Melati Untuk Sang CEO

Melati Untuk Sang CEO
Kalut


__ADS_3

Raka pun memberikan kembali uang yang aku berikan.


"Kamu simpan saja Mel,kamu lebih membutuhkan daripada aku"Raka pun menyodorkan uangnya.


"Tidak mas cakep,aku tidak mau membuatmu susah,untuk keperluan kemarin pasti kamu memerlukan uang yang banyak lagipula aku sudah menyisihkan uang untuk keperluanku dan untuk melunasi cicilan sepedaku."kataku lalu meyodorkan uangnya kembali pada Raka.


"Tapi Mel...."belum sempat Raka meneruskan kata katanya,aku sudah menaruh tanganku di bibirnya.


Kami pun saling pandang,ntah kenapa aku sangat gugup lalu melepaskan tanganku.


"Maaf mas cakep"kataku malu.


"Seharusnya kamu menutup mulutku jangan dengan tangan,"kata Raka dengan tersenyum


Aku yang penasaran pun bertanya


"Memangnya dengan apa mas???"


"Dengan bibirmu"ucap Raka singkat.


Aku pun memercingkan mata


"Enak di kamu dong mas"


"Sama sama enak"mas cakep pun tersenyum.


Aku pun juga ikut tersenyum ntah kenapa aku merasa ada yang aneh pada diriku.


"Reka ulang kalau gitu"ucapku yang mendapat tatapan tajam Raka.


"Tadi minta dengan bibir sekarang aku mengiyakan dia menatapku tajam"gerutuku.


Mendengar kata kataku Raka pun tersenyum.


Aku yang tak mau semakin gugup memutuskan untuk pulang,lagipula hari juga semakin larut.


Kami pun pulang dengan pikiran kalut masing masing.

__ADS_1


********


Raka merebahkan dirinya di kasur empuknya,hatinya pun bingung.


"Aaarrrggggg"


"Aku takut Mel,kamu marah padaku jika aku berterus terang,ya Tuhan apa yang harus aku lakukan,kenapa kamu menjebakku dalam situasi sulit ini Mel?perasaan apa ini"gumam Raka lalu mengusap rambutnya kasar.


Disisi lain aku pun sama,aku juga kalut dengan pikiranku.


"Rasa apa ini,kenapa aku tadi gugup sekali,aarrrggggg"aku pun berteriak.


Lelah akan pikiranku yang kemana mana akhirnya aku pun terlelap.


Pagi pun menyapa dengan sinarnya,sinar hangat yang memberikan energi semua mahkluk didunia.


Aku yang bangun kesiangan pun langsung berlari ke kamar mandi dan mengambil wudhu lalu sholat subuh.


Seusai sholat aku pun sarapan dengan minuman sereal,kemudian pergi bekerja.


Semenjak gosip murahanku tersebar,restoran pak Sony cukup ramai,bahkan ada yang protes kenapa aku seorang calon istri Raka Sanjaya masih diperbolehkan bekerja di restoran.


Risih....Memang sangat risih,namun apa daya itu semua akibat ulahku sendiri dan sekarang yang menjadi beban pikiranku adalah Raka Sanjaya.


Di perusahaan Pramana Bryan Grup


Raka sedang serius mempelajari berkas.


"Jar,nanti malam aku akan berangkat ke New York,aku titip perusahaan ya"kata Raka lalu mengakhiri keseriusannya pada berkas berkas.


"Berangkat jam berapa Pak???"tanya Fajar lagi yang sedari duduk berhadapan dengan membawa berkas juga.


"Jam sepuluhan Jar,tolong siapkan jet perusahaan ya???"jawab Raka sekaligus menyuruh Fajar untuk menyiapkan jetnya.


Lalu mereka berdua kembali ke keseriusan masing masing.


Hari pun semakin sore,sudah saatnya untuk back to home.

__ADS_1


Raka meminta Fajar untuk mengantarnya ke taman.


Saat hendak turun,Fajar pun bertanya


"Nanti dijemput apa tidak mas???"


"Nanti aku kabari lagi,oh ya bawa mobilku ke apartemen ya?"jawab Raka lalu turun dari mobil.


Tak lupa Raka membawa uang yang diberikan olehku kemarin.


Setelah sampai di taman Raka menghubungi aku supaya menemuinya di taman.


Tak selang berapa lama aku pun datang.


Aku pun terpesona dengan fashion Raka hari ini,


"Wah wah wah....mas cakep,cakep sekali"pujiku dengan mata yang selalu menatapnya.


"Hari ini aku akan berterus terang Mel,mangkanya aku berpakaian seperti ini."Batin Raka.


Sebelum Raka berterus terang kami ngobrol panjang kali lebar hingga waktu menunjukan pukul Delapan malam.


Tak jauh dari tempat kita mengobrol ada empat pasang mata yang terus memandangi kami.


Tiba tiba saat kami asik mengobrol ada orang yang menodongkan pisau padaku.


"Serahkan uang kalian atau wanita ini aku bunuh".ucap dua orang laki laki tersebut dengan berteriak.


Raka yang panic pun berucap


"Baiklah,aku serahkan uang ini namun jauhkan pisau itu"Raka pun bernegosiasi.


Saat dua orang preman tersebut lengah akupun menghajar mereka habis habisan,dengan dibantu oleh mas cakep.


"Wah Mel,ternyata kamu jago juga bela dirinya."puji Raka yang membuat aku malu.


Karena bercanda,kami tidak tau kalau salah satu preman itu bangun dan menusukan pisau di perut Raka.

__ADS_1


"Masssss......"


__ADS_2