
"Sudah Mel, kalau mas Raka tau aku pasti dipecat karena memelukmu" kata mas Fajar yang spontan membuatku melepaskan pelukanku.
"Maaf mas" sahutku dengan menunduk
Hingga sore hari mas Raka belum juga sadar, aku pun menyuruh doker untuk memeriksanya.
Setelah dokter keluar aku pun bertanya
"Bagaimana dok keadaan suami saya" tanyaku
"Sama nyonya, pak Raka masih kritis bahkan keadaannya kini semakin lemah." jawab dokter.
mendengar kata-kata dokter membuatku menangis lagi, dengan langkah gontai aku mendekati mas Raka yang masih berbaring lemah.
"Mas, belum puas tidurnya?" kataku dengan menggenggam tangan mas Raka yang tertutup perban.
Fajar pun mendekat,
"Mel? menurut keterangan para saksi mas Raka mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi apakah ada masalah sebelumnya?" tanya Fajar.
Otakku pun kembali ke tadi pagi, dimana memang aku dan mas Raka sempat cek cok.
__ADS_1
"Iya mas, tadi pagi aku sempat cek cok dengan mas Raka, aku memintanya untuk menceraikan aku" jawabku sendu
Namun aku tak menginginkan hal ini mas, memang aku ingin pisah namun bukan perpisahan seperti ini yang aku inginkan?" imbuh ku lagi dengan air mata yang lolos begitu saja.
Fajar pun serba bingung, dia tidak ingin masuk urusan yang bukan ranah nya namun dia juga nggak mau melihat Raka dan Melati berpisah.
"Apa yang harus aku lakukan ya Tuhan?" batinnya dengan wajah yang tak karu-karuan.
"Oh ya mas, apa mas Fajar tau sesuatu yang disembunyikan mas Raka?" tanyaku dengan menyelidik
"Yang aku tau akhir-akhir ini mas Raka banyak masalah, pekerjaannya pun kacau." jawab Fajar namun belum memuaskan aku
"Apa mas Raka memiliki wanita lain mas?" tanyaku lagi
"Kalau hal itu kamu bisa tanya mas Raka langsung Mel, aku hanya sebatas tau saja" jawab Fajar bias
"Tapi memang mas Raka memiliki wanita kan?" tanyaku lagi dengan penuh penekanan
Fajar pun menghela nafas, dia sungguh bingung harus menjawab yang bagaimana lagi.
"Mel, kan aku sudah bilang kamu tanyakan langsung pada mas Raka lalu dia sudah sembuh. intinya mas Raka amat sangat mencintai kalian" jawab Fajar yang semakin membuatku bingung.
__ADS_1
Aku pun hendak bertanya lebih lanjut namun Fajar menyilangkan telunjuknya di bibirku, mengkode untuk tidak bertanya lebih lagi padanya.
"Sudah ya Mel, lebih baik kita berdoa untuk kesembuhan mas Raka Mel" kata Fajar.
Aku pun bertanya-tanya, melihat cara mas Fajar menjawab pertanyaan ku membuatku yakin kalau memang mas Raka punya simpanan.
"Tega kamu mas" batinku dengan air mata yang terjun lagi.
Perasaanku diaduk-aduk oleh mas Raka, disisi lain aku sangat sedih dan bahkan tak sanggup bila terjadi apa-apa dengannya namun disisi lainnya lagi aku sangat sakit hati karena mas Raka telah mencurangi aku.
"Ya Rabb, tolonglah hamba mu ini" gumam ku dengan menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.
"Aku harus bagaimana mas?" tanyaku tanpa melihat Fajar.
Melihatku yang begitu rapuh membuat Fajar memelukku lagi, seraya berkata
"Sudah Mel, sudah jangan seperti ini. Lihatlah mas Raka akan bersedih jika kamu seperti ini" bujuk Fajar dengan mengusap air mataku.
Saat aku mengeringkan air mataku tiba-tiba ada seorang wanita masuk bersama dengan orang tuanya.
"Apa yang terjadi denganmu hubby???"
__ADS_1
Deg
jantungku seakan berhenti, mata yang kering kini basah kembali.