Melati Untuk Sang CEO

Melati Untuk Sang CEO
lahiran


__ADS_3

Raka pun membeli rumah baru untuk Melati, mengingat persalinan Melati sudah sangat dekat.


Raka sudah menyiapkan pindahan tanpa melibatkan Melati sedikit pun.


"Inilah Mel rumah baru kita, dan kita sudah bisa menempatinya hari ini" kata Raka menunjukan rumah baru untuk aku.


"Wah bagus sekali mas, rumah barunya" mataku pun berbinar melihat rumah megah di depanku.


"Kamu suka Mel?" tanya Raka


"Suka mas" jawabku. Aku mengecup mas Raka sebagai tanda terima kasihku.


Kami pun masuk dan melihat-lihat rumah baru kami.


Raka menunjukan dimana letak kamar kami.


"Nanti art nya kesini Mel, biar mereka semua yang bekerja kamu istirahat saja" ujar Raka.


Aku sangat bahagia karena kini aku memiliki suami serta kehidupan yang baik serta kelimpahan finansial.


Mungkin ibu dan bapakku bahagia di sana.


Hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan dan hari ini aku menjalani operasi sesar ku.


Aku sangat takut, saking takutnya aku sampai berbicara ngelantur pada Raka.


"Mas jika terjadi apa-apa denganku rawatlah anak-anak kita dengan baik ya" kataku yang membuat Raka menatapku sendu.

__ADS_1


"Kamu bicara apa sih Mel, pokoknya kamu a


harus bisa, operasi SC beda dengan operasi lainnya nggak sakit kok, jadi kamu nggak perlu takut." Raka menenangkan ku lalu menciumi tanganku.


"Aku sungguh takut mas" kataku dengan menatap mas Raka.


"Hey, Melati.an terjadi apa-apa pada dirimu maupun anak kita. Kamu kan wanita kuat Mel, masa operasi SC saja kamu takut" Raka mencoba menenangkan ku.


Sebenarnya Raka juga khawatir namun tentu dia tidak ingin memperlihatkan ketakutannya di depanku.


"Semoga lancar Mel, kamu dan anak-anak kita selamat." batin Raka lalu mengecup keningku.


Suasana hening menyelimuti kamu berdua, saat asik dengan pikiran kami dokter datang membuyarkan lamunan kami.


"Sudah siap nyonya Melati?" tanya dokter dengan tersenyum.


Dokter pun menyiapkan keperluan operasi ku.


"Tidak bisakah saya menemani istri saya dok?" tanya Raka dengan menatap dokter tersebut.


"Maaf pak Raka, mungkin kalau melahirkan secara normal anda bisa berada di samping istri anda namun ini adalah operasi, kami takut kalau keberadaan anda mengganggu konsentrasi para dokter ataupun sebaliknya." dokter mencoba menjelaskan.


Raka pun paham dengan penjelasan yang disampaikan dokter tersebut.


Dia sebelumnya sudah meminta dokter terbaik untuk menangani ku.


"Terus berdoa ya Mel" bisik Raka lalu keluar ruangan.

__ADS_1


Para suster menyuruhku untuk melepas pakaian, mereka menyelimuti ku dengan kain yang sudah dipersiapkan sebelumnya.


Setelah persiapan operasi selesai para suster memindahkan ku di ruangan operasi.


Raka pun ikut ke ruangan operasi namun hanya sampai depan ruangan.


Lampu operasi menyala menandakan kalau aku sudah di eksekusi.


Detik demi detik berlalu dengan cepat, sudah hampir satu jam namun operasi belum kunjung selesai.


Raka semakin panik, tak henti-hentinya dia berdoa supaya Sang pencipta melindungi ku.


Akhirnya operasi selesai juga, para suster membawa tiga bayi mungil namun ukuran mereka sangat kecil.


Suster pun menunjukan bayi mungil tersebut pada Raka, belum sempat diadzani Suster sudah membawa mereka pergi.


Raka pun lega bercampur cemas pasalnya bayi kamu sangatlah kecil.


Sedang di dalam ruang operasi aku masih di bersihkan.


Setelah bersih aku pun dipindahkan di ruang perawatan.


Raka pun mengekori suster yang membawaku ke ruang perawatan.


Setelah semua selesai para suster pun meninggalkan kami, namun sebelumnya dia berpesan jangan memberi aku minum sebelum aku buang angin.


"Mas aku haus" rengek ku

__ADS_1


"Nggak boleh minum Mel, sampai kamu buang angin." tolak Raka.


Akhirnya aku pun menahan rasa haus ku sampai aku buang angin.


__ADS_2