
"Dok, kelihatannya ada masalah dengan bayi-bayi nyonya Raka" kata suster
Dokter pun mengerutkan alisnya mendapat laporan susternya tersebut. Dokter segera memeriksa keadaan bayi-bayi tersebut.
"Segera lakukan tindakan, kalau tidak mereka tidak dapat tertolong, berat badan yang sangat kecil membuat mereka menghadapi masalah." titah dokter
Dokter dan suster pun melakukan tindakan medis pada ketiga bayi tersebut.
Raka yang ingin melihat bayinya pun harus mendapat berita yang mengejutkan dari dokter.
"Ya Allah selamatkan bayi-bayi hamba" doa Raka dengan raut wajah cemas.
Fajar setia menemani Raka,
"Nggak akan terjadi apa-apa mas, mas Raka dan Melati adalah orang yang kuat pasti bayi-bayi kalian akan bertahan." hibur Fajar.
"Iya Jar, semoga mereka semua selamat" sahut Raka.
Raka dan Fajar pun kembali ke ruang perawatan, aku yang melihat raut wajah mas Raka maupun mas Fajar berubah pun bertanya.
"Ada masalah apa mas?" tanyaku
"Tidak ada apa-apa Mel, ada masalah di kantor namun sudah aku atasi" Raka membohongiku karena tidak ingin aku cemas.
"Oh ya mas, mana anak kita kenapa tidak dibawa kesini? aku ingin melihat mereka."tanyaku dengan menatap Raka dan Fajar.
__ADS_1
"Mereka masih menjalani perawatan Mel, mereka kan kembar tiga tentu berbeda dengan bayi-bayi pada umumnya sehingga butuh perawatan yang ekstra." jawab Raka
"Oh ya, dokter berpesan kamu belajar miring ke kanan dan ke kiri ya, supaya cepat pulih." imbuhnya.
"Mas, sumpah sakit banget aku nggak sanggup kalau disuruh miring-miring" kataku dengan menahan sakit.
Raka pun memegang tanganku, mencoba memberi
kekuatan padaku.
"Sabar ya Mel, aku akan selalu disini untukmu" katanya.
"Iya mas" sahutku singkat.
"Siap mas" sahut Fajar.
Selama di rumah sakit mas Raka merawat ku dengan baik, walaupun terkadang mas Raka memang menyebalkan namun dia selalu perhatian lewat tindakannya.
Tiga hari pun berlalu aku sudah diperbolehkan untuk pulang. Aku juga sudah bisa duduk sendiri walaupun sakit banget.
"Mas aku takut, rasanya sakit sekali" rengek ku
Awalnya mau di dorong dengan kursi roda namun karena takut sakit, aku pun enggan.
Raka juga nggak kehilangan akal, dia pun menggendongku.
__ADS_1
"Nggak sakit kan?" tanyanya
"Sakit mas, tapi nyaman" jawabku sambil terkekeh
Kurang dari setengah jam kami sudah sampai di rumah, para art menyambut kami dengan berdiri di depan.
Dengan hati-hati mas Raka menidurkan ku di kasur, lalu dia meminta art untuk menyiapkan susu, makanan, buah dan lain-lain.
"Persiapkan Asi mu Mel, supaya nanti kalau anak kita sudah boleh pulang, sudah ready asi nya" kata Raka dengan tersenyum.
"Iya mas" sahutku
"Kira-kira ASI-nya cukup nggak untuk bertiga?" tanya Raka
"Kelihatannya nggak deh mas, apalagi anak kita laku-laki semua pasti minumnya pasti banyak" jawabku
"Nanti aku akan menyuruh art untuk membeli susu formula yang terbaik buat bayi kita" timpal Raka
"Jadi aku harus ngalah nih buat mereka, bagaimana jika bayi-bayi kita susu formula saja ASI-nya buat aku Mel" imbuh Raka dengan tersenyum.
"Ooo.... Bapak durhaka, makanan anaknya diembat juga" sahutku kesal
"Iya-iya Mel, kan bercanda" timpal Raka.
Raka pamit untuk kembali ke ruang kerjanya, karena ada berkas yang harus diselesaikan. BI Ijah disuruhnya untuk menemaniku.
__ADS_1