Melati Untuk Sang CEO

Melati Untuk Sang CEO
Ngidam yang unik


__ADS_3

Jam makan siang,Raka menyempatkan pulang untuk mengantarku ke rumah sakit.


Menurut hasil pemeriksaan,apa yang aku alami adalah normal bagi ibu hamil muda.


Namun memang agak lebih parah morning sickness nya mengingat aku kembar tiga.


Dokter meminta Raka untuk selalu sabar dan perhatian padaku,karena pasti saat trimester pertama agak rewel.


Setelah menebus obat,kami mampir dulu di restoran untuk makan.


"Kamu mau makan apa Mel?" tanya mas Raka dengan menatapku.


"Aku ingin makan bubur sumsum mas,namun yang ada bola bola ketannya ya?" jawabku yang membuat Raka sedikit bingung, pasalnya siang-siang begini mana ada yang jualan bubur.


Kami pun muter-muter mencari penjual bubur dan akhirnya ketemu juga.


"Mas aku pesan tiga mangkok ya" pintaku pada mas Raka.


Raka mengangkat ibu jarinya,


Setelah melihat bubur dihidangkan di meja,tiga katak diperut ku meronta-ronta minta diisi.


Tanpa menunggu mas Raka, aku langsung melahap bubur ku.

__ADS_1


Melihat aku makan dengan lahap membuat Raka melengkungkan senyuman.


Seusai makan mas Raka mengantarku lalu dia kembali ke kantor.


"Hati-hati di rumah ya Mel,aku kembali dulu." pamit Raka lalu mengelus perutku


"Ayah kerja dulu ya" dia berbisik pada calon bayinya.


Melihatnya seperti ini membuat aku terharu.


"Iya ayah,kami akan baik-baik di perut bunda" aku menjawab bisikan mas Raka seolah aku mereka.


Aku menatap punggung mas Raka sampai hilang di balik pintu,kemudian aku berbaring di kasur sambil melihat TV, sekilas aku melihat buah kedondong yang masih di bergelantung di pohonnya.


"Wah, kelihatannya enak sekali kedondong itu apalagi yang udah Mateng terus sisanya kelelawar. Gak kebayang apalagi mas Raka yang mengambilnya." gumamku dengan menelan slavina yang terus keluar karena membayangkan makan buah kedondong.


Di kantor karena sudah tidak ada yang dikerjakan,Raka pulang cepat.


Dia sudah tidak sabar bertemu dengan tiga calon bayinya.


Setelah sampai di rumah


"Mas aku pengen makan kedondong" kataku dengan bergelayut di lengan mas Raka.

__ADS_1


BI Ijah yang melihat kami pun tersenyum, beliau turut bahagia jika aku dan mas Raka bahagia.


"Ayo kita beli kedondong nya" ujar Raka lalu menarik tanganku, dia akan membeli kedondong.


"Bukan itu mas, aku maunya kamu sendiri yang manjat pohon kedondong nya, aku pengen yang matang,yang warnanya kuning atau oranye,terus carikan yang udah dimakan kelelawar, carinya di pohon paling atas." Kataku panjang kali lebar.


Raka hanya melongo, pasalnya dia tidak percaya dengan apa yang aku inginkan.


BI Ijah yang mendengarnya pun tertawa.


"Mel itu ngidam apa ngerjain aku, mana ada sih ngidam seperti itu. "Raka menatapku nanar supaya aku berubah pikiran.


"Nggak ngerjain mas, aku memang pengen banget mas, turutin ya!! kamu nggak inginkan Anak kita ileran. Kamu mau mas di bilang orang nggak sayang sama anak." aku mencoba memprovokasi Raka.


"Siapa juga yang peduli omongan orang Mel, bukannya gak mau nurutin namun ngidam kamu yang unik, menyiksa aku."batin Raka dengan menatapku.


Tau kalau mas Raka keberatan pun membuatku mengiba dengan meletakan tanganku di dada


"Please mas,please"


Raka juga menatapku


'Kamu tega Mel, kenapa bisa ngidam unik seperti itu, ini namanya penyiksaan pada suami." Katanya yang membuatku tertawa.

__ADS_1


BI Ijah yang mendengar obrolan kami pun tertawa.


"Baru tau aku ngidam yang unik seperti ini, yang sabar ya tuan" batin BI Ijah lalu melanjutkan pekerjaannya.


__ADS_2