
Pagi sekali mas Raka sudah bangun, dia menyiapkan sendiri baju kerjanya.
"Mel, aku harus berangkat pagi. Oh ya belanja lah di mall, belilah baju sesuai ukuran mu" katanya lalu pergi keluar.
Aku merasa tersindir dengan perkataan mas Raka, aku pun melihat pantulan tubuhku di cermin.
Memang benar tubuhku memang melar sekali.
"Bagaimana kalau aku diet ya" gumam ku
Aku pun keluar menuju kamar tiga bayi mungilku, yaitu Ray, Rey dan Roy
kami menyingkatnya 3 R.
Seusai menemani 3 R aku meminta pak sopir untuk mengantarku belanja.
Setelah sampai di mall aku memilih-milih baju yang besar.
Setelah mendapat bajuku, aku pun pulang.
*******
Hari semakin larut namun mas Raka tak kunjung pulang, berkali-kali aku menelponnya namun selalu tak diangkat.
"Nggak biasanya mas Raka seperti ini, kamu dimana sih mas" gumam ku khawatir dengan mas Raka.
__ADS_1
Aku menunggunya hingga pukul sebelas malam namun dia tak kunjung pulang. Akhirnya mataku menyerah, dia memilih terpejam daripada terjaga menunggu Raka.
Tepat pukul dua Raka baru pulang, tentu aku yang mendengar pintu terbuka dan tertutup pun membuka mataku.
"Kamu kok baru pulang sih mas?" tanyaku
"Iya banyak pekerjaan" jawabnya singkat lalu dia merebahkan diri dan langsung saja terpejam.
Aku merasa mas Raka berubah, sikapnya padaku sedikit dingin. Tentu hal ini membuat aku sedih, pikiranku traveling kemana-mana.
Dengan kecewa aku kembali merebahkan diriku lalu berusaha memejamkan mata, namun berkali-kali gagal karena pikiranku masih melayang ke Raka.
Ku pandangi wajahnya lekat dan aku pun mengusap pipinya namun mas Raka malah membalikan badannya.
Ntah kenapa hatiku terasa perih atas sikapnya namun aku mencoba mengalihkannya.
Karena aku subuh baru tidur sehingga tidak tau kalau mas Raka sudah berangkat dan lagi-lagi dia tidak membangunkan aku.
Tepat pukul sembilan aku baru bangun, aku cari mas Raka namun tidak menemukan keberadaanya di kamar.
Aku pun keluar kamar dan bertanya pada art, mereka bilang kalau Raka berangkat pagi sekali.
Hal ini terus berlaku hingga tak terasa sudah hampir sebulan mas Raka bersikap seperti ini padaku.
Bersikap dingin dan tak mau peduli.
__ADS_1
Aku yang kehilangan stok sabar ku mencoba bertanya padanya namun selalu saja berakhir dengan perang mulut diantara kami.
"Aku lelah mas" gumam ku dengan air mata yang mengucur.
Dua bulan pun berlalu, kini tubuhku kurus kembali namun tidak seperti sebelumnya, kurus kali ini lebih kering. Karena sikap Raka aku tidak merawat diri, aku lebih sering melamun.
Suatu hari anak kami yang bernama Roy sakit, demamnya tinggi sekali, baby sitter yang mengurusnya pun membangunkan ku.
"Nyonya, nyonya" panggilnya sambil menggedor-gedor pintu.
Aku yang masih terjaga langsung membuka pintu.
"Ada apa?" tanyaku
"Baby Roy demam nyonya" jawabku.
Aku pun langsung berlari menuju kamar bayiku yang bernama Roy, ku cek dahinya dan memang demamnya tinggi sekali.
Aku pun langsung membawa Roy ke rumah sakit, dokter langsung menangani Roy anak kami.
Kuambil ponselku dan menghubungi Raka namun tidak diangkat bahkan dia mereject panggilanku.
Aku pun mengirim pesan padanya
"Roy sakit mas, kamu dimana?" isi pesanku.
__ADS_1
Jangankan di balas, dibuka pun tidak.
Akhirnya aku dan baby sitter ku menunggu Roy diperiksa oleh dokter.