
Raka masuk ke dalam kamar,dia pun berganti pakaian.
"Ada-ada saja, ogah banget aku nurutin ngidam yang seperti itu namun kalau nggak diturutin pasti marah " Gumam Raka lalu keluar dengan outfit celana pendek dan juga kaos.
"Masalahnya sekarang mana pohon kedondong nya Mel" tanya Raka dengan menatapku.
"Entah mas,kita bisa mencarinya" jawabku enteng.
"Enteng sekali kalau jawab, lupa ta kita hidup di kota Jakarta yang padat penduduk, jangan kan pohon kedondong yang tinggi, bunga di pot saja udah jarang" batin Raka dengan menatapku sinis.
Aku berfikir sejenak, lalu bi Ijah pun menyahut
"Nyonya, tetangga saya mempunyai pohon kedondong namun pohonnya tinggi sekali saya takut kalau tuan yang manjat akan jatuh." BI Ijah mencoba memberi informasi.
"Tenang Bi ,dulu mas Raka atlit panjat tebing tentu manjat buah kedondong sangat mudah baginya." Sahutku yang membuat Raka memelototi ku.
"Lama-lama ngelunjak kamu Mel, untung istriku coba kalau istri orang, udah ku buang" gumam Raka yang masih bisa aku dengar.
"Terus kamu yang dihajar suaminya" sahutku dengan melirik mas Raka.
Raka pun tertawa dengan mengangkat kedua telunjuknya.
"Eh BI, memangnya bibi tinggal dimana? kok masih ada pohon kedondong di kota Jakarta yang padat gini." Tanya Raka heran.
"Bibi tinggal di kampung nggak jauh dekat sini tuan, kan tinggalnya di kampung jadi masih ada beberapa yang memiliki pohon buah" Jawab BI Ijah.
"Sudah, ayok kita berangkat nanti keburu magrib gagal deh ambil buah kedondong nya" kataku dengan menatap mas Raka.
__ADS_1
"Ya sudah ayo" sahut Raka dengan menarik tanganku.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di kampung BI Ijah.
BI Ijah, membawa kami untuk menemui tetangganya.
Pemiliknya mengijinkan kami untuk mengambil buah kedondong nya.
Raka pun terbelangak melihat pohon kedondong yang menjulang tinggi.
"Ogah Mel, ayo kita pulang saja.Pohonnya tinggi sekali" ucap Raka sambil menarik tanganku.
"Maaassss Raaakaaa" Teriakku melengking yang membuat mas Raka menutup telinganya.
"Kamu kan udah janji mau mengambilkan aku buah kedondong mas, kenapa sekarang mau pulang tanpa mendapatkannya?" kataku penuh penekanan.
Dia mulai menaiki pohon kedondong.Dengan sedikit kesusahan akhirnya sampai juga di atas.
Kelihatannya Dewi Fortuna berpihak kepada Raka.
Tepat diatasnya ada kedondong yang dimakan kelelawar sedikit, warnanya juga kuning.
Setelah mendapatkan kedondong nya Raka pun turun.
"Mas seharusnya nyari buah kedondong nya di pucuk pohon yang atas mas, ini kan kamu masih belum di pucuk paling atas" kataku protes.
Raka menatapku degan tatapan mautnya.
__ADS_1
"Nggak menghargai banget usaha suami, yang penting kan udah dapat kedondong nya,kalau nggak mau buang saja ni buahnya, kalau kamu nyuruh manjat lagi ogah aku, lihat ni" omel Raka dengan menunjuk lehernya yang merah-merah kissmark dari para semut betina.
Dalam sekejap kesal ku hilang melihat buah kedondong yang disodorkan mas Raka.
Mataku pun berbinar, slavina mu pun mengucur.
Aku menyuruh BI Ijah untuk meminjam pisau,aku langsung mengeksekusi kedondong ini ditempat.
Dalam sekejap kedondong pun habis.
"Cuma ada satu, kalau kurang akan aku belikan di supermarket atau aku menyuruh orang untuk manjat buat kamu" Kata Raka seolah tau apa yang aku pikirkan.
Aku yang takut dia marah pun, akhirnya meredam keinginanku.
Sambil memegangi perutku aku berucap
"Ayah cuma ngambil satu saja sayang,kalian bagi bertiga ya"
Mendengar kata kataku membuat semua orang tertawa.
Raka mengeluarkan uang warna merah untuk diberikan pada nenek yang memiliki pohon kedondong tersebut.
"Makasih ya nek ,sudah mengijinkan saya mengambil kedondong nenek." ujar Raka dengan tersenyum.
"Gak usah sungkan nak,hanya sebuah kedondong tak ada artinya" saut nenek dengan tersenyum.
Raka mengambil tangan Sang nenek lalu meletakan beberapa uang warna merah di telapak tangan Sang nenek.
__ADS_1
"Walaupun hanya satu buah kedondong namun sangat berarti nek, tu sekarang udah nggak ngoceh lagi" sindir Raka dengan menatapku.