Melati Untuk Sang CEO

Melati Untuk Sang CEO
Raka pun tau


__ADS_3

"Kenapa sih mas kamu menyuruh mas Rangga untuk bergabung???"tentu kata kata itu aku ucapkan di hati.


Wajahku pun pucat,ingin sekali aku mengajak mas Raka pulang.


"Mas aku ke toilet dulu ya,maaf pak Rangga saya tinggal dulu"pamitku kepada dua CEO di depanku yang lebih tepatnya suami dan mantanku.


Ku langkahkan kaki menuju toilet.


Ku basuh mukaku untuk mendinginkan otakku yang panas,aku pun sangat was was,tentu aku tak mau kalau mas Raka tau jika mas Rangga adalah mantanku.


Tapi kalau mas Rangga selalu hadir di manapun kami pergi,mas Raka akan tau juga.


Aku bersandar di dinding memikirkan semuanya,namun tiba tiba sebuah tangan mengagetkanku.


"Mel??aku mohon Mel kembalilah padaku,aku akan memberikan apa yang tidak Raka berikan padamu"katanya yang ikut menyandarkan kepalanya di dinding.


Aku pun menghela nafas panjang,


"Mas hubungan kita telah berakhir,terimalah takdir cinta kita mas??kita memang tidak berjodoh."kataku pelan lalu mengelus pundak mas Rangga.


Raka pun menatapku dengan tajam dengan tangan yang mengangkat daguku.


"Kamu bisa bicara begitu karena kamu memiliki Raka,pernahkan kamu berfikir akan diriku Mel???"kata Rangga dengan sedikit tinggi.


"Lalu aku harus bagaimana?takdir cinta kita sudah tertulis bahkan kita tidak berjodoh,kenapa kamu selalu memaksa?kamu tampan,kaya dan kamu memiliki kesempurnaan yang lain,kenapa kamu tak mencoba mencari wanita lain mas dan lupakan aku."kataku tak kalah tinggi.


Rangga pun memukul dinding dengan tanganya.


Aku yang tak tega mencoba menghentikannya.


"Kalau kamu tetap seperti ini,aku tak mau berteman denganmu"ancamku yang membuat Rangga terdiam.


Ternyata Raka menyusulku karena khawatir lama tak kembali.


Dia pun mendengar semua pembicaraanku dengan mas Rangga.


"Kenapa kamu tidak berterus terang Mel,kalau Rangga adalah mantan kekasihmu."batin Raka dengan mengepalkan tangannya.


Sebelum kembali Raka sudah kembali ke meja terlebih dahulu.

__ADS_1


Dia pun duduk kembali,bahkan hatinya sangat kacau.


Namun bukan Raka namanya jika tidak santai dalam menanggapi semua masalahnya.


Aku pun kembali lalu duduk di samping mas Raka dengan tersenyum.


Tak selang lama Rangga juga kembali.


"Maaf pak Raka menunggu lama"katanya dengan sopan


"Tidak apa apa pak Rangga bahkan kalau kamu seharian di toilet juga tidak jadi masalah"timpal Raka yang membuat Rangga tertawa.


Raka memesan makanan lagi,ntah apa yang ada dipikirannya bahkan kami semua sudah kenyang namun dia malah memesan makanan lagi.


"Kita makan lagi ya,karena berpura pura butuh tenaga yang banyak,terutama kamu Mel,kamu butuh tenaga lebih untuk menjalani peranmu sebagai istriku tercinta"kata Raka dengan tersenyum.


Aku hanya diam akan kata kata ambigu yang mas Raka ucapkan.


Setelah makanan datang, Raka pun menyuapiku


bahkan berkali kali mencium pucuk kepalaku yang tentu membuat Rangga kebakaran jenggot.


"Iya kan Mel,kamu juga tidak akan meninggalkan aku kan?apapun yang terjadi kamu akan selalu di sisiku kan Mel?"imbuhnya dengan wajah yang sulit diartikan.


Aku pun memeluk mas Raka tak peduli dengan mas Rangga ataupun pengunjung restoran lain.


"Aku akan selalu di sisimu mas,sampai maut memisahkan kita"kataku yang bisa di dengar Rangga.


"Lihatlah Rangga kamu jadi saksi Melati berjanji padaku,bahwa dia tidak akan meninggalkanku"kata Raka dengan tersenyum sinis.


Rangga hanya bisa mengepalkan tangannya,geram melihat sikap Raka.


"Aku tak akan memberikannya padamu,aku akan mempertahankan milikku Rangga,mungkin dia adalah masa lalumu namun dia masa sekarang dan masa depanku."batin Raka dengan lengkungan yang tergambar jelas di bibirnya.


Karena tak kuat melihat kemesraan kami Rangga pun pamit pulang dengan alasan sudah malam.


"Kenapa cepat cepat sekali Rangga,padahal makanannya belum habis.


Kamu butuh banyak energi lo"ucap Raka yang semakin Rangga emosi namun dia masih bisa menahannya.

__ADS_1


"Tidak pak Raka terima kasih,saya harus kembali segera,makasih atas jamuannya dan silahkan lanjutkan makan kalian.Saya permisi"pamit Rangga lalu berlalu dengan tangan yang mengepal.


Raka pun mengembalikan pandangannya kepadaku.


"Habiskan Mel,tanggung jawab"suruh Raka.


"Kamu apa apaan mas,kamu yang pesan kenapa aku yang di suruh tanggung jawab"gerutuku.


Raka hanya tersenyum.


Lalu aku pun meminta pelayan untuk membungkus makanan tersebut.


"Udah biarin saja kenapa harus di bungkus"ujar Raka geram.


Aku tak menghubris kata katanya,setelah di bungkus kami pun pulang.


Sepanjang perjalanan mataku clingukan mencari sesuatu.


"Stop mas"teriakku yang membuat Raka memberhentikan kendaraanya dengan tiba tiba.


"Untung di belakang gak ada kendaraan,kebiasaan kamu tu,memangnya ada apa sih kok berhenti tiba tiba"gerutu Raka.


Aku tak menggubris gerutuan Raka.


Aku pun keluar dan Raka pun mengikutiku.


Aku melihat kakek kakeh yang sedang istirahat dengan duduk meringkuk di becaknya.


"Kek,kakek udah makan belum??saya punya sedikit makanan untuk kakek."kataku sopan.


Kakek tersebut pun berbinar dan berterima kasih padaku.


Aku juga memberinya beberapa lembar uang warna merah.


Setelah itu aku pamit.


Raka memandangku nanar


"Sungguh mulia hatimu Mel,aku tak akan membiarkan Rangga merebutmu"batin Raka lalu masuk mobil.

__ADS_1


__ADS_2