
Hubunganku dengan mas Raka semakin hari semakin harmonis.Begitu pula dengan Bunga dan juga mas Rangga,kelihatannya mereka semakin dekat saja.
Sebenarnya minggu ini jadwalnya ke Amerika namun kerena suatu hal akhirnya ditunda.
Raka yang merasa tak enak pun meminta maaf padaku.
"Maafkan aku Mel,karena ingkar janji padamu."kata mas Raka dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
"Tidak apa apa mas,kan kita bisa pergi lain waktu"ujarku dengan tersenyum.
Bagiku tak jadi ke Amerika bukan masalah.Hanya saja mas Raka merasa bersalah padaku.
Hari semakin cepat berlalu bahkan usia pernikahan kami sudah berjalan tiga bulan.
Dan kini aku mulai cemas pasalnya aku belum hamil.
"Kenapa aku belum hamil juga ya??ini yang tidak tok cer mas Raka atau aku sih"gumamku dengan memandangi diri di cermin.
"Kalau sampai aku yang tak tok cer gimana??apa mas Raka bisa menerimaku??kalau mas Raka menikah lagi gimana???"gumamku dengan takut sendiri.
*********
Matahari sudah di ufuk barat yang menandakan akan kembali ke persembunyiannya.
Raka pun sudah pulang dari kantor.
__ADS_1
"Hallo cintaku,manisku,sayangku,bunga Melatiku dan lain lain"sapanya dengan terkekeh.
Niatnya ingin romantis namun malah menjadi lelucon.
Aku pun tertawa mendengar sapaannya.
"Halo juga pangeranku yang paling tampan dan baik sedunia tapi jika yang lain gak ada"aku pun membalas sapaan mas Raka dengan terkekeh.
Mas Raka pun tersenyum dan semakin melukku.
"Nanti malam makan di luar yuk Mel??"ajaknya dengan tersenyum.
"Ayok mas,trus kita jalan jalan ya?"kataku dengan terkekeh.
"Siap boz"timpal Raka dengan terkekeh.
*******
Dengan bergandengan tangan kami menuju mobil untuk pergi ke Restoran.
"Mas"panggilku membuka pembicaraan.
"Hem"saut mas Raka,dia fokus dengan pandangannya.
"Mas,aku kok belum hamil ya mas"kataku yang sedikit mengejutkan Raka.
__ADS_1
"Bagaimana bisa hamil Mel,la aku suntik hormon"batin Raka dengan tersenyum.
"Kok malah senyum sih mas"protesku dengan menatap mas Raka.
"Mel....Sudahlah,mungkin yang diatas belum mempercayai kita untuk mempunyai anak,mungkin yang di atas memberi kesempatan kita untuk bersenang senang dulu."kata Raka mencoba menenangkanku.
Apa yang dikatakan ada benarnya juga,mungkun Tuhan belum mempercayaiku untuk menjadi seorang ibu.
"Tapi aku takut saja mas,kalo aku gak tok cer bagaimana??"tanyaku yang sontak membuat Raka tertawa.
"Mel,Mel apanya yang gak tok cer,kamu ada ada saja"jawab Raka sambil geleng geleng kepala.
"Aku serius mas,aku takut kamu menikah lagi atau meninggalkanku kalau aku gak tok cer"kataku yang lagi lagi membuat Raka tertawa.
"Aku bukan pria brengsek seperti itu,pernikahan adalah hal yang sakral mana mungkin aku melanggar sumpahku sendiri"kata Raka lalu menatapku.
"Kebanyakan laki laki itu gitu mas,ketika pasangannya tidak bisa memberi keturunan dia akan menikah lagi"kataku dengan cemberut.
"Sok tau kamu Mel,jangan memukul rata,gak semua lelaki brengsek seperti itu"timpal Raka.
"Janji ya mas,kalau kamu akan selalu setia"aku pun memberikan jari kelingkingku.
"Janji"jawabnya lalu menautkan kelingkingku dengan kelingkingnya.
Aku pun lega mendengar jawaban mas Raka,semoga dia tidak pernah mendua hingga maut memisahkan.
__ADS_1
Akhirnya kami pun sampai di sebuah restoran mewah.