
Setelah menyerahkan kedua bayiku pada baby sitter aku pun mulai menyibukkan diri di dapur.
Terlihat Raka mengekori aku, dia pun berdiri di sampingku dengan menghadap arah yang berbeda.
"Mel" panggilnya
Aku yang geram pun marah pada mas Raka
"Apa lagi sih mas, Mal Mel Mal Mel. Pergilah jangan menggangguku!" seruku lalu kembali lagi ke aktivitasku.
"Aku nggak akan menyerah Mel, untuk mendapatkan maaf mu" katanya lalu memelukku dari belakang
"Lepas! kamu mau pisau ini tertancap di perutmu?" bentak ku dan berusaha melepas pelukannya.
"Tikam saja aku, jika itu bisa membuatmu memaafkan aku" ucapnya lirih
Aku menghela nafas lalu meletakkan pisau yang aku bawa.
" Ok fine, up to you!" seruku lalu pergi dari dapur.
Raka terus saja mengekori aku, sungguh aku tidak nyaman dengan sikap Raka.
"Mas Raka! bisakah kamu nggak ngekori aku? lama-lama aku gedeg mas sama kamu" omel ku
"Sebelum kamu memaafkan aku Mel" lirihnya dengan menunduk
__ADS_1
" Ok fine, aku memaafkan mu namun jangan mengekori aku lagi" kataku bersungut lalu masuk kamar dan tidur.
Raka ikut masuk lalu merebahkan dirinya di sampingku. Dia memelukku namun aku melepaskan pelukannya.
"Tidur jangan ganggu aku!" seruku tanpa menoleh ke arahnya
Keesokan harinya saat aku bangun, Raka sudah tidak ada di sampingku.
"Brengsek mas kamu, semalaman membujuk aku minta maaf namun kini sudah berulah lagi" gumam ku lalu melangkahkan kaki ke kamar mandi.
Raka melajukan kendaraannya menuju kantor. Saat di kantor Raka langsung saja menuju ruangannya.
Dia pun berfikir keras sambil termenung, matanya pun basah karena mengingat Roy buah hatinya.
"Maafkan ayah Roy" gumamnya lalu mengusap ujung matanya.
"Gimana pak? bisa berangkat sekarang?" tanya Fajar.
Fajar yang melihat mata Raka basah pun bertanya,
"Ada masalah apa mas? sehingga matamu basah" tanya Fajar
"Roy meninggal Jar, dan saat dia meninggal aku tidak ada di samping mereka" jawab Raka dengan mata semakin basah.
Fajar pun kaget, dia pun ikut sedih.
__ADS_1
"Sabar mas, aku turut berdukacita. Mungkin Tuhan lebih sayang pada Baby Roy sehingga Tuhan mengambilnya kembali mas" ucap Fajar dengan sedih.
"Iya Jar, terima kasih" timpal Raka.
"Namun masalahnya bukan hanya itu saja Jar, Melati minta pisah" ucapnya dengan nanar.
"Kenapa bisa serumit ini mas?" tanya Fajar.
"Andaikan waktu aku tidak mabuk mungkin kejadian malam itu tak akan terjadi" jawab Raka dengan raut wajah yang tidak karu-karuan.
Fajar tau masalah Raka namun dia dilarang Raka untuk memberitahu Melati.
"Sebaiknya mas Raka memberitahu Melati yang sebenarnya mas, supaya tidak ada salah paham diantara kalian" pesan Fajar.
"Iya Jar, andaikan waktu itu aku tidak terprovokasi Rudy mungkin semua ini tidak akan terjadi, walaupun aku marah dengannya karena penampilannya namun bukan bearti aku ingin pisah" kata Raka sendu.
"Dulu mbak Puput dan mas David juga seperti itu mas, memang cinta dalam sebuah rumah tangga itu naik turun, sebab itu aku tidak mau menikah. Aku belum siap harus berumah tangga." timpal Fajar
"Iya Jar, aku dulu menyalahkan David bahkan sempat berniat merebut Puput dari tangannya" imbuh Raka yang membuat Fajar kaget.
"Jadi...." belum sempat Fajar melanjutkan kata-katanya Raka mengelak
"Maksudku mengajak Puput kembali ke Indo, karena kalau di Amerika Bryan menyakitinya tidak akan ada yang menolong"
Mendengar penjelasan Raka membuat Fajar manggut-manggut namun dia tetap tidak percaya.
__ADS_1
Raka yang melihat Fajar manggut-manggut pun lega.