
Hari hari semakin cepat tak terasa usia kehamilanku sudah memasuki usia lima bulan.
Badan yang semakin membengkak serta perut yang besar membuat diriku seperti bola.
Malam ini aku dan mas Raka diundang salah satu klien nya untuk menghadiri pesta ulang tahun pernikahan peraknya.
Aku yang malu dengan penampilanku enggan untuk ikut namun mas Raka memaksaku untuk mendampinginya.
"Ayolah Mel, kamu nggak kasihan sama aku. Masa iya aku datang sendirian." bujuk Raka dengan ekspresi mengiba.
"Bukannya aku nggak mau mas tapi lihatlah badanku yang bengkak seperti ini" kataku dengan menatapnya berharap dia mengerti.
" Ya sudah Mel, aku nggak datang saja daripada datang sendiri" ujarnya lalu duduk di sofa.
Mau nggak mau akhirnya aku ikut walaupun aku sendiri malu dengan badanku yang seperti bola.
Setibanya di rumah klien mas Raka banyak mata yang tertuju pada kami.
Banyak diantara mereka mengangguk hormat pada mas Raka dan juga padaku.
Mas Raka pun memperkenalkan aku pada klien nya.
"Perkenalkan pak, ini istri saja" ucap Raka dengan tersenyum.
Aku pun mengulurkan tangan pada sepasang suami istri yang berada di depanku.
__ADS_1
Mereka pun menerima uluran tanganku dengan tersenyum
Namun berbeda saat aku mengulurkan tangan pada anak mereka, dia kelihatan sinis dan tidak suka.
"Oh.... Jadi ini istri kamu Raka!" ucapnya sambil memandangiku dari atas ke bawah.
" Iya Ryl, ini istriku namanya Melati" Raka memperkenalkanku pada anak kliennya tersebut.
Setelah selesai memperkenalkan diri mas Raka mengajakku untuk duduk karena tentu aku capek jika lama berdiri.
Karena mas Raka adalah tamu kehormatan jadi mereka meminta mas Raka untuk memberi sambutan.
Waktu begitu cepat berlalu aku yang sudah sangat lelah duduk pun berdiri.
Aku pun berjalan mencari mas Raka, karena tubuhku yang seperti bola membuat aku kesulitan berjalan.
Dari kejauhan aku melihat mas Raka asik mengobrol dengan seorang wanita.
"Keterlaluan kamu mas, untuk apa kamu ngajak aku kalau ujung-ujungnya kamu membiarkan aku sendirian." gerutu ku lalu melangkahkan kaki keluar pesta tersebut.
Air mataku lolos begitu saja, lalu aku memesan taxi online dan pulang.
Setelah pesta usai Raka baru sadar kalau dia mengajakku, keasikan mengobrol dengan klien dan partner bisnisnya membuat dia melupakan aku.
"Melati" gumamnya lalu undur diri.
__ADS_1
Raka mencari ke tempat semula namun aku sudah tidak ada di sana.
Dia pun menghubungi aku namun aku tidak menjawab panggilannya.
"Kamu kemana sih Mel?" gumam Raka dengan panik.
Dia pun keluar tanpa pamit sang pemilik rumah, pikirannya hanya tertuju padaku.
Raka sangat cemas.
Raka memarkirkan mobilnya di basement lalu bergegas naik ke unit apartemennya.
Dia berjalan ke kamar untuk mengecek ku,dalam kamar aku sudah meringkuk dengan memegangi perutku.
"Mel.... Kamu pulang kok nggak bilang, aku sangat cemas" katanya lalu duduk di tepi ranjang di sisi ku.
"Sudahlah mas, laik kali nggak usah ngajak-ngajak lagi kalau aku hanya kamu biarkan duduk.
Kamu kali ini sungguh keterlaluan, kamu sadar apa nggak kalau aku ini hamil besar." seruku dengan menatap wajahnya.
"Maaf Mel," lirihnya dengan menatapku.
"Kalau maaf berguna untuk apa ada hukum" kataku ketus dan membuang wajahku.
"Lama-lama aku males sama kamu mas, aku ini kamu anggap apa? "teriakku dengan air mata yang mengumpul di pelupuk mata.
__ADS_1