
"Kamu urus Jar,aku masih di jalan kalau bisa jangan sampai bertemu aku dulu"kata Raka dalam sambungan teleponnya.
Fajar pun mengangguk mengerti,lalu mematikan sambungan teleponnya.
"Maaf nona pak Raka masih dalam perjalanan,mari ikut saya"ujar Fajar lalu menuju ruangannya.
Aku pun mengekori Fajar,banyak staf yang mengangguk hormat pada Fajar.
Setelah di ruangannya Fajar menyuruhku untuk duduk.
"Ooo....Jadi dia wakil CEO,masih muda sudah menjadi wakil CEO,beruntunglah istrimu nanti pak cakep"batinku sambil melamun.
Fajar yang melihatku melamun pun tersenyum.
Dia menyerahkan berkas yang harus di tanda tangani,
Setelah tanda tangan,Fajar meminta sertifikat tanahnya padaku.
Setelah semua deal,Fajar memberikan cek padaku.
"Harga sesuai penawaran kami kemarin nona"kata Fajar dengan tersenyum.
"Iya pak cakep"sautku singkat lalu pamit undur diri.
Saat di pelataran kantor mobil mewah baru masuk.
Aku pun menamati mobil tersebut,
__ADS_1
"Bukankah ini mobil yang kemarin mas cakep pakai ya?"batinku dengan pandangan yang terus tertuju pada luxury car tersebut.
Raka yang berada di dalam pun tersenyum,
setelah aku keluar dari kantor baru Raka turun dari mobilnya.
Raka pun menuju ruangan Fajar,
"Jar,segera laksanakan proyek kita jangan di tunda lagi."kata Raka lalu mengambil berkas berkasnya.
********
Setelah proyek dilaksanakan Raka pun sibuk bahkan dia tidak mengangkat telephone dariku.
Aku pun cemas,pikiranku sudah kemana mana.Aku takut hal hal buruk terjadi padanya.
Sudah tiga hari Raka tidak menjawab panggilan dariku,bahkan chat satupun tak ada yang di balasnya.
Karena lagi lagi panggilanku tak dijawab akupun melempar ponselku ke kasur.
"Aku kok kangen ya pada mas cakep itu"batinku
Aku pun mengusap rambutku kasar,bingung apa yang sebenarnya terjadi padaku.
Keesokan harinya,Raka yang sudah agak longgar pun mengecek ponselnya,dia pun tersenyum setelah tau banyak panggilan dariku dan juga chat.
Raka menggunakan dua ponsel,satu untuk urusan karjanya dan satu untuk pribadinya,terkadang memang dia mengabaikan ponsel pribadinya.
__ADS_1
Raka pun menelponku,
disisi lain aku yang hendak tidur melihat siapa yang memanggil setelah tahu mas cakep yang menelpon pun aku segera mengangkatnya.
"Kita bertemu sekarang di tempat biasa"kata Raka singkat lalu menutup panggilannya.
Aku pun segera bersiap,tak lupa aku membawa uangnya.
Aku yang sampai dulu menunggu mas cakep,tak lama kemudian dia datang.
Ntah kenapa saat melihat mas cakep aku langsung saja memeluknya dan menangis.
"Kamu jahat mas,aku tiga hari seperti orang gila memikirkanmu,aku takut kamu kenapa napa,bahkan aku juga takut kamu akan menjual ginjalmu.Hiks hiks hiks"kataku sambil terisak.
Melihatku menangis Raka pun merasa bersalah tapi dia tak mungkin cerita kalau dirinya sibuk dengan proyek barunya.
Akhirnya mau gak mau dia mengarang cerita lagi.
"Maaf Mel,aku harus pulang ke kampung karena keluargaku ada yang sakit dan harus dioperasi untuk itu aku tidak sempat lihat ponsel."kata Raka pura pura sedih.
Mendengar cerita karangan Raka aku pun iba lalu mengeluarkan semua uangku.
"Ini buat mas cakep,untuk membayar sewa mobil,baju,sepatu dan juga jam tangan kalau ada sisa mas cakep bisa pakai untuk pengonatan keluarga mas cakep.
Aku kemarin habis menjual tanahku,karena aku tidak mau menyusahkan mas cakep."kataku lalu menyodorkan uangku pada Raka.
Raka pun bengong,sungguh dia tak habis pikir denganku,bahkan disaat aku sendiri butuh uang,dia malah memberikan uang padanya.
__ADS_1