
Dokter keluar dengan raut wajah yang sedih, melihat dokter dengan raut wajah yang sedih membuatku lemas, pikiranku kemana-mana sungguh aku tak kuasa jika harus mendengar berita yang buruk.
"Bagaimana dokter" tanyaku dengan mata yang terkumpul di pelupuk mata yang sudah siap menjebol pertahanan mataku.
"Sebelumnya saya minta maaf nyonya, kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun anda terlambat membawa bayi anda kesini...." kata dokter yang belum sempat melanjutkan kata-katanya.
Mendengar penuturan dokter membuatku berpegangan bahu baby sitter ku
"Dok, jangan bilang kalau bayi saya tidak terselamatkan, bayi saya baik-baik saja kan dok" kataku lirih
"Maaf nyonya, namun Tuhan berkehendak lain bayi anda telah meninggal" kata dokter
"Tidak dokter tidak mungkin dia tadi pagi masih bersamaku, dia masih sehat tidak mungkin kalau sekarang dia telah bersama Tuhan, jangan bohongi aku dokter" teriakku histeris.
"Anda bisa melihatnya nyonya, saya pamit dulu" kata dokter lalu berlalu dengan susternya.
Aku pun berlari masuk, melihat bayiku memejamkan mata, membuatku lemah. Dengan sisa tenaga yang aku miliki aku menghampirinya.
"Sayang, kenapa Roy pergi menghadap Tuhan secepat ini, apa bunda kurang sayang ya, sehingga Roy meninggalkan Bunda secepat ini, kita baru bersama selama empat bulan lo sayang" kataku lirih dengan air mata yang mengucur deras.
"Sudahlah nyonya, ikhlaskan kepergian baby Roy" baby sitter Roy mencoba menenangkan aku"
__ADS_1
"Ini semua juga salahmu!" bentak ku dengan menggendong tubuh kaku bayi kecilku.
Tak selang berapa lama aku kembali ke rumah. Aku masuk ke dalam rumah dengan menggendong bayi kecilku.
Semua art sudah berkumpul di ruang tamu, dengan raut wajah yang sedih.
Bi Ijah pun menangis saat melihat aku masuk dengan membawa tubuh kaku Roy.
Mereka semua menyiapkan pemakaman untuk Roy, sedangkan aku hanya menangis samping bayiku.
Pagi pun menjelang, para ustad dan pemuka agama sudah datang ke rumah.
Saat Roy di kafani, aku mengecupnya untuk yang terakhir kali.
Tiga jam berlalu kini Roy sudah dimakamkan, ku pandangi foto-foto Roy.
"Bunda sendirian sayang lihatlah ayah kamu bahkan tidak tau kalau kamu sudah kembali ke Tuhan. Nanti kita jewer ya sayang, kelihatannya ayah sudah nakal di luar" kataku dengan tangis pecah.
Malam hari Raka baru pulang, dia pun bingung pasalnya seluruh keadaan rumah sedikit berubah begitu pula dengan raut wajah setiap art.
Raka yang lelah pun masuk kamar, dia melihatku yang tiduran meringkuk dengan terisak.
__ADS_1
"Kamu kenapa menangis Mel?" tanya Raka heran
Mendengar pertanyaan Raka membuatku terbangun, dan langsung menghampirinya.
Plak
Tanganku pun mendarat sempurna di pipinya.
"Yang jelas aku menangis bukan karena dirimu mas, darimana saja kamu hah!" seruku dengan menatap Raka tajam.
Raka masih memegangi pipinya yang sakit karena tanganku, matanya merah dan rahangnya mengeras menandakan kalau dia sedang marah.
"Apa mau mu?" tanya Raka dengan mencengkeram tanganku.
"Kamu yang maunya apa? dari kemarin aku menghubungimu namun selalu saja nggak kamu angkat, pesan juga nggak kamu balas, kamu tau nggak sih kalau Roy anak kita meninggal!!!!" seruku dengan air mata yang mengucur semakin deras.
Raka pun terdiam menatapku
"Nggak lucu Mel" katanya lirih dengan mundur selangkah
"Aku nggak sedang bercanda, sungguh kamu keterlaluan mas, apa yang kamu lakukan di luar sana sehingga lupa dengan kami yang ada di rumah?" teriakku histeris.
__ADS_1
"Bunuh saja aku mas, aku sudah lelah dengan sikapmu. Aku nggak sanggup lagi hidup bersamamu." kataku lirih lalu keluar kamar.
Raka duduk lemas, dia tidak menyangka kalau anaknya telah meninggal.