Melati Untuk Sang CEO

Melati Untuk Sang CEO
Merusak kebahagiaanku


__ADS_3

"Ini berapa bu?"tanyaku pada penjual kaos di pasar sukowati.


"Dua ratus ribu mba"jawabnya.


"Whaatttt,dua ratus ribu,dulu waktu SMA aku beli cuma sepuluh ribu"batinku dengan menatap sinis penjual kaos tersebut.


"Gak bisa kurang ta bu?masa iya kaos seperti ini harganya dua ratus ribu"aku mulai menawar.


Sang pedagang pun tersenyum,itu harga pas mba"katanya dengan membuka bungkus kaos lalu melebarkan kaosnya.


"Ya sudah kalau tidak boleh kurang" kataku lalu menarik tangan mas Raka.


"Ya sudah mba,bolehlah bolehlah"pedagang tersebut pun berubah pikiran.


Aku dan mas Raka pun membalikan badan.


"Berapa bu?tanyaku.


"seratus sembilan puluh lima ribu mba"jawwbnya.


Aku pun geram,kelihatannya pedagang ini ngajak berantem,masa nurunin harga cuma lima ribu.


Raka yang capek mendengar perdebatan yang tidak bermutu pun menghela nafas.


"Saya beli sepuluh bu,harga normal saja dua ratus ribu biar enak ngitungnya"kata Raka ynag membuat pedagang tersebut berbinar.


Beliau segera membungkus sepuluh kaos bertuliskan Bali dan dia pun mengasih satu kaos secara percuma.


Aku pun menginjak kaki mas Raka,bodohnya tujuh turunan.


Padahal kalau di tawar terus harganya bisa lima puluh ribu.

__ADS_1


Setelah mendapatkan kaosnya kami pun melangkahkan kaki keluar dari toko ibu ibu tersebut.


"Lebih baik kamu diam mas,biar aku belanja ala aku sendiri bukan ala sultan seperti kamu."omelku karena geram dengan mas Raka.


Raka hanya menghelas nafas lalu mengikuti kemana aku pergi.


Kali ini aku ingin membeli celana pendek motif bunga.


Yang berjualan cukup keren juga,bahkan dia curi curi pandang.


"Mas bisa dinkondisikan matanya,dia istri saya"Raka pun geram dengan penjualnya.


"Cie....Tak ku sangka mas Raka posesif juga"batinku kegirangan.Seandainya aku sendiri,aku ingin berjoged ala ala film bollywood.


Aku memilih milih celana lalu pilihanku jatih pada motif bunga warna putih.


"Berapa harganya mas??"tanyaku dengan menatapnya.


Beberapa saat kemudian dia kembali.


Dia menyodorkan kacamata warna hitam padaku.


"Pakai Mel,biar cakep"katanya.


Tentu tanda tanya besar,kenapa dia menyuruhku memakai kacamata hitam.


Aku pun memakainya,


"Celananya 250 ribu mba"jawab mas mas yang menjual celananya.


Raka langsung membuka dompetnya lalu mengeluarkan uang lima ratus ribu.

__ADS_1


"Ini mas,bungkus dua untuk istri saya warna yang dipilihnya dan warna hitam"katanya dengan ekspresi kesal.


"Masss Rakaaa"teriakku dalam hati.


"Sungguh tak mengasikan belanja denganmu mas"Imbuhku dalam hati.


"Belanjanya sudah,tunaiku sudah habis"katanya lalu mengajakku keluar pasar.


Aku semakin memajukan bibirku,


"Mel kondisikan bibirmu atau aku melahapnya di sini"ancam Raka.


"Dia kok jadi suka ngancam sih"batinku.


Seolah tahu apa yang aku pikirkan dia pun menimpali


"Sudah jangan merutukiku dalam hati,menurut saja sama suami"ujarnya.


"Sok tau" ucapku ketuk.


"Perusak kebahagiaanku,padahal jiwa belanjaku meronta ronta,apalagi bisa saling tawar menawar."imbuhku.


Kami pun masuk mobil lalu melanjutkan perjalanan kami.


"Pak istri saya ingin belanja,tolong carikan tempat belanja namun sebelumnya cari atm dulu."Raka pun memberi perintah pada sopirnya.


"Aku gak mau belanja di mall"sautku dengan kesal.


"Bagaimana kalau kita belanja di Joger atau Khirsna tuan?"Pak sopir memberi ide.


"Iya pak,ayo kita kesana"sautku lagi dengan berbinar.

__ADS_1


Melihatku berbinar Raka pun tersenyum.


__ADS_2