Melati Untuk Sang CEO

Melati Untuk Sang CEO
Amarah Fajar


__ADS_3

Awalnya ingin langsung ke rumah Citra, karena Raka memberinya tugas akhirnya Fajar mengundur nya sampai tugasnya selesai.


"Mas Fajar aku pulang dulu ya? nanti kehadiranku mengganggu lagi, gak enak sama bos mas Fajar" pamit Citra


"Nggak boleh Chelsea, kamu masih belum menjawab kataku tadi" Fajar pun tidak memperbolehkan Citra pulang


"Kata-kata mana sih mas?" tanya Chelsea bingung


"Kamu belum bilang kalau kamu juga mencintaiku" jawab Fajar


"Astaga mas, apa ciuman tadi belum bisa mewakilinya, apa harus di ungkapkan?" sahut Citra dengan tertawa


"Belum" timpal Fajar singkat


Citra pun mendekat, dia pun bilang


"I love you too"


Fajar pun mencium Citra lagi, kini nafsunya sungguh membara. Saat berciuman lagi-lagi Raka datang


"Oppps sorry Jar, ini ada yang kelupaan" kata Raka yang membuyarkan pautan Fajar.


"Mas Raka sengaja ni kayaknya, kelihatannya nggak suka banget lihat aku bahagia" gerutu Fajar


"Lo Lo kok malah kamu yang marah, seharusnya aku dong yang marah. Berciuman di jam kantor" sahut Raka


"Kayak mas Raka nggak saja, berkali-kali aku juga melihat adegan syur kalian" kata Fajar kesal


Tanpa berkata apa-apa Raka pun keluar namun tak lama baru saja keluar Raka kembali


"Ciuman tiga kali gratis satu kali Jar, dan gratisnya bayar ke aku" goda Raka dan berlalu


Fajar pun geram, "Awas kamu mas kalau bermesraan di kantor akan aku viral kan, lumayan tu chanel ku " gerutu Fajar.


Fajar pun menyuruh Citra untuk menemaninya, Setelah selesai dia pamit pada Raka untuk pulang cepat.

__ADS_1


"Mas aku pulang cepat ya" pamit Fajar


"Ok Jar, hati-hati dan good luck ya" sahut Raka


********


Kini Fajar sudah sampai di rumah Citra, di sana sudah ada papa dan mama Citra.


Papa Fajar masih menyimpan dendam dengan Fajar karena penolakannya waktu itu.


"Sore om dan tante" sapa Fajar dengan tersenyum


"Iya sore, mau apa kamu kemari" tanya pak Wijaya dengan sinis


"Yang pertama saya mengantar Citra, yang kedua saya ingin membicarakan hal yang penting dengan om dan tante" jawab Fajar


Pak Wijaya pun mengerutkan alisnya, dia berfikir kenapa Fajar ingin berbicara padanya.


Lalu mama Citra mempersilahkan Fajar untuk masuk.


Pak Wijaya pun tertawa mendengar permintaan Fajar, kemarin Fajar menolak kerja samanya dan sekarang dia ingin menikahi Putrinya.


"Bagaimana jika saya tidak setuju" sahut pak Wijaya


"Anda tidak memiliki pilihan pak, mau nggak mau anda harus setuju. Dan tenang saja saya akan membebaskan rumah ini dari sitaan bank" timpal Fajar


Pak Wijaya pun geram dengan Fajar apa maksudnya kalau dia tidak memiliki pilihan.


"Apa maksud kamu?" tanya pak Wijaya tak mengerti


"Saya tau semua aset om dalam sitaan pihak bank, dan sekarang om dan tante tidak memiliki apa-apa, dan untuk pindah ke kota lain dan menganggur di sana, pikirkan nasib anak-anak om dan tante" jawab Fajar menjelaskan


Pak Wijaya diam sejenak, memang benar apa yang dikatakan oleh Fajar.


"Baiklah namun ada syaratnya" pinta pak Wijaya

__ADS_1


"Apa?" tanya Fajar


"Selain membebaskan rumah ini, kamu harus memberikan modal pada saya, anggap saja kamu telah membeli anak saya" jawab Pak Wijaya


Fajar pun kaget, dia tidak percaya kalau pak Wijaya menjual anaknya. Karena kata-kata ayahnya membuat Citra menitikkan air matanya, dia tak menyangka ayahnya tega mengatakan itu.


"Iya Fajar, untuk biaya operasi kemarin kami mengeluarkan banyak biaya" sahut mama Citra


"Baiklah namun semua saya berikan saat acara Ijab Qabul kami" pinta Fajar


"Jadi berapa yang pak Wijaya minta" tanya Fajar


" 20 miliar" jawabnya


Citra membolakan matanya dia tak percaya ayahnya meminta uang sebanyak itu. Fajar pun juga kaget dengan permintaan pak Wijaya namun dia juga tidak bodoh


"Baiklah pak" sahut Fajar menyanggupi


Pak Wijaya dan Bu Ratna pun tertawa, Meraka kini sudah make a deal, Citra yang kecewa pun langsung saja pergi ke kamarnya tanpa bilang apa-apa.


Fajar pun langsung saja mengejar Citra hingga dia melihat Citra masuk dalam kamar yang tersedia pengap dan sempit.


"Citra" panggilnya


"Mas, lebih baik kamu lupakan aku. Jangan menyusahkan dirimu karena aku mas, papa dan mamaku sungguh keterlaluan. Aku tak menyangka mereka sungguh menjual aku padamu" kata Citra


"Nggak, Sampai kapanpun aku nggak akan melupakanmu, kamu milikku sekarang" sahut Cita


Fajar pun melihat sekelilingnya, dia sungguh tak menyangka di rumah yang sebesar ini mereka membiarkan Citra tidur di tempat ini.


"Apa ini kamarmu?" tanya Fajar dengan raut wajah yang bisa diartikan.


"Iya mas" jawab Citra singkat.


Citra sungguh malu Fajar harus melihat kamarnya, kamar yang sempit serta pengap bahkan seseorang pembantu pun tak layak mendapatkan kamar seperti ini

__ADS_1


"Kalian pasti akan merasakan apa yang Citra rasakan." batin Fajar dengan mengepalkan tangannya.


__ADS_2