi jatuh cinta dunia serasa milik berdua yang lainnya mengontrak,bahkan rasa malu pun digadaikan.
__ADS_1
Setelah di pasar kami pun membeli nasi pecel seperti kemarin, sang penjual pun curi curi pandang pada mas Raka.
Aku yang mengetahuinya pun menegur penjual nasi pecel tersebut.
"Memangnya ada yang aneh mba dengan wajah suami saya???tanyaku dengan ketus.
Sang penjual pun tertawa,
"Dapat suami dimana mba kok cakep banget"katanya dengan memandangi mas Raka.
Aku yang kesal pun tak menjawab pertanyaan penjual pecel tersebut.
"Nyesel aku beli nasi pecel disini"batinku dengan kesal.
Setelah pesanan kami siap,aku pun memberikan uang warna merah lalu pergi sambil berkata
"Kembaliannya ambil"
Karena kesal,aku langsung pulang.
Raka pun protes karena aku tak membeli yang lainnya.
"Gak, nanti pasti akan ada yang menggoda atau curi curi pandang ke mas Raka dan aku tak ikhlas dunia akhirat"garutuku lalu melajukan motorku.
"Duh....Segitunya kalau cemburu,kan aku hanya milikmu seorang Mel"Raka pun mengeluarkan gombalan mautnya.
"Maka dari itu mas,aku harus menjaga milikku dari para pelakor pelakor"timpalku lalu fokus menyetir.
Setelah sampai di apartemen Raka pun ganti baju yang tentunya telah aku siapkan terlebih dahulu kemudian kami sarapan bersama.
Raka pun memintaku untuk mengantar makan siangnya ke kantor,
"Biar Fajar nanti yang menjemputmu,jangan pakai motor karena panas,nanti kamu hitam"kata Raka tegas namun di akhir kalimat malah mengejekku.
"Bila perlu aku akan membelikanmu mobil sendiri"imbuhnya.
Aku pun melotot,sebelum berkata, Raka sudah memotong.
"Dilarang komplain,protes maupun membantah."katanya tegas lalu berdiri siap untuk berangkat.
__ADS_1